Selepas sore, Riana (29) baru mulai mempersiapkan perlengkapan dan bahan membatiknya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga dituntaskan sejak pagi hari. Ibu satu anak ini memang sejak tahun 2015 ikut berperan membantu tulang punggung ekonomi keluarga menjadi perajin batik “Sekar Tanjung” di Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.
Padahal semula Riana awam sekali dengan pekerjaan membatik. Sehari-harinya ia hanyalah ibu rumah tangga dan berjualan makanan kecil. “Jadi kami proses menjadi perajin batik ini benar-benar dari nol. Berkat berbagai pelatihan yang difasilitasi PT Pertamina Fuel Terminal Tuban beberapa kali saya mulai mengenal bagaimana cara membatik,” tutur Riana kepada Global Energi, Kamis (28/10/2021).
Kala itu, ia bersama 20 wanita yang semuanya ibu-ibu rumah tangga menjadi cikal bakal sekaligus perintis kelompok perajin batik “Sekar Tanjung” setelah adanya penawaran pelatihan membatik di desanya.
”Di awal-awal kami memang menghadapi kesulitan. Wong memang gak ngerti. Tapi setelah melewati beberapa kali pelatihan dan semangat kami belajar akhirnya mulai bisa membatik,” tuturnya.
Hanya memang profesi para “Srikandi” batik di Desa Tasikharjo ini baru sambilan atau waktu sebisanya. Bahkan saat mendapat pekerjaan membatik pun sebagian besar dikerjakan di rumahnya masing-masing. Bukan selayaknya seperti industri atau usaha kerajinan batik umumnya.
“Jarang dikerjakan bersama-sama di toko batik. Paling mereka yang rumahnya dekat toko batik. Yang jauh ya dibawa ke rumah bahannya. Habis punya kesibukan sendiri,” tuturnya.
Meski demikian, profesi ‘sambilan’ sebagai perajin batik cukup membantu ekonomi keluarga Riana dan rekan seprofesinya. Dalam sebulan ia mengaku, bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Besarnya kecilnya pendapatan perajin memang bergantung seberapa banyak dia bisa menyelesaikan pekerjaan. Seperti untuk mengerjakan batik tulis para perajin mendapat honor hingga Rp 100 ribu. Untuk batik Cap dasaran dihargai Rp 25.000.
”Semakin rajin ya semakin banyak pendapatannya. Jadi gak ada target harus sekian,” aku Riana.
Seperti diketahui, PT Pertamina Patra Niaga Marketing Region Jatimbalinus Fuel Tuban memang telah melaksanakan program pemberdayaan UMKM batik “Sekar Tanjung” bagi wirausahawan perempuan di Desa Tasikharjo sejak tahun 2015. Pemberdayaan ini berupa keterampilan membuat batik tulis maupun cap. Dimana pada tahun 2020, FT Tuban mengalokasikan dana CSR untuk pengembangan program ini sebesar Rp 98, 91 juta dengan penyerapan dana sebesar 100%. Sementara di tahun 2021, dana yang dianggarkan sebesar Rp 125 juta sebagai tahun terakhir pendampingan program ini.
Ini mengingat batik sebagai salah satu kerajinan tangan yang memiliki nilai historis dan ciri khas, kelompok batik Sekar Tanjung berkreasi membuat ciri khas batik sendiri dengan mengangkat nilai-nilai batik yang sesuai dengan karakteristik Desa Tasikharjo.
Pandemi Terus Berkarya
Susiani (32), Ketua Kelompok Batik ‘Sekar Tanjung’ juga menceritakan, awal mula terbentuknya perajin batik di Desa Tasikharjo setelah ada tawaran dari PT Pertamina Fuel Terminal Tuban untuk mengikuti pelatihan membatik, mulai dari proses awal pembuatan batik sampai bisa membuat batik berupa kain yang siap untuk dipasarkan. Dalam proses belajar sudah pasti ada kendala.
“Apalagi kami benar-benar mulai dari nol sehingga ada beberapa kendala yang kami hadapi. Mulai dari bagaimana cara membuat pola, memegang canting yang benar, memahami alat dan bahan yang digunakan, baik itu dari proses membatiknya sendiri maupun proses pewarnaan batik,” cerita Susiani kepada Global Energi.
Namun seiring berjalannya waktu, kemampuan perajin batik “Sekar Tanjung” mengalami peningkatan baik dari sisi kualitas maupun kuantitas produk. Bahkan kelompok Batik “Sekar Tanjung” telah memiliki sebuah toko untuk menjadi pusat pemasaran kain batik di Desa Tasikharjo tersebut.
“Kami masih berharap bisa memiliki peralatan yang lebih banyak sehingga para perajin bisa tetap membatik di rumah masing-masing sehingga bisa dengan mudah memanfaatkan waktu luang disela-sela pekerjaan rumah,” harapnya.
