Genjot Produksi Migas, PHE Anggarkan Capex Rp 86 Triliun

oleh -44 views

JAKARTA I GlobalEnergi.co – Subholding Upstream PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar 5,7 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 86,26 triliun (kurs Rp15.134 per dollar AS) pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini.

Besaran belanja modal itu naik 78,12 persen dari realisasi anggaran sepanjang 2022 yang berada di angka 3,2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp48,47 triliun.

Porsi alokasi belanja modal untuk rencana merger dan akuisisi PHE tercatat naik signifikan ke level 1,5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 22,7 triliun pada tahun ini. Padahal, realisasi anggaran yang digunakan untuk merger dan akuisisi pada 2021 dan 2022 hanya berada di angka masing-masing 41 juta dollar AS dan 27 jutadollar AS

“Anggaran tersebut diperuntukkan untuk kegiatan pengeboran, tahun 2023 mencapai 943 sumur pengembangan atau naik 73 persen, 32 sumur eksplorasi, 688 workover dan 30.159 well intervention well services,” kata Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Wiko Migantoro saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (7/2/2023).

Lewat alokasi capex yang relatif progresif itu, Pertamina berharap terjadi penambahan produksi minyak dan gas (migas) sebesar 5 persen pada tahun ini jika dibandingkan dengan torehan tahun lalu. Produksi minyak mentah tahun ini ditargetkan dapat naik ke level 595 MBOPD dari angka tahun lalu di angka 566 MBOPD. Sementara itu, produksi terangkut atau lifting minyak tahun ini ditarget 590 MBOPD atau naik 4 persen dari realisasi 2022 di level 565 MBOPD.

Di sisi lain, produksi gas nasional diharapkan naik ke angka 2.763 MMCFD dari posisi tahun sebelumnya 2.624 MMCFD. Sementara produksi gas terangkut dipatok 1.891 MMCFD atau naik 1 persen dari torehan 2022 di angka 1.870 MMCFD.

“Strategic project 2023 pengembangan Rokan dengan potensi penambahan cadangan 77,3 juta barel minyak dengan 717 sumur pengeboran selama 4 tahun,” kata dia.

Selain itu, kata dia, PHE juga turut berupaya mengembakan lapangan Offshore-North West Java, Mahakam, Sanga Sanga yang masih berpeluang untuk ditingkatkan mendatang.

“Untuk eksplorasi kita melakukan kegiatan migas nonkonvensional untuk mendorong long term,” tuturnya. Adapun, Pertamina saat ini mengelola produksi migas sebesar 1,02 juta BOEPD dari 65 blok migas yang berada di dalam negeri dan internasional dengan besaran cadangan P1 yang dikelola mencapai 2,2 BBOE.

Kendati demikian, PHE melaporkan sejumlah lapangan tua yang saat ini dikelola Pertamina mengalami penurunan produksi alamiah atau declined rate lebih dari 50 persen.

Sejumlah WK yang tercatat mengalami penurunan produksi signifikan itu di antaranya Rokan, Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Kendati demikian, PHE melaporkan sejumlah lapangan yang berhasil menorehkan produksi melebihi target berasal dari WK Offshore North West Java (1,7 MBOPD), PEP Jatibarang (0,9 MBOPD), PT Pertamina Hulu Mahakam (1,3 MBOPD & 30 MMCFD), JOB Tomori (22 MMCFD) dan Corridor (6 MMCFD).

PHE memproyeksikan produksi migas subholding hulu Pertamina hingga akhir 2022 dapat menyentuh di angka 808 MBOEPD. Torehan itu berasal dari perolehan produksi minyak sebesar 418 MBOPD dan gas di kisaran 2.256 MMCFD. Prognosa produksi migas dari subholding hulu Pertamina itu relatif lebih rendah dari target awal yang sempat dipatok optimistis pada awal 2022. Saat itu, target produksi migas ditetapkan sebesar 854 MBOEPD yang berasal dari capaian minyak 446 MBOPD dan gas 2.363 MMCFD. jef

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.