Raksasa Migas Dunia Mau Balik Kucing

oleh -45 views

Di sela-sela pelaksanaan IPA Convex 2025 di Tangerang, Selasa (20/5/2025), ada informasi yang cukup mengejutkan. Apa itu? Hengkang di zaman Jokowi, raksasa minyak dan gas (migas) Chevron, TotalEnergies hingga Shell, kini ingin balik lagi berinvestasi di Indonesia. Chevron dan Shell berpotensi kembali berinvestasi di hulu migas RI usai sempat hengkang pada 2018-2023 atau saat periode pemerintahan Jokowi.

Suatu kabar yang menyejukkan kita semua tentunya bila sejumlah raksasa migas global dikabarkan melirik kembali prospek hulu migas Tanah Air. Ini membnuktikan bahwa industri upstream nasional masih prospektif. Mereka yang berminat kembali berinvestasi, antara lain Chevron, TotalEnergies, dan Shell Plc. Ketiganya hengkang dari hulu migas RI pada 2018-2023 atau periode pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), ketiga perusahaan multinasional itu akan fokus melakukan eksplorasi untuk mendapatkan cadangan baru. Salah satunya, bahkan telah melakukan joint study dan tinggal eksekusi di lapangan.

Saat ini Chevron dan Shell masih dalam tahap evaluasi dan penjajakan terhadap beberapa area prospektif di Tanah Air. Sementara itu, TotalEnergies sedang menjajaki peluang akuisisi sebagian hak partisipasi atau participating interest (PI) blok migas eksplorasi Bobara di perairan lepas pantai Provinsi Papua Barat. Total masih melakukan diskusi internal dengan operator Blok Bobara, Petronas.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, berminatnya tiga perusahaan energi raksasa kembali berinvestasi di sektor hulu migas RI tak lepas dari upaya pemerintah melakukan berbagai pembenahan. Pemerintah kini menyediakan data, teknologi, konektivitas yang bagus hingga regulasi untuk open data.

“Teknologi makin maju dan mereka [investor] juga punya alat untuk melihat itu sehingga mereka tertarik [kembali berinvestasi di RI],” tutur Djoko di sela-sela acara IPA Convex 2025 di Tangerang, Selasa (20/5/2025).

Sejauhmana pemerintah akan menyambut tamu agung itu? Hamparan karpet yang nyaman harus dipersiapkan. Harapannya, sudah barang tentu agar mereka nyaman berteduh di Negara kita. Nyaman berinvestasi. Investasi jangka panjang tentunya, karena investasi di sector migas adalah investasi jangka panjang.

Berbagai kebijakan yang selama ini menjadi kerikil harus kita kesampingkan, Kita harus menoleh ke sejumlah Negara yang hingga kini memberikan fasilitas lebih dan membuat nyaman para meneer itu “betah” bumi pertiwi ini. Kita harus bisa mengevaluasi dan intropeksi diri, mengapa mereka hengkang sebelumnya. Ini harus menjadi catatan penting.

Sebut saja, bagaimana pemerintah menyiapkan kebijakan fiskal yang lebih fleksibel. Kemudahan perizinan. Terpenting bagaimana politik tidak cawe-cawe lagi. Intinya, kita harus professional full. Mengapa? Sejumlah Negara tetangga kita di lingkut Asia Tenggara sudah memberikan iklim investasi yang benar-benar menggiurkan.

Apalagi Djoko Siswanto menuturkan, selain Chevron, TotalEnergies, dan Shell, masih ada 22 perusahaan lain yang minat berinvestasi di hulu migas RI. Dengan begitu, total akan ada 25 perusahaan yang melirik Indonesia. Djoko tak memerinci siapa saja 22 perusahaan itu.

Dia hanya mengklaim kalau perusahaan itu terdiri atas perusahaan skala besar hingga sedang. “Ada 25, nanti datanya saya kasih. Yang besar-besar dan juga sedang juga ada,” kata Djoko.

Balik kucing para raksasa migas ini sebenarnya tidak terlepas dari upaya pemerintah yang bakal melelang 60 blok migas hingga 2028 atau selama era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Lelang itu bakal berfokus pada blok di Indonesia bagian Timur yang saat ini mempunyai potensi terbesar.

Bertolak pada kenyataan ini, pentingnya percepatan pengembangan proyek migas untuk mendukung kebutuhan energi nasional. Ini selaras dengan keinginan Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada energi dan swasembada pangan. Bila Indonesia mampu mencapai swasembada energi, Indonesia akan menghemat puluhan miliar US Dollar. Ratusan triliun uang kita tidak perlu mengalir keluar bangsa Indonesia, ekonomi kita akan kuat, lebih banyak dana uang yang bisa dinikmati oleh rakyat kita. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.