Selain itu, keberadaan batik “Sekar Tanjung” juga turut melestarikan nilaikearifan dan potensi lokal dengan merepresentasikannya melalui motif yang dilukis di atas kain batik. Batik tulis dan cap oleh Kelompok Batik Sekar Tanjung memiliki nilai dan filosofi sendiri pada setiap motifnya sesuai dengan budaya Desa Tasikharjo yang berbeda dengan batik-batik lain yang ada di Kabupaten Tuban. Hingga saat ini terdapat 17 motif yang diciptakan dengan beragam warna khas dari Batik Sekar Tanjung. Ke-17 motif tersebut, yakni Sekar Tanjung, DangSumbi, Panduri (Pandan Berduri), Sekar Rama (Bunga Rama), Sekar Sinta (Bunga Sinta), Sekar Kupu (Kupu di Tengah Bunga), Tanjung Pipit, Salur Trisno (Cinta berantai), Sekar Gading (Bunga gading), Sekar Lintang (Bunga bintang), Kerang Ageng (Kerang besar), Sekar Lembut (Bunga kecil-kecil), Sekar Langit (Bunga yang tinggi), Sekar Godong (Daun Bunga), Sekar Wiji (Biji bunga), Kacang Tanjung, dan Sekar Melati.
Seperti motif Sekar Tanjung (Bunga Tanjung) ternyata memiliki filosofi dari nama kelompok Batik Sekar Tanjung. Secara Bahasa, Sekar Tanjung artinya Bunga Tanjung. Dilihat dari kondisi Desa Tasikharjo yang berada di daratan yang menjorok ke laut atau yang biasa disebut “Tanjung” dan kata “Sekar” yang memiliki arti “Bunga”. Sebutan “Sekar Tanjung” identik dengan Desa Tasikharjo, penamaan tersebut juga menjadi nama dari Taman Kanak-Kanak dan Kelompok Bermain yang ada di Desa Tasikharjo.
Kemudian motif Dangsumbi (Sumbi Udang). Filosofi penamaan motif ini berasal dari potensi Desa Tasikharjo berupa udang yang terlihat dari banyaknya tambak udang di desa ini. Potensi ini menjadi sumber inspirasi motif Batik Sekar Tanjung yang bertujuan untuk mempresentasikan kekayaan sumber daya alam Desa Tasikharjo. Adapun penamaan motif Dangsumbi berasal dari kata “Dang” yang artinya “Udang” dan “Sumbi” memiliki arti “Duri”, sehingga makna DangSumbi yaitu Duri Udang. Duri udang menjadi senjata bagi udang untuk melindungi dirinya dari musuh.
Bagaimana saat menghadapi pandemi Covid?Susiani mengatakan, perajin masih semangat berkarya serta berinovasi dengan membuat masker yang berbahan dasar kain batik seperti membuat masker yang menjadi kebutuhan protokol kesehatan, tas maupun dompet yang bisa dipakai dalam kegiatan apapun.
“Ke depannya, terus mengupayakan untuk meningkatkan kualitas batik Sekar Tanjung dengan pembuatan motif-motif batik yang baru, sehingga batik bisa digunakan tidak hanya pada acara resmi tapi juga bisa digunakan sehari-hari,” katanya.
Jumlah anggota kelompok pun terus bertambah. Sampai saat ini tercatat ada 35 anggota kelompok sesuai dengan tugasnya masing-masing. Harapannya jumlah itu bisa terus bertambah agar bisa berdampak positif terutama bagi para anggota.
” Dulunya kami hanya mengandalkan uang dari suami sekarang kami bisa membantu memberi tambahan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.Rata-rata bisa menghasilkan pendapatan Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan karena belum bisa full time pengerjaannya,” ujarnya.
Dari sisi omset penjualan batik sendiri, Susiani menyebutkan, rata-rata per tahun antara Rp 20 juta hingga Rp 50 juta. Adapun harga kain Batik Sekar Tanjung berkisar antara Rp 125 ribu- Rp 250 ribu untuk kain katun berukuran 150 cm x 150 cm, sedangkan untuk kain yang berbahan dasar sutra ukuran 150 cm x 150 cm dijual dengan harga Rp 300 ribu. Aksesoris seperti tas, dompet, dan masker dijual dengan kisaran harga Rp.10.000- Rp80.000. Sedangkan harga untuk kemeja batik dibandrol dengan harga Rp 250.000.
Untuk aspek pemasaran, untuk offline baru sebatas dalam kota Tuban. Namun untuk pemasaran juga lewat online terutama media social, sehingga memungkinkan batik Sekar Tanjung tidak hanya dikenal di Jenu atau Tuban melainkan bisa dikenal di seluruh Indonesia. “Tak menutup kemungkinan bisa menembus ke pasar internasional,’ katanya.
Tantangan
Susiani juga mengakui, masih ada hambatan dalam pengembangan Batik Sekar Tanjung. Ini mengingat kelompok yang terdiri dari beberapa orang dengan berbagai karakter ibu-ibu. Jadi yang sering muncul perbedaan pendapat.
“Namun hal itu tidaklah menjadi kendala atau hambatan yang berarti bagi kami, mungkin yang masih menjadi PR untuk kami adalah meningkatkan kualitas batik Sekar Tanjung.
Pemasaran produk menjadi salah satu tantangan lain yang dihadapi oleh kelompok Batik Sekar Tanjung, tidak adanya anggota yang dapat melakukan marketing dan memiliki kreativitas yang tinggi untuk membuat konten kreatif untuk pemasaran produk Batik Sekar Tanjung menjadi pekerjaan rumah yang besar dalam menemukan orang yang mampu melakukan pemasaran online. agung kusdyanto





