Perjalanan Suwondo Mengawal Pendidikan Gratis untuk Warga Desa

oleh -90 views
oleh
Suwondo sedang mengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Wana Bhakti di Desa Ngasem, Bojonegoro


“Apapun itu kendalanya, saya jadikan tantangan.” Begitu kira-kira motto hidup Suwondo, 55 Tahun, sosok menginspirasi yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Semuanya berawal dari ketidaksengajaan yang mendatangkan berkah. Prihatin, begitu katanya ketika melihat fakta terdapat beberapa kolega di desanya, Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro tidak dapat membaca catatan yang dia tunjukkan.

“Saat itu memang ada teman yang tidak bisa membaca tulisan, namun memahami nominal uang,” kelakarnya. Karena berulang kali menemui fakta yang sama, pria yang memiliki latar belakang Sarjana Ekonomi ini berpikir untuk berbuat sesuatu untuk membantu mereka yang mempunya keterbatasan akses mendapatkan pendidikan yang layak.

Pak Wondo, begitu dia biasa dipanggil. Layaknya seorang yang berjiwa pemimpin, Pak Wondo pernah memimpin Desa Ngasem pada kisaran tahun 2014 hingga 2019. Prestasi di bidang pendidikan, dia torehkan langsung dengan terjun ke masyarakat. Keprihatinan Pak Wondo melihat situasi di desanya dimana masih banyak anak putus sekolah dan tingginya angka pengangguran di desa membuatnya berinisiatif untuk mengembangkannya melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Wana Bakti (PKBM Wana Bakti).

Pendidikan merupakan kunci dari keberhasilan, “Awal-awal saya berniat mendirikan lembaga pendidikan ini tidaklah mudah, orang-orang ini maido (Bahasa Jawa: tidak percaya, red). Dipikir saya itu mimpi, mau mengubah nasib orang kok lewat pendidikan,” cerita Pak Wondo.

Suwondo dan perwakilan PEPC Zona 12 sedang berdialog dengan siswi PKBM Wana Bhakti

Tapi, berbekal kegigihan, Pak Wondo fokus pada solusi dan proses pengembangan lembaga pendidikan yang ia kembangkan. “Intinya itu Ikhlas. Kalau kita ikhlas melakukan segala hal, Insya Allah akan diberikan jalan keluar kepada setiap masalah yang kita hadapi.”

Mencoba untuk tetap berjalan pada rel pendidikan, Pak Wondo menemui beberapa kendala dalam menjalankan upayanya seperti orang yang sudah tidak semangat lagi meneruskan pendidikan hingga keterbatasan pada fasilitas dan sarana-prasarana di lembaga pendidikannya. Namun dengan banyaknya kendala yang menghantam, justru menjadikan semangat Pak Wondo semakin menyala. Ia mengetuk pintu masing-masing warga desa untuk membujuk mereka kembali meneruskan pendidikan hingga lulus dengan jenjang pendidikan tinggi.

“Saya berkeliling door to door, banyak diskusi dengan warga desa, sehingga saya jadi tahu bahwa selama ini yang mendasari mereka malas balik ke bangku sekolah itu salahsatunya adalah karena waktu mereka sudah habis untuk bekerja. Jadi kendala biaya itu bukan satu-satunya,” kata Pak Wondo merunut perjalanan siswa-siswinya.

Lambat laun, kondisi lembaga pendidikan yang dikembangkan Pak Wondo berubah, hingga biaya sekolah berubah menjadi gratis alias tidak dipungut biaya. Berita menggembirakan ini rupanya menarik perhatian para warga desa. Apalagi dengan informasi bahwa bisa bersekolah dengan menyesuaikan waktu mereka, beda dengan waktu sekolah yang berlaku di sekolah formal.

“Dari yang semula cuma satu dua yang tertarik, bertanya, hingga kini, lembaga kami sudah meluluskan sekitar 3.000 warga desa yang sadar bahwa pendidikan itu penting” ujarnya ketika itu. Ditemani oleh putranya, Mas Benny yang saat ini juga berkiprah dalam dunia pendidikan dengan mengembangkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Taruna Mandiri yang juga mempunyai sistem biaya sekolah gratis, pak Wondo juga didampingi oleh salah satu siswi beliau, Mbak Sum, yang saat ini mengembangkan unit usaha kripik Girut.

“Alhamdulillah, lulusan kami ada yang menjabat jadi Kepala Desa, Perangkat Desa, ASN, bahkan Pegawai Negeri dan juga bekerja kantoran,” tutur Mas Benny menambahkan.

Ketekunan Pak Wondo inilah yang kemudian mendapatkan perhatian SKK Migas -PT Pertamina EP Cepu Zona 12 (PEPC Zona 12), yang merupakan operator Lapangan Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru. Disamping kegiatan utamanya memproduksi gas, SKK Migas – PEPC Zona 12 mempunyai kepedulian terhadap masyarakat di seputar wilayah operasinya.

Suwondo berfoto bersama dengan Perwakilan PEPC Zona 12 dan tenaga pengajar PKBM Wana Bhakti didepan fasilitas gedung

Sejak tahun 2018, SKK Migas – PEPC Zona 12 telah membangun kolaborasi dengan PKBM Wana Bakti, yang dikelola oleh Pak Wondo beserta putranya. Bentuk kolaborasi ini berupa program atau kegiatan peningkatan untuk lembaga pendidikan ini, seperti peningkatan kapasitas tutor, bantuan fasilitas pembelajaran seperti seperangkat komputer hingga penyediaan sarana prasarana fasilitas gedung sebagai pusat kegiatan belajar mengajar (Kejar Paket A, B dan C).

Menurut Rahmat Drajat, Manager Communications, Relations & CID Pertamina EP Cepu, bentuk kolaborasi ini merupakan kepedulian dan apresiasi Perusahaan terhadap perjuangan Pak Wondo yang selama ini mengawal pendidikan, dan menginspirasi masyarakat di sekitar Desa Ngasem, desa yang berdekatan dengan wilayah operasi PEPC di Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.

“Semoga kontribusi kami bisa menjadi penyemangat untuk Pak Wondo dan tutor-tutor lainnya di PKBM Wana Bakti mengembangkan pendidikan cuma-cuma yang berkualitas untuk masyarakat di sekitar Kecamatan Ngasem,” kata Rahmat.

SKK Migas – PT Pertamina EP Cepu Zona 12 berkomitmen untuk melaksanakan kontribusinya terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasi. Dalam bidang pendidikan, SKK Migas – PEPC Zona 12 berkolaborasi bersama Lembaga Swadaya Masyarakat Bojonegoro melaksanakan kegiatan seperti Pengurangan Emisi Karbon dengan menciptakan hutan sekolah, serta Kampanye Edukasi Kenal Migas, Kuliah Umum bersama Universitas-universitas di Bojonegoro serta beberapa kegiatan pendidikan lainnya. adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.