JAKARTA I GlobalEnergi.co – Direktur Utama (Presiden Direktur) PT Medco Energi Internasional Tbk Hilmi Panigoro menyebut bahwa target produksi nasional sebesar 1 juta barel minyak per hari pada 2029 mustahil tercapai jika tidak dibarengi dengan beberapa kebijakan pendukung di sektor hulu migas.
“Jika Anda ingin meningkatkan produksi kita dari 600 [ribu barel per hari] hari ini, sekarang tahun 2026. Dalam kurang lebih dari empat tahun [2030], sampai 1 juta barel, saya pikir dia harus tahu bahwa itu mustahil,” ungkap Hilmi dalam paparannya di IPA Convex 2026, Kamis (21/5/2026).
Meski begitu, Hilmi mengatakan langkah-langkah yang diambil oleh Indonesia untuk mencapai target ini sebenarnya sudah dalam jalur yang benar. Meski begitu, Indonesia perlu menggonjot kembali investasi sektor hulu migas untuk dapat mendukung target ini.
“Untuk memastikan kita melakukan yang terbaik, perlu physical term [kebijakan] terbaik, dollar exploration [investasi], dan untuk mendapatkannya kita perlu compete for it [berlomba memperebutkannya]. Jadi, kita harus memastikan physical term lebih baik daripada tetangga-tetangga kita lainnya,” imbuhnya.
Hilmi juga menjelaskan, waktu yang diperlukan untuk mendapatkan 1 juta barel bisa memakan waktu paling cepat 5-7 tahun.
“Mungkin waktunya terlalu cepat. Artinya kan sekarang ini pemerintah udah mengeluarkan banyak sekali blok baru untuk eksplorasi. Jadi, kemungkinan besar 1 juta bisa-bisa aja. Kalau mulai eksplorasi sampai dia produksi itu mungkin paling cepat 5-7 tahun,” jelas Hilmi.
Untuk diketahui, lifting minyak Indonesia secara konsisten berada di kisaran target 605.000 hingga 608.000 barel per hari. Ini berarti Indonesia perlu mengejar kekurangan sekitar 400 ribu barel per hari lagi.
“Itu tidak akan dari satu lapangan itu. Kalau untuk 1 juta, sekarang 600 [ribu barel], 400 ribu itu mungkin perlu beberapa lapangan [migas],” katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia telah meminta seluruh pihak bergerak cepat mengeksekusi wilayah kerja yang sudah mengantongi izin dan rencana pengembangan (Plan of Development/POD) demi menggenjot produksi siap jual (lifting) nasional. Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto telah menargetkan lifting minyak bumi Indonesia bisa kembali menyentuh angka 900.000 hingga 1 juta barel per hari (barrel per day) pada periode 2029–2030. Target ambisius ini dianggap sulit tercapai jika dari sisi birokrasi dan eksekusi di lapangan masih berjalan di tempat.
“Kami pemerintah meminta tolong agar semua teman-teman yang telah mendapatkan izin konsesi yang sudah lama dipegang dan sudah selesai POD, tolong segera dieksekusi. Ada masalah apa tolong dikabari,” kata Bahlil dalam agenda IPA Convention and Exhibition 2026, Rabu (20/5/2026).
Bahlil juga menginstruksikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto agar membereskan jajarannya yang kedapatan memperlambat proses perizinan atau birokrasi bagi pengusaha.
“Saya sudah minta kepada Lepala SKK Migas, kalau ada yang masih lambat di bawah, ganti orangnya. Jangan bikin pusing. Ini kata Pak Presiden Prabowo itu deep state. Tetapi kalau pengusahanya yang agak nakal, tertibkan mereka karena kita butuh yang baik semuanya,” pungkasnya.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM tercatat juga telah mengindentifikasi potensi dari 128 cekungan migas. Dari jumlah itu, 20 cekungan telah diusahakan, menyisakan 108 cekungan dengan potensi besar.jef,bt






