JAKARTA I GlobalEnergi.co – Pertamina memproyeksikan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure hingga 2024 untuk mendanai sejumlah proyek mencapai 92,36 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 1.288 triliun apabila mengacu pada kurs Rp14.000 per dollar AS.
Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini menjelaskan, pihaknya mendapat penugasan dari proyek strategis nasional sebanyak 14 proyek mulai dari hulu hingga ke hilir seperti proyek kilang, gas atau energi bersih dan terbarukan yang hingga saat ini terus berjalan.
Menurut dia, mayoritas proyek PSN yang dikerjakan Pertamina bertujuan untuk menekan defisit neraca perdagangan yang disebabkan oleh impor komoditas energi seperti BBM, liquefied petroleum gas (LPG), dan juga petrokimia.
“Jadi, kalau dilihat 5 tahun ke depan hingga 2024 ini total capex [capital expenditure] kami kurang lebih 90 miliar dollar AS, ini tentunya kalau melakukan sendiri kami overstretch. Jadi, kami mengharapkan dari sisi capital financing apakah itu dari financial bank apakah itu dari multilateral,” kata Emma dalam webinar Prospek BUMN 2021 sebagai Lokomotif PEN dan Sovereign Wealth Fund, Kamis (4/3/2021).
Emma memaparkan, dari total belanja modal yang disiapkan hingga 2024 itu, porsi terbesar masih akan dikucurkan untuk sektor hulu migas. Sektor itu akan menyerap anggaran capex senilai 64 miliar dollar AS dari total dana yang disiapkan. Anggaran itu sekitar 45 miliar dollar AS akan digunakan untuk aksi korporasi merger dan akuisisi lapangan migas guna menambah cadangan yang ada.
Selanjutnya, 14 miliar dollar AS akan digunakan untuk pengembangan bisnis organik seperti mempertahankan laju penurunan produksi atas aset-aset yang ada di hulu Pertamina, dan 5 miliar dollar AS untuk anggaran pemeliharaan. Sementara itu, porsi terbesar kedua dalam struktur belanja modal Pertamina akan diserap sektor hilir yakni untuk pembangunan kilang baru dan juga peningkatan kilang yang ada. Postur itu akan menyerap anggaran senilai 20 miliar dollar AS.
Emma menyebutkan, 18 miliar dollar AS akan digelontorkan untuk mendanai proyek pembangunan kilang baru dan peningkatan fasilitas kilang yang ada. Sementara itu, 2 miliar dollar AS akan digunakan untuk kegiatan distribusi dan pemasaran infrastruktur. Selebihnya atau sekitar 8 miliar dollar AS akan dialokasikan untuk mendanai sektor gas, power, energi baru dan terbarukan seperti untuk pembangunan jalur pipa, regasifikasi.
“Dari 92 miliar dollar AS hanya 38 persen yang bisa kita danai dari internal, selebihnya tentu kita sangat terbuka dengan opsi dan mekanisme eksternal funding,” ungkapnya.jef





