PLTP Ijen Pemantik Kebangkitan Energi Hijau di Jatim

oleh -66 views
PLTP Ijen telah memasuki tahap Commercial Operation Date (COD) pada 7 Februari 2025 dengan kapasitas awal 34 MW dari total rencana 110 MW. Dok Medco

Upaya menghadirkan energi bersih di Jawa Timur terus digeber, meski tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Semangat mempercepat transisi energi yang bertujuan menurunkan emisi gas buang, mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil terus digaungkan sejumlah instansi pemerintah, BUMN, perusahaan swasta hingga masyarakat.

Tak tercuali tengah dilakukan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur yang berkomitmen mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di propinsi ini. Hal ini seiring dengan telah disahkannya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menargetkan penambahan pembangkit EBT per regional untuk pemerataan akses listrik. Di mana untuk wilayah regional Jawa-Madura-Bali dipatok sebesar 19,6 giga watt (GW).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, PLN UID Jawa Timur menggelar kegiatan bertajuk Virtual Journey to Green Power :Menjelajah Energi Masa Depan. Gelaran ini dirancang untuk memberikan gambaran nyata mengenai proses pembangkitan listrik berbasis EBT di lapangan. “Kegiatan tersebut bertujuan memperluas pemahaman publik sekaligus mendorong pemberitaan yang lebih masif terkait pengembangan energi terbarukan di Jatim,” kata General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir di Kantor PLN UID Jatim, Kamis (15/1/2026).

Salah satu yang diusung dalam virtual journey ini memperkenalkan teknologi virtual reality (VR) dengan melihat langsung operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen Unit 1 yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto secara hybrid dan dihadiri secara langsung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Bondowoso, Jawa Timur pada 26 Juni 2025 lalu. Bahkan Ahmad Mustaqir melalui VA ini melihat bagaimana proses operasional PLTP Ijen yang dioperasikan PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) sekaligus sebagai proyek panas bumi pertama yang beroperasi di Jatim.

“Panas bumi yang merupakan sumber energi yang ramah lingkungan, dan dapat menjadi base load sustainable di masa mendatang,” kata Ahmad.

Pernyataan Ahmad tidaklah salah. Sebab pemerintah menempatkan industri panas bumi pada peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional. Pengembangan panas bumi sebagai bagian penting dalam pencapaian target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang memprioritaskan energi baru dan terbarukan (EBT). Dalam RUPTL 2025–2034 menetapkan lebih dari separuh tambahan kapasitas pembangkit nasional hingga 2034 akan berasal dari pembangkit EBT. Kontribusi kapasitas baru pembangkit EBT ditargetkan mencapai 51% atau 27,4 gigawatt (GW), dan dapat meningkat hingga 61,3% atau 42,6 GW. Dari total tersebut, tambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) diproyeksikan mencapai 5,2 GW.

Lantaran itu, dukungan nyata PLN UID Jatim terhadap keberadaan PLTP Ijen ini telah ditunjukkan sejak awal. Saat tes komisioning PLN Jatim menyuplai kelistrikan daya sebesar 1.730 kVA. Bahkan sebelumnya PLN sudah mendukung pembangunan PLTP Ijen dengan suplai daya listrik 197 kVA. Tes komisioning ini sendiri merupakan tahapan penting sebelum pembangkit tersebut beroperasi penuh dan memasok listrik ke jaringan utama.

PLTP Ijen sendiri sebenarnya telah memasuki tahap Commercial Operation Date (COD) pada 7 Februari 2025 dengan kapasitas awal 34 MW dari total rencana 110 MW. Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 117 hektare. Listrik yang dihasilkan PLTP Ijen disalurkan ke jaringan Sistem Kelistrikan Jawa-Madura-Bali melalui Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) selama 30 tahun. Total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 3,9 triliun.

Secara teknis, PLTP Ijen mencakup enam sumur produksi, satu sumur injeksi, serta dua sumur cadangan. Pembangkit ini menggunakan teknologi binary dua-fasa dengan sistem reinjeksi 100 persen, sehingga ramah lingkungan dan hampir tanpa emisi. Teknologi ini memungkinkan hasil temuan panas bumi, meskipun bertemperatur lebih rendah (low enthalpy) tetap bisa digunakan. Dengan begitu, penggunaan sumber daya lebih efisien. Dari hasil pengeboran 2.500-2.900 meter kedalaman ukur (MKU), bisa ditemukan steam high enthalpy sampai 290°C dan low sekitar di bawah 150°C. Dari sisi lingkungan, pengoperasian PLTP Ijen diproyeksikan mampu mencegah emisi gas rumah kaca sebesar 228.636 hingga 838.332 tCO₂e per tahun.

