Jawa Timur (Jatim) mempunyai energi matahari yang cukup potensial. Ini merupakan dasar untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pada masa transisi energi ini, Energi Baru Terbarukan (EBT) harus terus kita galakkan, termasuk PLTS. Mengapa? Agar ketergantungan kepada energi fosil dapat dikurangi hingga untuk menciptakan energi bersih.
Seperti kita ketahui, pemerintah terus mengupayakan berbagai langkah strategis untuk mewujudkan swasembada energi, sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita pembangunan nasional. EBT menjadi andalan penting dalam upaya mencapai swasembada energi di Indonesia. EBT, yang meliputi energi panas bumi, angin, surya, biomassa, dan hidropower, menawarkan solusi berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

“Bagi Jatim pengembangan EBT menjadi ‘keharusan’. Ini kan sesuai dengan program Pusat. Saya melihat provinsi ini mempunyai potensi, dan selayaknya dikembangkan. Sampai sekarang di sejumlah pulau-pulau terpencil masih belum teraliri listrik. Nah di sini PLTS mempunyai peran penting untuk menerangi pulau-pulau terpencil. Karena Jatim punya potensi untuk itu,” kata Abdul Halim SH,. MH, Ketua Komisi D, DPRD Jatim kepada Global Energi, Kamis (24/4/2025). Seusai mengikuti Sidang Paripurna.
Jatim mempunyai potensi energi matahari sebagai PLTS sebesar 176.390 MW (Mega Watt). Energi matahari ini merupakan aset daerah yang harus dikelola dengan baik melalui perencanaan yang tepat. Dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah terkait transisi energi, Pemprov Jatim telah menerbitkan regulasi Perda Jatim Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perubahan Perda Nomor 6 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah Provinsi Jawa Timur.
Pemprov Jatim juga telah menerbitkan Pergub Jatim Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Rencana Umum Energi Daerah Provinsi Jawa Timur, Serta Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 671/630/124.5/2022 tentang Implementasi Pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap pada Gedung Pemerintah dan Swasta.
Sebagai implementasi regulasi tersebut, telah dilakukan akselerasi dan kolaborasi program kegiatan pemanfaatan PLTS baik oleh pemerintah, lembaga, swasta dan masyarakat. Hal ini dapat ditunjukKan dari pencapaian target Bauran Energi Baru Terbarukan Jatim sebesar 9,36 persen dari target yang ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) sebesar 6,55 persen. Capaian di atas tentunya berkat sinergi, kontribusi dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan terkait,” jelasnya.
Pulau Terpencil-Ponpes
Lebih lanjut Abdul Halim mengatakan, terdapat sejumlah pulau terpencil di Madura yang belum “mendapat” aliran listrik. Sejumlah pulau cocok untuk mendapat PLTS. Lebih efisien dibanding dengan menggunakan pembangkit berbasis bahan bakar minyak (BBM) atau pun batubara.
“Saya sendiri dari Komisi D yang salah satunya membidangi energi sudah beberapa kali meninjau sejumlah pulau terpencil di Madura yang sudah menikmati listrik dengan PLTS. Masih ada pulau terpencil yang hingga kini belum menmdapat aliran listrik. Ini harus menjadi perhatian kita semua,” katanya.
Seperti kita ketahui, pengembangan PLTS ke depannya harus lebih maju lagi. Ini sebagai bentuk kita memaksimalkan potensi EBT di Jatim. Di Pondok Pesantren (Ponpes) misalnya, juga sangat tepat bila menggunakan PLTS. Di penghujung 2024, Abdul Halim yang juga politisi Partai Gerindra itu meresmikan PLTS untuk Ponpes Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan Madura.
Abdul Halim mempunyai peran penting atas berdirinya PLTS di Ponpes Banyuanyar (pertama Ponpes di Jatim yang menggunakan PLTS) yang saat diresmikan menghasilkan listrik 5.000 watt. Sementara kebutuhan listriknya waktu itu 10.000 watt. Dengan demikian, waktu itu 50% kebutuhan listrik sudah dipenuhi oleh EBT.
