Dari Tanah Bumbu, Tonggak Baru Diversifikasi Menghadirkan Solusi

oleh -74 views
Aktivitas survei seismik para perwira Elnusa di lahan tambang milik PT Wahana Baratama Mining di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Tampak Central Control Room untuk aktivitas akusisi data. Dok Elnusa

Lahan tambang milik PT Wahana Baratama Mining di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan menjadi saksi bisu tonggak sejarah ekspansi bisnis yang diukir PT Elnusa Tbk. kali pertama di sektor pertambangan. Berjuang dengan penuh integritas dan kerja keras selama hampir enam bulan terhitung mulai November 2024 hingga April 2025, para perwira Elnusa berhasil menuntaskan proyek survei seismik pertama di konsensi lahan tambang batubara milik anak perusahaan Bayan Group tersebut.

Kegiatan survei tambang yang penuh tantangan dan pengalaman baru ini mencakup akuisisi hingga pemrosesan data. Cakupan survei meliputi area 3D seluas 25,85 kilometer persegi dan lintasan multi-2D sepanjang 13,14 kilometer persegi. Di akhir November 2024 tim teknis Elnusa telah menyelesaikan desain awal untuk survei 3 D dengan luas 25,85 km² dan mencakup 9.132 titik perekaman. Selain itu, survei ini mencakup 7 lintasan survei 2 D dengan total panjang 13,14 km dan mencakup 1.321 titik perekaman.

“Kerjasama dalam proyek survei seismik ini dilatarbelakangi kebutuhan akan data bawah permukaan yang akurat untuk mendukung eksplorasi tambang batubara, khususnya dengan metode tambang bawah tanah atau underground mining. Hal ini menjadikan kami harus kerja ekstra sekaligus ujian bagaimana bisa proyek ini sukses,” kata Party Chief Project Elnusa Andi Mahri kepada Global Energi, Jumat (15/8/2025).

Seperti diketahui, survei seismik merupakan salah satu metode pemetaan bawah permukaan yang digunakan untuk menginterpretasikan lapisan batuan serta memberikan gambaran struktur geologi di bawah permukaan bumi. Dalam eksplorasi batubara, kata Andy, pemahaman terhadap kondisi bawah permukaan sangat penting untuk menentukan prospek lapisan batubara, baik dari segi volume cadangan maupun pengembangan eksplorasi lebih lanjut.

Khusus untuk metode tambang bawah tanah, informasi mengenai zona lemah (struktur geologi) dan jenis lapisan batuan sangat diperlukan sebagai acuan dalam perencanaan desain tambang, termasuk analisis potensi longsor, kestabilan terowongan, dan aspek geoteknik lainnya. Sehingga tujuan utama survei seismik 2D dan 3D di Kabupaten Tanah Bumbu adalah memperoleh data seismik bawah permukaan guna mendukung interpretasi struktur geologi.

“Khususnya pada area prospek lapisan batubara pada kedalaman sekitar 600 meter, yang menjadi perhatian utama Wahana Baratama Mining,” jelasnya.

Data seismik ini nantinya, akan digunakan untuk mengonfirmasi hasil interpretasi bawah permukaan dengan bantuan data pendukung lainnya, seperti data pengeboran (coring drilling), dalam perencanaan tambang bawah tanah (underground mining).

Hasil survei seismik juga memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi bawah permukaan, terutama terkait dengan kemenerusan, pelamparan, dan orientasi lapisan batubara.

“Dengan informasi ini, perencanaan tambang dapat dilakukan lebih efektif dan terarah, akan meningkatkan efisiensi eksplorasi serta optimasi produksi,” jelas Andi, yang sudah menggeluti proyek seismik di Elnusa hampir 20 tahun.

Selain itu, akurasi dalam estimasi cadangan (volume prospek) dapat ditingkatkan, memungkinkan tim perencana tambang untuk menentukan kebutuhan sumber daya produksi secara lebih tepat guna. Data seismik juga berperan dalam menentukan lokasi pengeboran (drilling coring) yang lebih strategis sebagai data konfirmasi, sehingga jumlah titik pengeboran dapat dikurangi tanpa mengorbankan keakuratan interpretasi bawah permukaan. Hal ini berdampak pada efisiensi biaya dan waktu dalam eksplorasi serta mendukung pengembangan metode penambangan yang lebih optimal.

