Momentum RI Tingkatkan Ketahanan Energi

oleh -27 views
oleh

Konflik geopolitik sejak 28 Februari 2026 yang ditanda mulainya perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran menambah ketidakpastian global. Keadaan ini menambah semakin runyam setelah Iran menutup Selat Hormuz yang menguasahi 20% pasok minyak dunia.

Harga minyak dunia melonjak tajam, akibat pasokan ke pasar yang berkurang. Sejumlah negara lalu “menengok: kepada ketahanan energinya. Apalagi sejumlah negara pengimpor minyak sudah “menghadirkan” antrean di SPBU.

Indonesia pun juga “menengok” ketahanan energinya. Khususnya minyak. Bagi negara ini, dinamika ini bukan sekadar fenomena eksternal, melainkan tantangan nyata yang menuntut respons kebijakan yang lebih adaptif, terukur, dan terkoordinasi.

Langkah tanggap Pemerintah Indonesia yang saat ini gencar merencanakan pembangunan tangki penyimpanan minyak (tangki timbun) baru sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional merupakan Langkah tepat. Keterbatasan kapasitas penyimpanan saat ini dinilai menjadi kendala utama dalam menghadapi potensi krisis suplai dan gejolak harga minyak global.

Langkah tepat mengambil momentum dengan pecahnya perang di Timur-Tengah. Mengapa? Bukan tidak mungkin pada masa-masa mendatang hal serupa terjadi, sehingga dapat menggoncang pasokan dan harga minyak dunia. Di sinilah pentingnya memperkuat ketahanan energi. Khususnya terkait dengan ketahanan minyak.

Cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini hanya bertahan sekitar 20–25 hari, Jauh di bawah standar internasional untuk negara pengimpor bersih yang seringkali mencapai 90 hari. Pemerintah bertujuan meningkatkan kapasitas ini hingga tiga bulan (90 hari).
Pembangunan ini penting untuk memitigasi risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik (seperti di Timur Tengah) yang dapat mengganggu arus pengiriman energi global.

Di samping itu, tingginya ketergantungan impor BBM membuat Indonesia rentan terhadap volatilitas harga, sehingga tangki tambahan diperlukan untuk menimbun stok saat harga rendah.
Peningkatan jumlah tangki minyak ini krusial untuk mengubah cadangan dari yang sebelumnya hanya berbasis pada operasional (stok berjalan) menjadi cadangan strategis yang mampu menahan guncangan pasokan jangka panjang.

Di samping itu, pemerintah diharapkan lebih serius lagi untuk mengoptimalkan lagi potensi energi yang ada. Seperi Energi Baru dan Terbaru (EBT). Sebut saja panas bumi. Energi matahari lainnya. Dengan demikian, pada akhirnya dapat mengurangi porsi energi yang berasal dari minyak.

Juga perlu mengembangkan potensi bahan bakar nabati sebagai strategi ketahanan energi dalam menghadapi risiko gangguan pasokan minyak ke depannya. Salah satu strategi memperkuat ketahanan energi nasional adalah mempercepat pengembangan potensi bioenergi nasional. Ibaratnya, daripada ‘mengebor’ BBM, kita ‘menanam’ BBM.

Indonesia perlu kembangkan bahan bakar nabati, seperti biodiesel dan bioetanol, dapat menjadi substitusi (BBM. Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang diproduksi dari minyak nabati dan dicampurkan ke dalam solar untuk mengurangi impor BBM.

Untuk mengurangi ketergantungan impor BBM, Indonesia harus meningkatkan persentase campuran bahan bakar nabati ke dalam solar dan bensin. Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari “mengebor” ke “menanam” BBM. Salah satu contohnya, dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk bioethanol.

Mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu (bio)etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO hingga EBT merupakan solusi yang realistis untuk membangun ketahan energi yang lebih baik lagi.

Bagi negara seperti Indonesia yang masih memiliki ketergantungan signifikan terhadap impor energi maka mengoptimalkan potensi energi yang ada akan membawa implikasi luas, baik terhadap inflasi, neraca perdagangan, maupun stabilitas fiskal.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.