2025, Co-Firing Ditargetkan Sumbang 12% Bauran Energi

oleh -90 views


JAKARTA I GlobalEnergi.co – PT PLN terus memacu penggunaan biomassa sebagai substitusi batubara di 40 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Melalui teknologi co-firing PLN Grup telah mampu menurunkan emisi karbon hingga 429 ribu ton CO2 sepanjang semester 1 2023.

Ke depan PLN bakal lebih trengginas lagi menggelar co-firing. Dimana dari 40 PLTU yang sudah terealisasi, hingga akhir tahun ini akan menambah dua PLTU. Sampai 2025 secara bertahap disa dilakukan di 52 PLTU.

“Sehingga, co-firing biomassa dapat menyumbang 12% dari total bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) di 2025,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo Darmawan dalam siaran pers, Selasa (25/7/2023).

Hingga tahun 2025 mendatang, lanjut Darmawan, PLN telah merancang peta jalan nasional program co-firing. Untuk itu, pihaknya terus berupaya agar target dekarbonisasi sebesar 954 ribu ton CO2 pada tahun 2023 bisa tercapai. “PLN terus berkomitmen mendukung upaya dekarbonisasi di Indonesia salah satunya dengan penerapan co-firing biomassa.

Per semester 1 2023, PLN berhasil menurunkan sebanyak 429.470 ton emisi CO2, dan ini akan terus kita lanjutkan guna mencapai target jangka panjang pada 2060 Indonesia bebas emisi atau lebih cepat,” ujar.

Dalam masa transisi energi, PLN menggunakan teknologi co-firing di PLTU sebagai upaya menekan penggunaan batubara. Co-firing merupakan substitusi batubara pada rasio tertentu dengan bahan biomassa seperti pellet kayu, sampah, cangkang sawit dan sawdust (serbuk gergaji).

Darmawan mengatakan, co-firing ini dilakukan tak sekedar mengurangi emisi, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan membangun ekonomi kerakyatan. PLN mengajak masyarakat untuk terlibat aktif membuat bahan baku co-firing mulai dari penanaman tanaman biomassa hingga pengelolaan sampah rumah tangga wilayahnya untuk dijadikan pellet.

“Kehadiran program ekonomi kerakyatan co-firing ini juga merupakan langkah nyata PLN menjawab persoalan global. Mewujudkan Indonesia yang bersih dan mandiri energi. Meningkatkan kapasitas nasional dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG),” kata Darmawan.

Secara kumulatif, selama semester 1 tahun 2023 jumlah penggunaan biomassa mencapai angka 0,4 juta ton. Hingga akhir tahun ditargetkan mencapai 1 juta ton lebih atau lebih tinggi dari pada tahun 2022 tercatat sebesar 0,58 juta ton. Begitu pula jika dilirik dari tahun 2021 yang hanya 0,29 juta ton. “Penggunaan biomassa ini akan terus bertumbuh hingga 10 juta ton pada tahun pada 2025,” katanya.

Adapun kebutuhan biomassa untu penerapan co-firing di wilayah Sumatera dan Kalimantan (Sumkal) sebanyak 38.547 ton, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara (Sulmapana) 12.445 ton dan Jawa, Madura dan Bali (Jamali) sebanyak 353.575 ton biomassa.

Selain itu, PLN tengah menerapkan berbagai terobosan anyar guna memastikan rantai pasok sumber biomassa ke pembangkit berjalan baik. Seperti pengiriman dilakukan dengan jalur laut memanfaatkan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, serta bekerja sama dengan pemerintah dan juga stakeholder dalam penyediaan biomassa.

“Jadi PLN bukan semata-mata menerapkan teknologi ini untuk mengurangi emisi saja. PLN sadar ada unsur ekonomi sirkular yang bisa membentuk ekosistem energi kerakyatan, di mana listrik ini dihasilkan dari kontribusi rakyat dan dinikmati kembali oleh rakyat,” kata Darmawan.

Upaya lewat jalur laut itu telah diupayakan PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mendapatkan pasokan biomassa berupa sawdust sebanyak 5.600 ton untuk kebutuhan PLTU Awar Awar Tuban Jatim dari PT Energi Primer Indonesia (EPI). Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah mengatakan, biomassa yang akan digunakan sebagai campuran bahan bakar PLTU dalam metode Co-firing ini rencananya akan didatangkan dari Bulu Kumba, Sulawesi Selatan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan biomassa PLTU Awar Awar sebesar 49.700 ton.

“Co-firing ini memanfaatkan biomassa dari limbah pertanian, perkebunan, dan industri pengolahan kayu sebagai pendamping batu bara dalam operasional PLTU,” kata Ruly, Senin (10/7/2023).

Ia mengatakan, co-firing menjadi salah satu roda penggerak dalam mewujudkan PLTU yang lebih hijau sekaligus membantu untuk mengurangi emisi dan merupakan salah satu langkah tepat dalam implementasi green energy.

“Dengan berbagai extraordinary effort di antaranya melalui biomass co-firing, kami berhasil menekan emisi gas rumah kaca. Selain itu, inovasi ini juga meningkatkan bauran EBT di lingkungan pembangkit PLN Nusantara Power,” ujarnya.

Produksi Energi Bersih
Hingga semester I, PLN NP telah memproduksi energi bersih dari inovasi co-firing sebesar 180,9 GWh atau setara dengan reduksi emisi karbon sebesar 182.049,06 MT. “Kami (PLN Nusantara Power) telah melakukan studi terkait co-firing sejak 2018 dan telah menerapkan co-firing pada 17 PLTU di Jawa dan luar Jawa. Contohnya PLTU Paiton kini telah berhasil dalam 6% co-firing dan kami harapkan akan dapat ditingkatkan presentase bauran co-firingnya,” kata Ruly.

Selain hal tersebut PLN NP juga menggalakkan co-firing karena inovasi ini merupakan salah satu langkah yang tepat dalam implementasi green energy dan juga merupakan salah satu dari program PLN “green booster” untuk mendukung target bauran energi EBT nasional.

Dorongan co-firing ini juga sebagai wujud nyata transformasi PT PLN (Persero) melalui aspirasi Green, dimana PLN terus meningkatkan bauran energi hijau dalam penyediaan listrik nasional. Dengan menerapkan co-firing, PLN dapat dengan cepat mengurangi emisi karbon dan melakukan peningkatan bauran EBT dengan tanpa perlu membangun pembangkit baru.

Co-firing merupakan teknik substitusi dalam pembakaran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), dimana sebagian batubara yang dijadikan bahan bakar diganti sebagian dengan bahan lainnya, yang dalam konteks ini adalah biomassa. “Tidak hanya dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap, namun co-firing juga dapat menjadi solusi permasalahan sampah sekaligus menggerakkan ekonomi. Karena salah satu bahan bakar co-firing bisa berasal dari Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP)” ujar Ruly.

PLN NP sendiri telah menjalin kerja sama dengan tiga (3) perusahaan asal Jepang untuk mengembangkan energi bersih pada unit pembangkit. Ketiga perusahaan tersebut adalah Sumitomo Heavy Industries (SHI), Misubishi Heavy Industries (MHI), serta Ishikawajima-Harima Heavy Industries (IHI Corporation) dalam co-firing ammonia.agk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.