Strategi Diversifikasi
Keberhasilan implementasi survei seismik di sektor pertambangan menunjukkan kompetensi geofisika Elnusa dapat diterapkan lebih luas, tidak hanya untuk eksplorasi minyak dan gas, tetapi juga untuk eksplorasi mineral dan perencanaan tambang bawah tanah.

“Dan langkah berani ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi Elnusa untuk memperkuat portofolio jasa non-migas sekaligus memanfaatkan peluang pasar yang berkembang pesat,” kata Direktur Operasi Elnusa, Endro Hartanto kepada Global Energi, Jumat (15/8/2025).

Keberhasilan proyek tersebut, kata Endro, telah membuka ruang dan peluang baru bagi anak perusahaan Pertamina Hulu Energi (PHE) ini masuk ke sektor pertambangan, sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai pioner teknologi survei seismik non-migas di Indonesia. Setidaknya proyek ini menjadi milestone penting, karena merupakan survei seismik 3D dan multi-2D pertama bagi Elnusa di sektor pertambangan batubara. “Dengan kapabilitas geofisika terintegrasi dari hulu ke hilir, Elnusa siap menjadi mitra strategis dalam mendorong keberlanjutan sektor energi nasional,” ujarnya.

Menurut Endro, dengan meningkatnya kebutuhan mineral strategis, termasuk batubara untuk transisi energi dan ketahanan energi nasional, membuka ruang bagi kompetensi geofisika Elnusa yang selama ini teruji di sektor migas.

“Dengan teknologi dan pengalaman puluhan tahun di survei seismik, kami yakin dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi industri pertambangan,” katanya meyakinkan.

Potensi Besar
Dengan terus berkembangnya sektor pertambangan dan kebutuhan akan sumber daya alam yang semakin meningkat, bisnis survei seismik memang memiliki potensi yang signifikan untuk terus tumbuh dan berkontribusi pada eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam yang berkelanjutan.

Endro sendiri juga melihat, potensi maupun peluang bisnis survei seismik di sektor pertambangan Indonesia sangatlah besar. Ini mengingat industri pertambangan di Indonesia, khususnya batubara dan mineral strategis memerlukan data geofisika yang presisi untuk perencanaan tambang yang aman dan efisien. Apalagi pemain di segmen ini masih relatif sedikit sehingga Elnusa memiliki peluang besar untuk menjadi market leader di survei seismik non-migas.

“Karena itu, kami tengah menjajaki beberapa peluang kerja sama dengan pelaku pertambangan nasional. Sebagai bagian dari diversifikasi bisnis Elnusa,” katanya.

Pernyataan Endro tak salah. Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait cadangan batubara Indonesia memang masih cukup besar. Adapun total cadangan batubara Indonesia mencapai 31,96 miliar ton hingga akhir Desember 2024. Angka tersebut merupakan hasil kompilasi dan pemutakhiran data dari 1.656 lokasi tambang yang tersebar di 23 provinsi.

Sementara potensi cadangan tambang Indonesia pada tahun 2025, khususnya batubara, diperkirakan mencapai 31,95 miliar ton. Secara rinci, cadangan terkira tercatat sebesar 14,42 miliar ton, sementara cadangan terbukti mencapai 17,54 miliar ton. Sedangkan total sumber daya batubara nasional yang belum menjadi cadangan juga masih sangat besar, yakni mencapai 97,96 miliar ton.

Data ini berasal dari berbagai sumber, termasuk perusahaan pemegang izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), dan Izin Usaha Pertambangan (IUP), serta hasil investigasi langsung oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP). Klasifikasi cadangan dan sumber daya tersebut mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 5015-2019 serta mengadaptasi sistem internasional seperti ASTM dan UN-ECE. Selain berdasarkan klasifikasi geologi, pengelompokan batubara juga dilakukan menurut nilai kalorinya.

Berdasarkan nilai kalorinya, mayoritas sumber daya batubara nasional masih didominasi oleh batubara kalori rendah (4.200 kkal/kg), yakni sebesar 67,33 miliar ton. Sisanya terdiri dari batubara kalori sedang (15,53 miliar ton) dan batubara kalori tinggi (15,10 miliar ton).

