JAKARTA I GlobalEnergi.co – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memangkas kuota produksi nikel dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, RKAB yang disetujui pada tahun ini antara 260 juta hingga 270 juta ton bijih nikel. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuota produksi yang disetujui dalam RKAB 2025, yakni 379 juta ton.
“Nikel [RKAB] sudah kami umumkan hari ini, 260 [juta] sampai 270 [juta] lah, in between range-nya itu,” ucap Tri di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta Selatan, Selasa (10/2/2026).
Rencana pemangkasan produksi nikel telah diumumkan sejak akhir 2025. Adapun, angka produksi nikel tahun ini yang resmi disetujui memang tak jauh dari estimasi awal Kementerian ESDM.
Asal tahu saja, angka ini tidak berbeda jauh dengan rekomendasi RKAB dari Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) yang sebesar 250 juta ton.
Sebelumnya, Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey menyebut pemangkasan ini diperlukan untuk mengontrol harga nikel global.
“Iya, ini rencana. Dalam, tahun depan (2026) produksi 250 (metrik ton), pemerintah gitu (rencana). Kalau dibandingkan produksi 379 (metrik) tahun ini,” kata Meidy saat ditemui di Jakarta, Senin (29/12/2025).
Menurutnya, dengan pemotongan RKAB artinya akan ada pengendalian produksi yang diharapkan akan mendorong harga nikel di atas rata-rata sekarang.
Di sisi lain, Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, menyebut pemangkasan ini akan berpengaruh pada kinerja smelter nikel ke depannya yang berakibat pada peningkatan impor.
“Karena kekurangan umpan, smelter terpaksa mengimpor bijih nikel dari Filipina,” ujar Djoko kepada Kontan, Minggu (8/2/2026).
Menurutnya, rencana pembatasan RKAB ke depan juga berpotensi menimbulkan dampak sistemik, mulai dari tekanan pada keberlanjutan operasional smelter hingga dampak ekonomi bagi tenaga kerja dan masyarakat di sekitar tambang.
Di sisi lain, opsi impor juga memiliki keterbatasan karena pasokan global terbatas dan harga bijih dari negara lain seperti Kaledonia Baru, Rusia, Australia, atau Kanada yang relatif lebih mahal.jef,ktn