Sementara dari dukungan infrastruktur meliputi 83 menara transmisi dan jaringan transmisi 150 kV. Kehadiran fasilitas ini diharapkan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali sekaligus memasok listrik untuk sekitar 85.000 rumah tangga.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur Dr Ir Aris Mukiyono, MT. MM mengatakan, pembangunan proyek-proyek energi terbarukan ini tidak hanya berorientasi pada kemandirian energi, tetapi juga memberikan dampak positif signifikan bagi perekonomian lokal. Proyek ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri lokal dan menciptakan lapangan kerja baru di berbagai daerah.
Apalagi dalam pelaksanaannya, proyek ini juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja.

“Tahap eksplorasi melibatkan 288 pekerja, meningkat menjadi 1.020 orang pada tahap pengembangan. Saat ini, operasional PLTP didukung oleh 96 pekerja serta 191 orang putra daerah,” jelas Aris.

Sebelumnya, dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan, dalam tahap awal PLTP Ijen yang resmi beroperasi ini merupakan PLTP Ijen Unit 1 dengan kapasitas 34,5 Mega Watt (MW). Namun ke depannya, Medco akan melanjutkan pembangunan hingga unit ke-2 dan 3, dengan masing-masing unit berkapasitas 45 MW dan 25 MW.

“Bila ketiga unit tersebut beroperasi, maka total kapasitas PLTP Ijen mencapai 104,5 MW,” kata Bahlil.

Bahkan Bahlil menyebutkan, Medco dan PT PLN (Persero) sudah menyepakati Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) untuk PLTP Ijen Unit 1 ini. Tarif listrik PLTP Ijen Unit 1 yang dijual ke PT PLN (Persero) ini disepakati seharga 9,5 sen dollar per kilo Watt hour (kWh) untuk 10 tahun pertama. Namun, tarif listrik ini bisa turun pada 10 tahun kedua operasi menjadi 7-7,2 sen dollar per kWh. “Dan kita kan sudah mempunyai kontrak maksimal 9,5 sen per KWh pada 10 tahun pertama, 10 tahun kedua dia turun menjadi 7 sampai 7,2, tergantung dari berapa capex (capital expenditure) yang dilakukan. Jadi ini win-win kok,” jelas Bahlil

Potensi EBT Jatim
Sebenarnya potensi panas bumi di Jawa Timur cukup besar. Dalam Rencana Usaha Penyelenggaraan Tenaga Listrik (RUPTL) disebutkan, Jawa Timur memiliki potensi pengembangan panas bumi sebesar 362 MWe (Mega Watt elektrik) yang tersebar di 12 lokasi, yakni Melati Pacitan, Rejosari Pacitan, Telaga Ngebel Ponorogo, Gunung Pandan Madiun, Gunung Arjuno – Welirang, Cangar, Songgoriti, Tirtosari Sumenep, Argopuro Probolinggo, Tiris – Gunung Lamongan Probolinggo, Gunung Wilis dan Blawan – Ijen. Ini berarti Jawa Timur memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi panas bumi sebagai sumber energi bersih dan berkelanjutan. Sayangnya sampai sekarang baru PLTP Ijen yang beroperasi.

Belakangan Kementerian ESDM melelang tiga wilayah kerka panas bumi (WKP). Salah satu dari tiga WKP tersebut yakni Songgoriti di Kota Batu yang berkapasitas 40 MW. Saat ini tengah memasuki masa sosialisasi.

Terkait potensi EBT di Jatim, menurut Ahmad, masih sangat besar, terutama dari energi surya. Lantaran itu, pengembangan PLTS saat ini difokuskan di wilayah Madura dan kepulauan lainnya.

“Untuk tenaga air, pengembangannya cukup menantang karena keterbatasan ekosistem dan debit air. Namun, potensi surya di Jawa Timur dan Indonesia secara umum masih sangat besar,” jelasnya.

Mengutip Raperda Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2019 – 2050 menyebutkan, potensi EBT di Jatim sangat besar yakni sebesar 188.410 MW. Rinciannya, energi surya sebesar 176.390 MW, energi angin 10.200 MW, energi panas bumi 1.280 MW, energi air 80 MW, energi biogas 110 MW, dan energi biomassa 350 MW yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Jawa Timur.