Adapun dari sisi klasifikasi geologi, sumber daya batubara Indonesia terdiri atas sumber daya tereka sebesar 25,95 miliar ton, sumber daya tertunjuk 32,23 miliar ton, dan sumber daya terukur mencapai 39,78 miliar ton.

Kementerian ESDM menegaskan, data ini akan menjadi acuan utama dalam menyusun kebijakan energi nasional, terutama dalam menjaga kesinambungan pasokan energi domestik di tengah tekanan transisi energi global.

“Pemutakhiran data yang akurat menjadi kunci untuk memastikan ketahanan energi nasional dan mendukung perencanaan investasi sektor hilir batubara,” tulis ESDM dalam laporan resminya, dikutip Senin (28/7/2025).

Teknologi dan Tantangan
Adapun metode dan teknologi yang digunakan Elnusa dalam survei seismik ini mencakup survei seismik 2D dan 3D menggunakan sumber getar vibroseis serta sensor penerima gelombang – nodes system. Survei seismik 2D menghasilkan citra bawah permukaan dalam satu lintasan garis lurus, menyerupai gambar hasil rontgen dalam dunia medis. Metode ini memberikan gambaran stratigrafi dan struktur geologi dalam satu bidang vertikal.

Pada survei seismik 2D di lokasi batubara ini, paparAndi, diterapkan metode khusus dengan konfigurasi beberapa lintasan penerima (geophone) yang merekam secara simultan dalam satu kali penggetaran. Pendekatan ini memungkinkan rekonstruksi data menjadi citra bawah permukaan dengan aspek kedalaman dan sebaran lateral yang lebih baik, dikenal sebagai seismik 2.5D

Survei seismik 3D menghasilkan citra bawah permukaan dalam tiga dimensi, menyerupai hasil CT scan atau USG, yang memungkinkan interpretasi lebih detail terhadap bentuk dan sebaran struktur geologi secara lateral maupun vertikal.

Sumber getar menggunakan Vibroseis Envirovibe.Vibroseis adalah kendaraan khusus yang dapat menghasilkan gelombang seismik dengan frekuensi dan kekuatan yang dapat disesuaikan dan ramah lingkungan. Gelombang ini merambat ke bawah permukaan, memantul di setiap lapisan batuan, lalu kembali ke permukaan.

Perekaman menggunakan Nodes System ini gelombang seismik yang kembali ke permukaan direkam oleh sensor yang disebut geophone. Dalam survei ini, digunakan geophone system nodes yang lebih praktis dibandingkan geophone kabel, karena mengurangi jumlah material kabel yang digunakan, sehingga lebih fleksibel dalam pemasangan di medan sulit. Selain itu, mempermudah operasional dan mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. “Metode Vibroseis dan Wireless Geophone cocok untuk eksplorasi batubara dan struktur geologi dangkal.” ujarnya.

Terkait tantangan di lapangan, menurut Andi, perbedaan utama terletak pada karakteristik medan dan jenis data yang dibutuhkan. Di pertambangan, kontur wilayah sering kali ekstrem dengan akses terbatas sehingga membutuhkan strategi logistik yang tepat.

Dari sisi teknologi, instrumen survei perlu disesuaikan dengan target mineral yang dicari. Sementara di migas, tantangannya lebih pada kedalaman dan kompleksitas struktur bawah permukaan.

“Meski berbeda, prinsip keselamatan dan efisiensi tetap menjadi prioritas di kedua sektor,” tandasnya.

Elnusa juga menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di sektor pertambangan ini melalui tiga pendekatan utama. Pertama, memperluas basis klien. Kedua, mengoptimalkan teknologi survei terkini yang dimiliki dan ketiga, membangun strategic partnership dengan pelaku industri untuk memastikan keberlanjutan proyek.

Garap Proyek Strategis
Selain ke sektor pertambangan, pengembangan bisnis baru atau new business development juga terus digelar Elnusa, khususnya di sektor-sektor strategis. Saat ini aktif fokus pada diversifikasi ke energi terbarukan, seperti panas bumi (geothermal) dan potensi layanan pendukung di sektor energi baru lainnya.

