Bagaimana dengan Listrik Daerah Terpencil

oleh -229 views
oleh

Indonesia bersama Singapura sudah meneken kesepakatan untuk melaksanakan ekspor listrik ke Singapura. Ekspor Listrik bersih atau energi baru terbarukan tersebut dengan kapasitas sebesar 3,4 gigawatt (GW) hingga 2035. Apakah kita sudah berlebihan tenaga listrik, Sehingga negara ini mengekspornya? Sebenarnya tidak juga. Karena, hingga saat ini ribuan desa terpencil masih belum mendapatkan aliran listrik. Ini haris mendapat perhatian pemerintah. Di sisi lain, ekspor juga penting, karena mendatangkan devisa.

Seperti diketahui, untuk ekspor listrik tersebut RI-Singapura menyiapkan investasi mencapai lebih dari 10 miliar dollar AS atau setara Rp 162,67 triliun (asumsi kurs Rp 16.267 per dollar AS) untuk membangun rantai pasok panel surya, mematenkan teknologi penangkapan karbon (carbon capture and storage/CCS) dan merintis kawasan industri hijau itu.

Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi, Sains & Teknologi di Kementerian Perdagangan dan Industri Tan See Leng di Kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (13/6/2025).

Lalu bagaimana dengan ribuan desa yang belum mendapatkan aliran listrik tersebut? Berdasarkan data yang ada, hingga akhir tahun 2024, masih terdapat 780.000 rumah tangga di Indonesia yang belum teraliri listrik. Selain itu, masih ada sekitar 6.700 desa yang belum mendapatkan akses listrik.

Kementerian ESDM menyebutkan sekitar 780.000 rumah tangga masih belum mendapatkan akses listrik. Beberapa desa yang belum teraliri listrik berada di daerah terpencil atau sulit dijangkau.

Memang, pemerintah melalui program Listrik Desa (Lisdes) berupaya untuk memenuhi kebutuhan listrik di desa-desa tersebut. Termasuk dengan membangun pembangkit listrik dan menyambungkan listrik ke rumah tangga.

Presiden RI Prabowo Subianto sendiri mengungkapkan, masih terdapat ribuan dusun di Indonesia yang belum teraliri listrik. Untuk itu, butuh sekitar Rp 48 triliun untuk menuntaskan kebutuhan listrik dari ribuan dusun tersebut.

“Ada berapa ribu dusun yang belum sampai listrik dan dilaporkan kita butuh RP 48 triliun untuk mencapai itu semua. Kalau Rp 48 triliun dibagi Rp 5 triliun berapa itu? Rp 9 triliun rasa-rasanya 5 tahun kita bisa selesaikan itu. rasa-rasanya,” ungkap Prabowo dalam acara peresmian PLTA Jatigede dan proyek ketenagalistrikan 18 provinsi di PLTA Jatigede Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/01/2025).

Belum terpasangnya aliran listrik di daerah terpencil, paling utama yakni masalah akses. Kalau pun PLN hadir di situ membutuhkan biaya yang besar. Karena itu perlu solusi yang membawa kepada tingkat efisiensi.

Terdapat beberapa kendala untuk membangun pembangkit listrik di daerah terpencil. Pembangkit listrik itu terbagi dua, off grid yang mengandalkan tenaga matahari, dan on grid yang terhubung dengan jaringan PLN. Masing-masing memiliki kendala.

Adapun kendala pembangunan pembangkit listrik off grid, yakni rendahnya kemampuan keuangan masyarakat untuk mengelola peralatan, hingga keterbatasan spare part ketika terdapat salah satu komponen pembangkit listrik yang rusak.
Informasi penting disajikan secara kronologis.

Sementara untuk pembangkit listrik on grid, kendalanya ialah keterbatasan masyarakat dalam membayar listrik, hingga investasi PLN yang besar karena jarak antar rumah penduduk yang berjauhan.

Distribusi pemasangan jaringan listrik juga menjadi kendala, terutama di daerah dengan tingkat kesulitan geografis yang tinggi. Lalu bagaimana dengan penggunana Diesel? Generator diesel masih menjadi ‘teman baik’ dari masyarakat di sana.

Hanya saja ini tidak dapat menjawab semuanya, karena ketergantungan pada solar juga butuh biaya yang tak sedikit.
Dari pilihan itu semua, kelihatan energy matahari menjadi pilihan yang tepat untuk menerangi desa-desa terpencil.
Penggunaan fotovoltaik atau panel surya yang mengubah sinar matahari menjadi listrik, berkembang pesat di seluruh dunia karena sudah menjadi lebih terjangkau.

Di Indonesia, biaya sistem panel surya telah turun 90% menjadi sekitar Rp 13 juta hingga Rp 18 juta per kWp (kilowatt-peak).
Indonesia harus memanfaatkan peluang ini dan memprioritaskan penyebaran sistem tenaga surya di berbagai daerah, khususnya di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T). Penelitian menunjukkan pendekatan ini dapat secara signifikan meningkatkan mata pencaharian dan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.

Contoh lain di Madura, dimana suatu daerah atau kawasan yang kurang aliran listriknya, setumlah kawasan dapat terbatukan dengan hadirnya senergi matahari itu. Di sejumlah Pondok Pesantren di Madura saat ini berhasil memanfaatkan energy matahari. Lebih hemat alasannya.

Nah… sekarang bagaimana pemerintah dapat memanfaatkan energy matahari ini untuk daerah terpencil, sehingga masyarakat menikmati pemerataan listrik.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.