Jawa Timur (Jatim) menjadi daerah penghasil minyak dan gas (migas) yang hingga Maret 2024, mencatatkan produksi minyak bumi dan kondensat sebesar 172,227 barel oil per hari (boepd) dan gas sebesar 734,07 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd). Terbesar ketiga di Indonesia, setelah Riau dan Kalimantan Timur.
Dari total produksi tersebut, sekitar 70% diapsok dari Madura. Lalu mengapa, tingkat kemiskinan di Pulau Garam itu berada paling atas? Bagaimana dengan dana bagi hasil (DBH) yang didapat? Apakah cukup hanya mengandalkan hasil DBH untuk mensejahterakan masyarakatnya?
Seperti diketahui, hingga Maret 2024, Jatim mencatatkan produksi minyak bumi dan kondensat sebesar 172,227 barel oil per hari (boepd) dan 734,07 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd). Pemprov Jatim mendukung peningkatan kualitas industri migas di provinsi ini.
Di Jatim terdapat sekitar 28 wilayah kerja (WK) migas, termasuk wilayah eksplorasi, eksploitasi, dan pengembangan. Dengan penerapan teknologi, seperti inovasi dan digitalisasi yang diharapkan dapat meningkatkan produksi dan memudahkan pengelolaan data. Di Madura sendiri saat ini terdapat sekitar 9 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) utama yang melakukan eksploitasi dan 1 K3S sudah melakukan kegiatan eksplorasi.
Keberhasilan Jatim menduduki peringkat ke-3 dalam produksi migas nasional tidak terlepas dari peran Madura. Dimana total produksi migas di Jatim itu, sekitar 70% dipasok dari Madura. Dengan demikian, Pulau Madura menjadi penyangga utama produksi migas Jatim.
Data di SKK Migas Jabanusa menyebutkan, memasuki tahun 2025, SKK Migas telah menetapkan target lifting migas sebesar 1.610 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD) yang terdiri dari 605 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan gas 1.005 ribu BOEPD sesuai target APBN.
Pada tahun 2024 K3S di wilayah Madura berhasil mecapai target APBN dan di tahun 2025 KKKS wilayah Madura masih menjadi salah satu tulang punggung produksi nasional.
Di Madura saat ini terdapat sekitar 9 K3S utama yang sedang melakukan eksploitasi dan 1 eksplorasi:
A.KKKS Eksploitasi :
- Petronas Carigali (Ketapang) II Ltd1
- Husky-CNOOC Madura Ltd
- Medco Energi Sampang Pty Ltd
- Medco Energi Madura Offshore Pty Ltd
- Kangean Energi Indonesia Ltd.
- Pertamina Hulu Energi WMO
- Pertamina EP Field Poleng
- PT. Energi Mineral langgeng
- PT. MGA Utama Energi
Untuk saat ini, proyek yang dilakukan oleh K3S antara lain:
- Petronas Carigali (North Madura) II Ltd
Petronas Carigali (North Madura) II Ltd saat ini tengah melaksanakan pengembangan Proyek Hidayah, yakni dalam tahap Konstruksi Offshore Platform. Direncanakan onstream pada akhir 2026. Lapangan ini merupakan salah satu prospek migas potensial di wilayah North Madura. Penemuan cadangan hidrokarbon pada struktur Hidayah menunjukkan potensi minyak bumi. - Medco Energi Sampang. Pty. Ltd dengan Proyek Paus Biru
Medco Energi Sampang Pty. Ltd merupakan operator utama dalam pengembangan Proyek Paus Biru, yang terletak di wilayah kerja Sampang, lepas pantai Madura. Proyek ini berfokus pada pengembangan cadangan gas non-asosiasi yang telah teridentifikasi melalui kegiatan eksplorasi. Direncanakan onstram 2027. - Husky-CNOOC Madura Ltd dengan Proyek MDK
Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML) merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengelola Wilayah Kerja Madura Strait, dengan fokus pada pengembangan gas bumi dari beberapa lapangan utama, salah satunya adalah Proyek yang mencakup lapangan MDA, MBH, MAC, dan MDK - Kangean Energi Indonesia Ltd.
