Resmikan RDMP Balikpapan, Prabowo Target Swasembada Energi 5 Tahun

oleh -27 views
oleh

JAKARTA I GlobalEnergi.co – Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Senin (12/1/2026). Dalam sambutannya, Prabowo menyebut kehadiran RDMP Balikpapan mampu mempercepat swasembada energi.

Presiden mengatakan, kehadiran RDMP menjadi bagian dari prestasi yang penting. Sebab, negara merdeka harus bisa menghasilkan hal-hal mendasar, seperti pangan secara berdikari.

“Energi juga bisa menghasilkan sendiri dan alhamdulillah, bangsa Indonesia diberi karunia luar biasa, sumber energi besar,” ujar Prabowo.

Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia. Indonesia juga mempunyai kemampuan menghasilkan energi dari tanaman. Indonesia juga memiliki cadangan minyak dan gas yang masih besar.

“Punya geotermal terbesar di dunia yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Juga kemampuan kita di energi dari air. Ke depan kita juga akan kembangkan tenaga surya dengan panel-panel, kita akan elektrifikasi sehingga kita sungguh-sungguh menghasilkan energi sendiri,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, menurut Prabowo Indonesia bisa swasembada energi. Pemerintah menargetkan untuk swasembada energi dapat dicapai pada 5 tahun mendatang.

“Tidak perlu impor dari luar. Dalam 5 tahun bisa capai ini. Tidak masalah jika tidak 5 tahun, bisa di tahun ke-6, kalau tidak tahun ke-6, tahun ke-7. Yang penting harus ke situ. Dengan kerja keras bisa lebih cepat,” katanya.

Meski begitu, menurutnya, terdapat sejumlah tantangan bagi Indonesia untuk menuju swasembada energi. Menurutnya, ada sejumlah pihak yang tidak suka dengan Indonesia yang berhenti impor energi.

“Ada pihak-pihak yang selalu tidak patriotik di dalam tubuh kita, tapi mungkin saya tidak mengerti apakah sudah dibeli bangsa lain. Menggagalkan prestasi kita sendiri,” ujarnya.

Seperti diketahui, RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis nasional yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kilang, sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia melalui pengolahan minyak mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Proyek besutan PT Kilang Pertamina Indonesia (KPI) itu mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.

Proyek strategis nasional (PSN) yang dibangun sejak 2019 ini, dinilai menjadi tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi. Pasalnya, proyek dengan total investasi setara Rp123 triliun ini untuk memodernisasi kilang eksisting.

Stop Impor Solar
Meski telah meresmikan RDMP Balikpapan, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut target penghentian impor solar khususnya jenis solar industri baru bisa diterapkan secara penuh pada paruh kedua tahun ini.

Untuk dipahami di Indonesia, impor solar dibagi berdasarkan tingkat angka setana (CN), yaitu solar CN 48 atau solar subsidi/umum dan satu lagi jenis solar CN 51 atau solar non subsidi yang biasanya digunakan untuk sektor industri.

Bahlil mengatakan, penghentian impor pada awal tahun ini akan dimulai dari solar CN 48 atau solar subsidi. Diikuti oleh solar industri pada paruh kedua tahun ini.

“Mulai tahun ini saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Kalau ada yang masuk bulan ini atau bulan depan, itu sisa impor 2025,” kata Bahlil ditemui di agenda peresmian RDMP di Balikpapan, Senin (12/1/2026).

“(Henti impor) CN 48 sama CN 51. Untuk CN 48 sama sekali sudah stop impor. CN 51-nya semester dua (2026) tidak kita impor lagi. Semester dua tahun ini,” tambah Bahlil.

Lebih jauh, Bahlil bilang bahwa RDMP Balikpapan akan memproduksi beberapa produk migas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, diantaranya: solar, bensin, LPG hingga Propilena (Propena) untuk bahan baku plastil

Khusus solar, Bahlil juga menyatakan Pertamina mampu memproduksi seluruh jenis solar yang dibutuhkan pasar domestik. Kualitas BBM dari RDMP Balikpapan juga meningkat dari standar Euro 2 menjadi Euro 5.

Peningkatan mutu tersebut dinilai menjawab perdebatan soal kualitas BBM nasional karena telah mengacu standar internasional.

Ke depan, pemerintah menyiapkan pengembangan RDMP di kilang lain, termasuk Dumai, dengan skema kerja sama swasta. Modernisasi kilang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, penyimpanan, dan nilai tambah industri energi nasional.

Perlu dicatat, dalam proyek RDMP Balikpapan fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci. Unit ini memungkinkan pengolahan residu minyak menjadi BBM dan petrokimia bernilai tinggi.jef,ktn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.