Di antaranya, Elnusa tengah mengembangkan Binary Heat Exchanger for Geothermal dan Inflow Control Device (Downhole Flow Regulator), serta solusi Ecolift Hydraulic Pumping Unit untuk optimalisasi sumur idle. “Pengembangan ini merupakan sinergi antar subholding Pertamina bersama PT Pertamina Geothermal Energy,” kata Endro.

Komitmen terhadap energi berkelanjutan juga ditunjukkan dengan ikut ambil bagian dalam pengembangan Battery Charging Station dalam ekosistem kendaraan listrik (EV Ecosystems) serta implementasi teknologi Carbon Capture Utilization & Storage (CCUS) untuk mendukung transisi energi. Dalam tahap awal, Elnusa menggunakan pompa untuk injeksi karbon hasil produksi migas ke reservoir bawah tanah.

Tak hanya itu, emiten yang bergerak di bidang jasa energi terintegrasi berkode saham ELSA tersebut juga terus mengembangkan layanan bundling services yang mengintegrasikan hulu, hilir, dan jasa pendukung, sehingga menciptakan nilai tambah bagi klien sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Dengan pendekatan ini, kami dapat menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” jelas Endro.

Menjawab arah kebijakan energi pemerintah menuju rendah karbon, Elnusa mulai masuk ke bisnis gas dan energi rendah karbon sejak dua tahun lalu. Salah satu proyek prioritasnya pengembangan mini LNG dari sumber gas marginal dan flare gas yang sebelumnya tak termanfaatkan.

Fokus Hulu Migas
Meski demikian melihat kebutuhan energi yang tetap tinggi, masih kata Endro, menempatkan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) sebagai fondasi penting. . “Strategi kami menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya dan inovasi teknologi,” katanya.

Memasuki paruh kedua tahun 2025, Elnusa memantapkan langkah dengan menetapkan beberapa program strategis sebagai landasan penguatan kinerja hingga akhir tahun. Di antaranya, aspek HSSE atau Health, Safety, Security, dan Environment menjadi prioritas utama dalam setiap lini operasional. Keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya sebagai kewajiban, melainkan merupakan budaya yang terus diperkuat demi menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.

“Kami terus mengoptimalkan efisiensi biaya, memperluas sinergi antar entitas dalam Grup Elnusa, mendorong investasi tepat guna, serta meningkatkan kompetensi SDM melalui pengembangan berkelanjutan dan penerapan teknologi yang terjangkau dan relevan,” kata Direktur Pengembangan Usaha Elnusa, Arief Prasetyo Handoyo.

Arief menegaskan, pentingnya investasi berkelanjutan untuk memperkuat posisi di sektor hulu maupun hilir migas. Tanpa investasi yang selektif dan cermat, kita akan tertinggal. “Maka kami fokus pada sinergi, kemitraan strategis, dan pengembangan bisnis yang berbasis value creation,” kata Arief

Arah kebijakan energi global yang tetap memberi ruang kepada energi fosil, menjadi momentum bagi Elnusa untuk memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional. Lantaran itu sejak awal melakukan kesiapan dalam menghadapi dinamika energi global melalui transformasi strategis dan penguatan layanan jasa hulu migas yang adaptif dan berkelanjutan.

Apalagi ada tren kenaikan investasi di sektor hulu migas dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data dari SKK Migas, tercatat realisasi investasi hulu migas pada 2020 sebesar 10,5 miliar dollar AS, pada 2021 sebesar 10,1 miliar dollar AS, 2023 sebesar 13,72 miliar dollar, pada 2024 sebesar 15,3 miliar dollar AS dan hingga semester I-2025 tercatat sebesar 7,19 miliar dollar AS dengan proyeksi target hingga akhir tahun sebesar 16,5 miliar dollar AS hingga 16,9 miliar dollar AS.

Lonjakan investasi tersebut tentunya menjadi peluang tersendiri bagi Elnusa, untuk memperluas pangsa pasar di tengah dinamika sektor energi.

“Hal ini menjadi opportunity bagi Elnusa selaku perusahaan services untuk memanfaatkan data ini atau kondisi ini dalam meningkatkan market share Elnusa di kegiatan migas,” katanya.

