Amman Targetkan Produksi Emas Tembus 16 Ton pada 2026

oleh -5 views
oleh

JAKARTA I GlobalEnergi.co – PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menargetkan volume produksi emas mencapai 16 ton sepanjang 2026. Angka itu meningkat dibandingkan dengan realisasi 2025 yang berada di angka 3,8 ton.

Peningkatan target produksi emas tahun ini sejalan dengan pulihnya operasi tambang dan mulai beroperasinya smelter tembaga milik perseroan secara bertahap.

Presiden Direktur AMNT Rachmat Makkasau mengatakan peningkatan produksi tersebut ditopang oleh membaiknya aktivitas penambangan setelah fase pengupasan batuan penutup (stripping) mulai berkurang, sehingga perusahaan dapat meningkatkan pengambilan bijih (ore).

“Rencana produksi sampai akhir tahun 2026 kita berencana untuk memproduksi sekitar 162.000 ton katoda tembaga, kemudian sekitar 16 ton emas, 45 ton perak, sekitar 91 ton selenium, mulai memproduksi sekitar 1,96 ton tellurium, serta sekitar 572.000 ton asam sulfat,” kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7/2026).

Ia menjelaskan, produksi tambang AMNT sempat menurun pada 2025 karena perusahaan masih fokus melakukan pengupasan batuan penutup pada fase delapan tambang Batu Hijau. Kondisi tersebut membuat porsi aktivitas penambangan lebih banyak diarahkan untuk memindahkan material buangan dibandingkan dengan mengambil bijih, sehingga volume produksi logam ikut tertekan.

Memasuki 2026, produksi mulai meningkat dan diproyeksikan terus bertambah hingga beberapa tahun ke depan seiring makin besarnya volume bijih yang ditambang.

Selain emas, AMNT juga menargetkan produksi katoda tembaga mencapai 162.000 ton pada akhir 2026. Adapun produksi perak diperkirakan mencapai 45 ton, selenium 91 ton, tellurium 1,96 ton, serta asam sulfat sekitar 572.000 ton.

Rachmat menambahkan seluruh produksi logam pada tahap awal akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, ketika kapasitas produksi telah mencapai tingkat optimal, perusahaan membuka peluang melakukan ekspor, terutama untuk produk katoda tembaga.

“Keseluruhan produk prioritas utama adalah penjualan ke domestik. Pasti saat ini hampir semua maksimal juga ke domestik. Namun, kami lihat dalam perkembangan pada saat semua produksi sudah maksimal kemungkinan kami akan perlu ekspor terutama katoda tembaga,” tuturnya.

Di sisi hilir, Rachmat menyampaikan, smelter tembaga AMNT di Pulau Sumbawa kini telah mampu menyerap seluruh produksi konsentrat dari tambang setelah proses perbaikan dan commissioning ulang berjalan sesuai rencana.

Dia menuturkan smelter tersebut menggunakan Double Flash Technology, teknologi serupa yang diterapkan di fasilitas pemurnian PT Freeport Indonesia (PTFI). Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan 900.000 ton konsentrat per tahun yang seluruhnya berasal dari tambang Batu Hijau.

Pada kapasitas desain, smelter mampu menghasilkan sekitar 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, 77 ton selenium, serta sekitar 830.000 ton asam sulfat per tahun sebagai produk samping.

Kendati demikian, proses commissioning yang dimulai pada Juni 2024 sempat menghadapi sejumlah kendala teknis. Pada periode Februari hingga Agustus 2025 terjadi beberapa gangguan, mulai dari kebocoran pada sistem acid cooling hingga insiden kebakaran ringan di area flash smelting furnace, sehingga operasi harus dihentikan untuk perbaikan.

“Pada sekitar April 2026 kemarin operasi sudah mulai berjalan dan ramping up berjalan dengan baik sehingga pada sekitar bulan Juni 2026 itu kami sudah bisa memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini,” jelas Rachmat.

Menurutnya, meskipun kapasitas penuh 900.000 ton per tahun belum dapat dibuktikan karena volume produksi tambang saat ini masih berada di bawah kapasitas desain, smelter telah mampu beroperasi mendekati kapasitas maksimum selama beberapa pekan.

“Kami confident [percaya diri] bahwa operasi penambangan konsentrat yang dihasilkan oleh operasi penambangan pada tahun ini itu semuanya bisa diserap,” katanya.

Meski demikian, AMNT masih menjadwalkan penghentian operasi (shutdown) pada Desember 2026 atau Januari 2027. Langkah ini diambil untuk mengganti sejumlah peralatan yang belum sempat diperbaiki selama tahap awal commissioning.

Rachmat menegaskan penghentian operasi tersebut merupakan bagian dari penyempurnaan fasilitas agar kinerja smelter makin optimal pada saat produksi tambang meningkat mulai 2027.jef,bc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.