Ahmad menyebutkan, saat ini, total daya mampu pembangkit listrik di Jawa Timur mencapai 10.586 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, kontribusi EBT baru sekitar 293 MW atau setara 3,5%.

“Dan PLTA saat ini masih merupakan penyumbang terbesar energi hijau di Jawa Timur,” katanya.

Catatan Global Energi, PLTA menyumbang 46,24%. Disusul Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebesar 14,40% dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) sebesar 6,59%.

Hambatan Pengembangan
Namun segudang persoalan memang menghambat percepatan pengembangan panas bumi di Tanah Air. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menyebutkan, sejumlah risiko yang dihadapi pengembang, mulai dari kegagalan eksplorasi, risiko finansial, hambatan regulasi seperti proses PJBL, TKDN, dan perizinan, kebutuhan modal besar, durasi pengembangan yang panjang, hingga lokasi sumber daya yang umumnya berada di wilayah terpencil.

Komaidi juga menilai, penyempurnaan kebijakan menjadi kunci percepatan pengembangan panas bumi. Pemerintah perlu memberikan kepastian tata waktu perizinan proyek PLTP serta meningkatkan sinergi antar kementerian dan lembaga sesuai mandat Perpres No,112/2022.

Ia menambahkan, model pasar listrik nasional yang monopsoni membuat kepastian penandatanganan PJBL dan PJBU sangat penting. “Pengembang wajib menyelesaikan eksplorasi sebelum memperoleh PJBL maupun PJBU. Karena itu proses negosiasi tarif sebaiknya difokuskan pada harga dasar dan eskalasi sepanjang periode kontrak,” ujarnya.

Penerapan skema feed-in tariff dapat meningkatkan kepastian harga dan daya tarik investasi, sehingga revisi atau penguatan terhadap ketentuan dalam Perpres 112/2022 perlu dipertimbangkan.

Ia menyebutkan, Filipina dan Turki sebagai contoh negara yang berhasil mempercepat pengembangan panas bumi melalui reformasi kebijakan. Filipina dinilai berhasil berkat regulasi yang kuat, insentif fiskal, pengurangan porsi pendapatan pemerintah, penyediaan data eksplorasi, dan dukungan koneksi jaringan oleh perusahaan transmisi nasional.

Di Turki, kapasitas PLTP meningkat 328,23 persen dalam periode 2014–2024, dari 405 MW menjadi 1.734 MW. Peningkatan tersebut didorong penerapan feed-in tariff, percepatan perizinan, insentif fiskal, serta jaminan dan kompensasi bagi investor yang mengalami kerugian akibat kebijakan pemerintah.

Karena itu, Indonesia termasuk Jatim harus terus mengejar target pengembangan panas bumi yang menjadi pilar dalam bauran energi dan pencapaian RUPTL 2025–2034 dengan berbagai reformasi kebijakan yang lebih ramah dengan investor. agung kusdyanto

Potensi dan Rencana Pengembangan Panas Bumi di Jatim

1.WKP Gunung Lawu

Unit 1: 55 MW (ditargetkan COD sejak 2022)
Unit 2: 55 MW (ditargetkan COD pada 2024)

2.WKP Gunung Arjuno-Welirang

Tahun 2025: 110 MW

3.WKP Blawan Ijen
Unit 1: 55 MW (ditargetkan sejak 2021)
Unit 2: 55 MW (ditargetkan sejak 2022)

4.WKP Gunung Iyang Argopuro
Tahun 2025: 55 MW

5.WKP Gunung Pandan
Tahun 2025: 40 MW

6.WKP Gunung Wilis
Tahun 2025: 20 MW (dua tahap, masing-masing 10 MW)

7.WKP Songgoriti
Tahun 2025: 20 MW

8.WKP Telaga Ngebel
Unit 1: 55 MW (2021)
Unit 2: 55 MW (2024)
Unit 3: 55 MW (2024)

9.Potensi Canggar, Malang
22 MW (spekulatif)
280 MW (terduga)

10.Potensi Melati, Pacitan
25 MW (spekulatif)

11.Potensi Rejosari, Pacitan
25 MW (spekulatif)

12.Potensi Tiris-Gunung Lamongan
55 MW (hipotesis)
74 MW (terduga)

13.Potensi Tirtosari, Sumenep
10 MW (spekulatif)

Sumber : Buku Potensi Panas Bumi Jilid 1 diterbitkan Kementerian ESDM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.