Bojonegoro – Di tengah hutan Bojonegoro, Jawa Timur, berdiri sebuah fasilitas pengolahan gas yang menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga pasokan energi nasional. Gas Processing Facility (GPF) Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB). Dioperasikan oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12, plant ini bukan sekadar fasilitas produksi gas, melainkan bukti bagaimana keandalan operasional, sumber daya manusia lokal, dan komitmen keselamatan berpadu untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.
Sebagai salah satu proyek strategis nasional (PSN) di sektor hulu migas, GPF JTB dirancang dengan standar keandalan tinggi agar mampu menjaga kontinuitas produksi gas secara konsisten. Keandalan ini menjadi kunci utama, mengingat gas yang dihasilkan JTB telah menjadi tumpuan berbagai sektor vital nasional.
Kinerja produksi yang melampaui target. Raw gas yang berhasil diproduksi saat ini mencapai 298,24 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), atau lebih tinggi sekitar 4% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dan sekitar 9% dari target dalam Work Program & Budget (WP&B) yang disepakati bersama pemerintah melalui SKK Migas.
General Manager PEPC JTB Rahmat Ali Hakim mengatakan, ini semua berkat komitment seluruh tim dalam menjaga keandalan produksi.
“Capaian produksi yang melampaui target RKAP maupun WP&B ini adalah buah kerja keras seluruh insan JTB dalam menjaga keandalan plant. Kami berkomitmen menjaga kontinuitas pasokan gas agar terus menopang kebutuhan energi nasional,” ujarnya.
Tren positif ini konsisten dalam hitungan sebulan berjalan atau Month-to-Date (MTD) maupun sejak awal tahun Year-to-Date (YTD), di mana produksi tetap berada di atas target yang ditetapkan. Capaian ini semakin menegaskan peran JTB sebagai salah satu pilar utama ketahanan energi nasional. Salah satu parameternya gas yang diproduksi JTB memasok hingga 65% kebutuhan gas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di wilayah Sales Operation Region (SOR) III yang meliputi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara, Balikpapan, serta Kawasan Timur Indonesia, menjadikan Lapangan JTB tumpuan utama penyediaan energi bagi industri dan masyarakat di kawasan.
Selain itu, yang disalurkan melalui Gas Sales Metering juga menunjukkan tren positif. Saat ini, realisasi Gas Sales tercatat 176,95 MMscfd, atau sekitar 5% di atas RKAP dan 9% di atas WP&B. Secara MTD, penyaluran gas mencapai 176,92 MMscfd, sedangkan secara YTD tercatat 151,55 MMscfd di mana keduanya tetap konsisten berada di atas target RKAP maupun WP&B.
Tak berhenti di situ, Lapangan JTB kini bersiap memperluas kontribusinya dengan menyuplai gas sebesar 3,5 MMscfd sebagai bahan baku Liquefied Natural Gas (LNG). Langkah ini dinilai strategis mengingat LNG berperan sebagai sumber energi yang dapat menjangkau layanan lebih luas dan merata, sekaligus menjadi solusi ketika gas harus dikirim ke lokasi atau wilayah yang belum terhubung dengan jaringan pipa transmisi gas.
Pemanfaatan gas JTB juga telah mendukung sektor ketahanan pangan melalui suplai untuk PT Petrokimia Gresik (PKG), di mana sebesar 15 MMscfd gas digunakan sebagai bahan baku pupuk. Selain itu, sebesar 0,15 MMscfd gas JTB dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan jaringan gas rumah tangga bagi ribuan pelanggan di Lamongan, Jawa Timur.
Terbaru, sebesar 1,3 MMscfd gas JTB turut mendukung sektor transportasi dalam bentuk Bahan Bakar Gas (BBG) di dua provinsi, yakni Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan tingkat keandalan operasional yang terus dijaga, PEPC memastikan pasokan gas dari JTB dapat diandalkan sebagai bagian dari rantai pasok energi nasional, sejalan dengan amanah pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi di tengah dinamika kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.

Di balik kehandalan operasional GPF JTB, terdapat kisah inspiratif tentang pemberdayaan sumber daya manusia lokal. Melalui program apprentice yang digagas bersama oleh SKK Migas dan PEPC, 108 putra putri terbaik asal Bojonegoro dilatih secara intensif untuk menguasai kompetensi teknis pengoperasian fasilitas gas berskala nasional.
Program ini bukan sekadar pelatihan kerja, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun kapasitas SDM daerah penghasil migas.
Kini, para alumni program apprentice tersebut telah menjadi operator yang menjalankan langsung plant GPF JTB — bukti bahwa masyarakat sekitar wilayah operasi tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama dalam pengelolaan sumber daya energi di daerahnya sendiri.
“Kami bangga para putra-putri terbaik Bojonegoro kini menjadi operator yang menjalankan langsung GPF JTB. Masyarakat sekitar wilayah operasi bukan penonton, melainkan pelaku utama dalam pengelolaan energi di daerahnya sendiri,” kata Rahmat Ali Hakim.
Keandalan operasional tidak dapat dipisahkan dari komitmen terhadap aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). PEPC Zona 12 menempatkan HSSE sebagai fondasi utama dalam setiap tahapan operasional GPF JTB, mulai dari konstruksi hingga produksi berjalan.
Capaian ini menegaskan bahwa keandalan plant GPF JTB tidak hanya diukur dari sisi produksi, tetapi juga dari bagaimana operasional dijalankan secara aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan bagi pekerja maupun masyarakat sekitar. Capaian safe man hours PEPC JTB juga cukup tinggi, yakni 71.718.277 jam kerja aman.
“Bagi kami, keselamatan adalah fondasi. Produksi yang tinggi tidak berarti apa-apa jika tidak dijalankan dengan aman. Capaian 71,7 juta jam kerja aman menjadi pengingat untuk terus disiplin menerapkan HSSE,” tegas Rahmat Ali Hakim.
Dengan keandalan plant GPF yang terjaga, PEPC Zona 12 turut mensukseskan amanah pemerintah dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Sebagai salah satu proyek strategis nasional, JTB memiliki peran signifikan dalam mendukung agenda besar ketahanan energi Indonesia — sejalan dengan arahan pemerintah maupun SKK Migas selaku regulator sektor hulu migas.
Kontribusi ini menjadi semakin relevan di tengah tantangan pasokan energi domestik, di mana gas bumi berperan sebagai sumber energi transisi yang andal sembari Indonesia bergerak menuju bauran energi yang lebih berkelanjutan.
Manfaat gas yang diproduksi JTB telah dirasakan lintas sektor kehidupan masyarakat. Sektor kelistrikan gas JTB menjadi bahan bakar pembangkit listrik yang mendukung pasokan energi nasional. Disektor pangan dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk di PKG yanv mendukung ketahanan pangan nasional. Gas JTB menggerakkan roda industri nasional sebagai sumber energi maupun bahan baku. Selain itu juga untuk jaringan gas rumah tangga yang menjangkau kebutuhan energi bersih rumah tangga masyarakat.
Kisah GPF JTB adalah kisah tentang bagaimana keandalan teknis, pemberdayaan SDM lokal, dan komitmen keselamatan dapat berjalan beriringan untuk mendukung tujuan yang lebih besar: ketahanan energi Indonesia. Dari Bojonegoro, gas JTB terus mengalir untuk menyalakan listrik, menyuburkan pangan, menggerakkan transportasi dan industri, hingga menghangatkan dapur rumah tangga di seluruh negeri.adv