Dia berkomitmen untuk terus memperjuangkan ponpes di Madura agar mendapatkan bantuan PLTS. Karena itu, dia minta dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Madura. ”Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Jawa Timur. Khususnya, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur. Karena telah merespons dan merealisasikan aspirasi masyarakat. Dalam hal ini, membantu PLTS pada Ponpes,” katanya.
“Saya berharap dan siap memperjuangkan agar Ponpes yang lain di Jatim, khususnya Ponpes di Madura juga ikut mensukseskan penggunaan EBT dalam hal ini PLTS lebih banyak lagi. Ini kan program pemerintah. Kami dari Komisi D, siap berkolaborasi dengan Dinas ESDM Jatim untuk mensuksekan program ini,” katanya.
Di samping itu, kantor pemerintah maupun swasta hingga rumahan harus mendapat perhatian kita dalam hal penggunaan PLTS ini. Abdul Halim mengatakan, penggunaan PLTS merupakan salah satu solusi yang sangat efektif untuk tidak memperparah global warming.
Capaian
Sementara itu Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur Aris Mukiyono mengatakan, Jatim berhasil membangun PLTS dengan total terpasang sebesar 75,23 MW. Dengan rincian PLTS Atap 67,11 MW dan PLTS tersebar dan komunal untuk memberikan akses energi masyarakat daerah terpencil dan kepulauan yang belum menikmati listrik sebesar 8,12 MW berdampak positif terhadap peningkatan Rasio Elektrifikasi Jawa Timur.

“Hal ini menunjukkan secara konkret bahwa Jatim telah berkomitmen aktif untuk mengakselerasikan transisi energi dalam mewujudkan pengelolaan energi yang berkeadilan, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta menjadi pemicu meningkatkan perekonomian masyarakat di Jatim,” kata Aris, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan besar di Jatim sudah membangun PLTS. Seperti PLTS Atap berkapasitas 9,8 Mega Watt peak (MWp) di kawasan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Kab. Sidoarjo, pada Oktober 2023. Waktu itu, hal tersebut merupakan PLTS Atap terbesar berbasis korporasi di Indonesia.
Juga terdapat Coca-Cola Europa Pacific (CCEP Indonesia). Dalam mendukung program Pemerintah mencapai Emisi Nol Bersih 2060 dan EBT sebesar 23 % pada awal 2025, perusahaan tersbut meresmikan PLTS di kawasan Mega Distribution Center dan Pabrik PSD Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Peresmian ini menandai kontribusi sektor industri dalam mempercepat implementasi energi bersih. PLTS Atap dengan kapasitas 2,4 Mega Watt peak (MWp) yang dibangun di area seluas 27.967 meter persegi ini diproyeksikan dapat berpotensi mengurangi emisi karbon hingga sekitar 2 juta kilogram CO2 per tahun. Investasi ini merupakan bagian dari komitmen global CCEP dalam RE100 initiative dan target penggunaan 100% energi terbarukan pada 2030.
“Saya yakin, ke depan akan banyak lagi perusahaan-perusahaan yang akan membangun PLTS. Juga demikian dengan yang lainnya. Harapannya, sudah barang tentu efisiensi salah satunya. Karena itu saya berharap, kolborasi Pemprov Jatim, DPRD Jatim hingga kalangan swasta harus berkolaborasi untuk mensukseskan program ini,” kata Halim.
Jawa Timur memainkan peran strategis dalam transisi energi nasional dengan potensi energi surya (PLTS) mencapai 176.390 MW dan kontribusi sebesar 14% terhadap total produk domestik bruto nasional. Pengembangan kawasan industri rendah karbon di provinsi ini merupakan bagian integral dari strategi pemerintah dalam mendorong investasi hijau dan memperkuat daya saing industri. Ini juga merupakan suatu bentuk kontribusi nyata kita semua dalam mewujudkan Net Zero Emission 2060.*





