Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan gas bumi sebagai penopang utama hilirisasi industri nasional melalui kebijakan strategis dan pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dan mengurangi ketergantungan impor.
Gas bumi adalah penopang hilirisasi karena menyediakan bahan baku dan energi bersih untuk industri, meningkatkan nilai tambah produk turunan (metanol, amonia, dll.), mendukung transisi energi menuju emisi rendah (NZE 2060), dan memperkuat kemandirian serta perekonomian nasional dengan mengurangi impor, menciptmenciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan industri dasar seperti petrokimia.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai ketersediaan energi, khususnya gas bumi, akan menjadi faktor penentu keberlanjutan pembangunan nasional dalam beberapa dekade ke depan.
Seperti dikatakan Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aryo Djojohadikusumo menyebut isu gas kini tidak lagi bersifat teknis, melainkan berkaitan langsung dengan agenda strategis negara, mulai dari ketahanan pangan hingga hilirisasi industri.
“Tidak mungkin ada ketahanan pangan tanpa pupuk, dan tidak mungkin ada pupuk tanpa gas,” ujar Aryo dalam Energy Insights Forum bertajuk Gas Outlook 2026: Powering Energy Resilience with Strong Governance, Kamis (4/12/2025).
Gas sebagai penentu hilirisasi industri akan menjadi sekitar seperempat bauran energi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) selama 10 hingga 15 tahun ke depan. Porsi tersebut dinilai krusial untuk menopang hilirisasi industri strategis yang tengah didorong pemerintah.
Bertolak pada kenyataan ini, ketersediaan gas akan menentukan keberlanjutan sejumlah prioritas pembangunan.
Hihilirisasi di sektor gas bumi akan mendorong peningkatan perekonomian nasional. Dengan hilirisasi gas bumi bertujuan untuk meningkatkan penyerapan gas di dalam negeri, serta memiliki peran penting dalam peningkatan perekonomian nasional.
Di sini, diperlukan integrasi antara pengembangan infrastruktur gas bumi dan industri hilir sebagai konsumen pengguna. Penyerapan gas bumi di dalam negeri akan mendukung peningkatan taraf hidup masyarakat, serta ekonomi nasional.
Dalam pemanfaatan gas bumi, tentunya kita perlu mengakselerasi ketersediaan produksi gas di hulu baik langsung sebagai sumber gas pipa maupun moda LNG yang dapat diintegrasikan bersama BPH Migas sebagai integrator dalam penyediaan fasilitas infrastruktur serta target dari hilirisasi di sektor industri sebagai konsumen pengguna.
Sumber gas bumi di Indonesia masih sangat banyak, sehingga dapat diprioritaskan pemenuhannya di dalam negeri, baik untuk industri strategis dan penyediaan energi aman dan ramah lingkungan di masyarakat melalui program jaringan gas bumi (jargas), sekaligus mendukung proses transisi energi.
Percepatan hilirisasi bergantung pada pengembangan infrastruktur gas bumi yang tentunya membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Keberhasilan dalam pengembangan infrastruktur gas bumi akan bergantung pada kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, serta investasi pelaku industri pengguna gas bumi.
Kebutuhan energi yang terus meningkat membuat posisi gas bumi semakin strategis dalam perekonomian Indonesia. Bukan hanya sebagai sumber daya teknis, gas kini dipandang sebagai pondasi penting yang menghubungkan sejumlah agenda besar negara, mulai dari ketahanan pangan, industrialisasi, hingga penguatan sektor hilir.
Di sini, tantangan masa depan tak lagi sekadar soal pasokan energi, tetapi bagaimana gas mampu menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Ketergantungan sejumlah sektor penting terhadap gas membuat ketersediaannya tidak bisa dipandang remeh. Gas merupakan komponen utama dalam produksi pupuk, salah satu instrumen vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Tidak mungkin ada ketahanan pangan tanpa pupuk, dan tidak mungkin ada pupuk tanpa gas, Ketergantungan industri pupuk pada gas membuat negara harus memastikan pasokan tetap stabil agar tidak terjadi gangguan pada produksi.
Gas mengambil porsi besar dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) selama 10 hingga 15 tahun ke depan. Porsi gas diproyeksikan mencapai seperempat dari total bauran energi nasional. Porsi ini dinilai sangat penting karena pemerintah tengah mendorong hilirisasi industri strategis di berbagai sektor. Dengan pasokan gas yang stabil, industri dapat memperluas kapasitas, memperkuat daya saing, dan menciptakan nilai tambah tinggi dalam rantai produksi nasional. *