Kangean Energi Indonesia saat ini sedang melakukan survei seismik 3D di wilayah perairan di pulau Kangean seluas 318 Km2.Kegiatan ini sebagai bagian dari kegiatan eksplorasi untuk mengidentifikasi potensi hidrokarbon di bawah permukaan laut dalam rangka pemenuhan minyak bumi dalam negeri.
B. KKKS Eksplorasi:
- PT POSCO International ENP.
Sementara itu, berbicara potensi cadangan minyak di Madura meliputi:
1.Potensi cadangan minyak di Madura diperkirakan mencapai 158 juta barel, dengan tambahan potensi dari sumur eksplorasi ENC-02 sebesar 70 juta barel.
2.Potensi gas, khususnya wilayah perairan utara Madura memiliki potensi gas bumi yang cukup besar. Lapangan Bukit Panjang di wilayah ini memiliki potensi produksi hingga 40-50 MMscfd, berdasarkan informasi dari SKK Migas. Selain itu, KKKS Husky-CNOOC Madura Ltd. juga memiliki potensi produksi hingga 318 MMscfd.
Pemerintah pusat melalui SKK Migas melakukan survei seismik untuk memetakan potensi migas di perairan utara Madura, khususnya di sekitar Sampang. Seperti Lapangan Hidayah, yang berlokasi sekitar 6 kilometer di utara Pulau Madura, diperkirakan akan onstream pafa 2027. Puncak produksi lapangan ini, yakni pada tahun 2033 dengan produksi sekitar 25.276 BOPD.
Pada sisi lain, sejumlah kalangan kerap mengajukan pertanyaan, mengapa potensi migas-nya besar, rakyat Madura tak bisa “menikmati”. Mengapa? Buktinya, hingga kini tingkat kesejahteraan orang Madura tak meningkat. Lalu apakah masyarakat Madura hanya mengandalkan Dana Bagi Hasil (DBH) yang besarannya sudah ditentukan pemerintah?
Jelasnya sejak beberapa tahun sebelum banyak ditemukannya migas di Madura, tingkat kemiskinan itu memang berada diurutan paling tinggi. Karena itulah. perlunya pemerintah daerah untuk lebih rajin menggaet investor untuk menciptakan lapangan kerja baru.

Bertolak pada kenyataan inilah, Anggota Komisi D, DPRD Jawa Timur, Harisandi Savari berharap pemerintah pusat untuk menambah DBH pengelolaan migas di Madura agar pembangunan meningkat dan mensejahterakan masyarakat Madura.
“Pulau Madura itu kaya raya dan potensi migas-nya besar sekali. Saya berharap pemerintah menambah DBH. Masyarakat Madura sangat membutuhkannya perbaikan perekonomian agar kesejahteraannya meningkat,”kata politisi PKS ini, .
Menurut Harisandi, cadangan minyak di Madura diperkirakan mencapai 158 juta barel. Seperti kita ketahui, sumur minyak di Madura terdapat pada sumur eksplorasi ENC-02 yang diprediksi memiliki cadangan minyak sebesar 70 juta barel. ”Tentunya dengan kondisi ini bisa meningkat perekonomian daerah khususnya di Madura,“ katanya.
Harisandi yang juga Ketua Kadin Pamekasan, Madura ini mengatakan, selain penambahan DBH, dirinya berharap agar penduduk Madura juga dilibatkan kegiatan migas tersebut.
”Saya kira yang mengerti seluk beluk wilayahnya tentunya masyarakat Madura. Jadi tentunya untuk kegiatan migas bisa melibatkan tenaga kerja asal Madura. Dengan langkah ini akan mengurangi angka pengangguran di Madura dan meningkatkan kesejahteraan di Madura,”jelasnya.
Ditanya masih adanya tudingan “gangguan” dalam eksplorasi migas di Madura, Harisandi mengatakan, kalau ada seperti itu, secepatya K3S melaporkan kepada yang berwenang.
