CNG Jadi Pengganti LPG 3 Kg

oleh -3 views

Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran dampaknya sangat signifikan kepada pasok energi dunia. Apalagi setelah ditutupnya Selat Hormus oleh Iran. Harga energi melambung. Khusunya bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Ini sudah pasti menguras keuangan negara, Bertolak pada kenyataan inilah, negara ini akan mengganti LPG ke CNG. Juga termasuk di dalamnya LPG 3 Kg.

Menurut data di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG mencapai 83,97% dari total kebutuhan nasional. Dari pasokan impor tersebut, porsi terbesar didatangkan dari Amerika Serikat sebesar 70% sebagai bagian dari kesepakatan dagang bilateral. Sisanya dipasok dari berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Indonesia harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan nasional. Di sisi lain konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu mencapai -1,7 juta ton. Dari 8,6 juta ton itu hanya kurang lebih sekitar 1,6-1,7 juta ton yang produksinya dalam negeri. Selebihnya diimpor kurang lebih sekitar 7 juta ton.

Kondisi ini sudah terjadi sejak pemerintah melakukan konversi dari minyak tanah ke LPG. Bahlil mengaku hampir setiap malam tidak sempat istirahat lantaran mengkaji lebih dalam mencari sumber energi alternatif LPG.

Kini, Kementerian ESDM tengah mematangkan rencana implementasi Compressed Natural Gas (CNG) tabung 3 kilogram (kg) pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg. Jika jadi diimplementasikan, maka Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan CNG dalam tabung 3 kg sebagai bahan bakar masak.

Inovasi ini akan didukung oleh teknologi tabung Tipe 4 berbahan serat fiber. Pemerintah memastikan tengah menyiapkan peta jalan agar pengalihan energi ini dapat berjalan aman dan efisien di tingkat rumah tangga.

“Kita kalau jadi nih, ini bisa jadi di dunia pertama yang menggunakan untuk rumah tangga bener ya? Pertama kali memang tantangannya banyak seperti kata Pak Menteri tadi tapi kan kita nggak akan pernah berhasil kalau nggak pernah menghadapi tantangannya itu,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Selasa (19/5/2026).

Pemerintah menargetkan penggunaan tabung Tipe 4 ini karena memiliki bobot yang sangat ringan dan kuat untuk menampung tekanan gas tinggi. Selama ini, teknologi serupa di tingkat global baru diaplikasikan untuk ukuran yang setara dengan LPG 12 kg ke atas.

Pemerintah mulai mendorong pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji 3 kilogram (kg) di sektor rumah tangga. Langkah ini muncul di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji serta kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan beban impor energi sekaligus memanfaatkan sumber daya gas domestik. Ketergantungan LPG impor dan asal-usulnya

Kita patut berbangga, dalam konteks Indonesia, pemanfaatan CNG dinilai memiliki keunggulan karena berasal langsung dari sumber gas domestik, sehingga tidak bergantung pada impor seperti LPG. Sebenarnya, penggunaan CNG sudah mulai diterapkan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemerintah kini bersiap memperluas penggunaannya ke sektor rumah tangga. Langkah ini juga sejalan dengan strategi diversifikasi energi yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan bakar.

Lalu apa yang harus kita perhatiian dalam peralihan ini? Saat beralih dari LPG ke Compressed Natural Gas (CNG), prioritas utama yang harus diperhatikan adalah faktor keselamatan dan tekanan tabung, karena CNG disimpan dalam tekanan ekstrem (mencapai (200) bar).

Peralihan harus benar-benar dalam petrhitungan yang matang. Harus dilakukan secara hati-hati, dan berbasis kajian komprehensif. Kebijakan tersebut tidak boleh dilihat dari sisi penghematan subsidi, tetapi juga harus memperhatikan kesiapan teknologi, keselamatan publik, serta kesiapan distribusi nasional.

Sektor energi saat ini memang menghadapi tantangan yang cukup berat. Tingginya konsumsi LPG nasional dan tingginya impor menjadi persoalan tersendiri. Ketergantungan impor LPG memang menjadi persoalan serius yang perlu dicari solusinya. Namun kebijakan substitusi energi harus dihitung secara matang agar tidak menimbulkan persoalan baru.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.