Untuk menjawab tantangan industri migas dan mendukung transisi menuju energi bersih, lanjut Arief, Elnusa telah menyiapkan tujuh strategi utama. Strategi pertama, memperkuat sinergi dengan Pertamina Group sebagai captive market utama. Maklum, saat ini 80% captive market Elnusa berasal dari Pertamina grup dengan produknya berupa crude oil, gas, bbm serta petrochemical.

Strategi berikutnya, menjalin kemitraan strategis (strategic partnership) baik di lingkungan internal Pertamina maupun dengan penyedia teknologi eksternal. Tujuannya adalah untuk mitigasi risiko dan efisiensi biaya. Elnusa mendorong peningkatan kolaborasi dengan seluruh subholding Pertamina, untuk mendukung pencapaian rencana kerja grup energi pelat merah tersebut.

Ketiga, selektif dalam memilih investasi. Dengan keterbatasan sumber daya, Elnusa memastikan investasi dilakukan secara prudent agar tetap efisien dan berdampak maksimal.

“Ini juga harus kita lakukan karena tanpa adanya suatu screening di dalam mengajukan investasi kita tidak akan turun atau aktif di dalam kegiatan tersebut. “Nah tentunya hal ini menjadi keharusan karena bagaimanapun juga kegiatan-kegiatan yang prudent itulah yang menjadi prioritas kami untuk melakukan investasi dengan adanya keterbatasan resource yang kami miliki,” tegas Arief.

Strategi selanjutnya, pengembangan bisnis baru (new business development). Elnusa mulai bertransformasi dari penyedia jasa menjadi perusahaan yang mampu menciptakan produk bernilai tambah, misalnya digital pipeline cleaning dan bahan kimia peningkat performa sumur.

“Nanti ke depan kita tidak hanya menawarkan service saja tapi kita juga akan membuat produk dan menjual produk di dalam kegiatan bisnisnya,” jelas Arief.

Strategi kelima, menjaga produktivitas kerja baik dari sisi manusia maupun aset. Keenam, membangun kapabilitas dan budaya perusahaan yang adaptif terhadap perubahan. Dan yang terakhir, memperkuat kondisi keuangan melalui efisiensi dan selektivitas investasi.

“Untuk investasi kita lokasikan kurang lebih 45% di upstream, sekitar 30% di logistik, sisanya ada di support, non-project, dan new business development,” ungkap Arief.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pertumbuhan bisnis berkelanjutan, pada tahun 2025, Elnusa mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 594 miliar yang difokuskan untuk memperkuat segmen utama bisnis. Dari total alokasi tersebut, sebesar 56,4% diperuntukkan bagi Upstream & Support Services, 30,3% dialokasikan ke Energy Distribution & Logistics, serta 13,3% digunakan untuk Non-Project dan New Business Development.

Elnusa menerapkan pengembangan bisnis dan prinsip investasi yang prudent dan terarah, sesuai dengan tata kelola dan manajemen risiko perusahaan, sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi industri energi dan seluruh pemangku kepentingan.
Hingga semester I-2025, realisasi capex baru mencapai Rp 234 miliar atau 39% dari target. Arief menjelaskan, keterlambatan terjadi karena adanya penyesuaian permintaan pasar. “Terlambat ini pun juga disebabkan karena demand juga agak mundur. Jadi agar tidak menambah cost of money karena kita pesan duluan, tentunya itu kita sesuaikan,” jelas Arief.

Namun, ia optimistis, realisasi capex akan dikejar di semester II-2025. ” Tapi insyaallah sampai akhir tahun kita akan menyelesaikan beberapa kegiatan investasi yang akan kita lakukan di semester-II 2025,” tuturnya.

Ketahanan energi memang menjadi elemen penting dalam memastikan keberlanjutan pembangunan suatu negara. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi global, teknologi modern. Maka survei seismik menjadi salah satu solusi utama dalam menjamin ketersediaan sumber daya energi yang cukup dan efisien. Semangat inilah yang akan terus dilanjutkan Elnusa ke depannya. Semangat perusahaan untuk terus bergerak maju, memberikan energi positif, dan memberikan dampak positif dalam industri energi sekaligus solusi. Hal ini sesui dengan visinya “Perusahaan Jasa Energi Terkemuka yang Memberikan Solusi Total”. agung kusdyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.