“Kalau benar ada seperti itu, kalau perlu saya akan turun. Saya rasa tak adalah gangguan-gangguan serius dalam ekplorasi maupun eksploitasi migas di Madura. K3S yang ada di Madura itu membawa duit. Mereka berinvestasi. Ya masyarakat Madura harus paham hal itu. Terpenting K3S harus melakukan sosialisasi dengan baik, sehingga masyarakat paham maksud dan tujuannya,” jelas Harisandi.
Mengapa Termiskin?
Lebih lanjut Harisandi mengatakan, kenaikan DBH yang dituntut pihaknya, tak lain untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat Madura. “Hingga saat ini tingkat kemiskinan di Madura menduduki peringkat atas di Jatim,” katanya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur per Maret 2024, menunjukan, persentase penduduk miskin di empat kabupaten di Pulau Madura tergolong tinggi, yaitu Bangkalan sebesar 18,66%, Sampang 20,83%, Pamekasan 13,41% dan Sumenep 17,78% (lihat tabel). Sementara peringkat kemiskinan terendah di Jatim, yakni Kota Surabaya: sekitar 3,96%, Kota Batu: 3,06%, Kota Malang: sekitar 4,37% (lihat table).
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur kembali merilis data kemiskinan terbaru tahun 2024. Hasilnya, tujuh kabupaten tercatat memiliki angka kemiskinan tertinggi. Kabupaten Sampang menempati posisi pertama sebagai daerah termiskin di Jawa Timur.
A.Tujuh Kabupaten\Kota dengan Tingkat Kemiskinan Tertinggi Tahun 2024
- Kabupaten Sampang = 20,83%
- Kabupaten Bangkalan = 18,66%
- Kabupaten Sumenep = 17,78%
- Kabupaten Probolinggo = 16,45%
- Kabupaten Tuban = 14,36%
- Kabupaten Ngawi = 13,81%
- Kabupaten Pamekasan = 13,41%
B. Persentase Tujuh Kabupaten\Kota dengan Tingkat Kemiskinan TertendahTahun 2024
1.Kota Batu = 3,06
2.Kota Malang = 3,91
3.Kota Surabaya = 3,96
4.Kota Madiun = 4,38
5.Kabupaten Sidoarjo = 4,53
6.Kota Mojokerto = 5,57
7.Kota Probolinggo = 6,18
Alokasi DBH Migas 2024
Bangkalan Rp 25.362.172.000
Pamekasan Rp 25.572.945.000
Sampang Rp 25.249.426.000
Sumenep Rp 26.096.214.000
Bojonegoro Rp 1.802.959.004
Gresik Rp 38.178.607.000
Tuban Rp 423.156.712.000
Sidoarjo Rp 26.224.728
Kota Batu Rp 26.759.926
Kota Malang Rp 24.619.133
Fakta memang menyebutkan, Madura memiliki potensi migas yang signifikan, baik minyak maupun gas bumi. Peluang besar untuk pengembangan di masa depan. Dengan pengelolaan yang tepat dan kolaborasi yang baik antara pemerintah, perusahaan migas, dan masyarakat, potensi ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan daerah dan perekonomian nasional.
Memang potensi migas di Madura menawarkan peluang besar untuk meningkatkan perekonomian daerah. Hanya saja, dengan kehadiran sejumlah perusahaan migas sudah pasti secara ekonomi berdampak positif kepada masyarakat Madura.
Kehadiran sejumlah perusahaan K3S sebenarnya dapat dijadikan mitra untuk melakukan atau melahirkan usaha-usaha baru di sekitar sumur-sumur migas. Sekarang tinggal bagaiman kejelian kepala daerah setempat untuk dapat menciptakan usaha atau bisnis-bisnis baru di daerahnya guna mengurangi pengangguiran dan menciptakan kesejahteraan. Karena tidak mungkin dengan hanya mengandalkan DBH Migas untuk “membersihkan” kemiskinan di daerahnya. (Erfandi Putra*)





