Kebutuhan LPG Naik Jadi 26.000 Ton per Hari, Impor Meningkat ke 83,97%

oleh -17 views
oleh

JAKARTA I GlobalEnergi.co – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa kebutuhan Liquefied Petroleum Gas (LPG) meningkat pada awal tahun 2026. Kondisi ini mengerek naik porsi impor LPG untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengungkapkan bahwa kebutuhan LPG pada tahun lalu tercatat sebesar 25.000 Metrik Ton (MT) per hari. Sedangkan kebutuhan LPG sampai dengan Februari 2026 naik sekitar 1.000 MT menjadi 26.000 MT per hari.

Sejalan dengan kebutuhan yang bertambah, porsi impor LPG pun naik dari 80,58% pada tahun 2025 menjadi 83,97% dari kebutuhan LPG per Februari 2026. Impor LPG Indonesia dominan berasal dari Amerika Serikat dengan porsi 68,91% dari total impor hingga 1 April 2026.

Indonesia juga mengimpor LPG dari Uni Emirat Arab sebanyak 11,83%, Arab Saudi (7,36%), Qatar (5,21%), Australia (3,91%), Kuwait (2,61%) dan China (0,17%).

“Produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan, sehingga impor LPG tetap mendominasi pasokan nasional,” ungkap Rizwi dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR-RI, Rabu (8/4/2026).

Di tengah situasi gejolak geopolitik di Timur Tengah, Kementerian ESDM pun telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi pasokan energi. Khusus untuk LPG, pemerintah mendorong pengaturan konsumsi secara wajar dan bijak, sembari melakukan optimalisasi kilang-kilang dalam negeri.

Rizwi mencontohkan optimalisasi kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Meski punya harga yang lebih tinggi, tapi RDMP Balikpapan mengurangi produksi propylene, karena penggunaan bahan baku naphta digeser untuk memperkaya produksi LPG.

Selain itu, pemerintah juga sedang memburu sumber-sumber LPG dari impor. Di tengah gejolak di Timur Tengah, pemerintah mencari alternatif pasokan dari negara-negara yang tidak terganggu dengan pembatasan di Selat Hormuz seperti dari Asia Tenggara.

 “Untuk situasi saat ini dengan adanya kendala di Selat Hormuz, maka negara-negara lain selain Timur Tengah menjadi alternatif paling dominan untuk diupayakan importasi LPG-nya di tahun 2026,” ujar Rizwi.jef

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.