Percepat EBT, PLTS Pulau Terpencil Jadi Fokus Utama PLN Jatim

oleh -32 views

SURABAYA I GlobalEnergi.co – Kapasitas terpasang pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di wilayah Jatim hingga akhir Desember tercatat 293 mega watt (MW) atau setara 3,5%. Sumber utama energi terbarukan tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), mikrohidro serta pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU).

“PLTA sampai saat ini masih menjadi penyumbang terbesar energi hijau di Jawa Timur,” kata General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir di sela acara Virtual Journey to Green Power :Menjelajah Energi Masa Depan di kantor PLN UID Jatim, Kamis (15/1/2026).

Dalam catatan PLN Jatim, PLTA menyumbang 46,24% bauran energi di Jatim. Disusul PLTS dan PLTSa sebesar 14,40% serta PLTGU sebesar 6,59%.

Seperti diketahui, Jatim memiliki beberapa PLTA utama. Di mana PLTA paling terkenal dan vital, yakni PLTA Sutami (Karangkates) di Malang, yang menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Jawa Timur dan berfungsi sebagai unit black start untuk pemulihan sistem. Selain itu, di sepanjang Sungai Brantas juga terdapat PLTA lainnya, seperti PLTA Sengguruh, Wlingi, dan Lodoyo, serta PLTA Selorejo di Ngantang, Malang, yang juga penting untuk memenuhi kebutuhan listrik lokal.

Meski sumbangan pembangkit EBT masih tergolong kecil, Ahmad menegaskan, PLN UID Jatim berkomitmen terus meningkatkan bauran energi terbarukan. Dimana PLN mengembangkan potensi EBT sesuai dengan kajian dan kondisi geografis di wilayah Jawa Timur

PLN UID Jatim aktif mengakselerasi pengembangan pembangkit listrik berbasis EBT sesuai arah perkembangan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang telah disahkan pemerintah.

“Ini termasuk perencanaan dan pembangunan pembangkit tenaga air, surya, dan sampah untuk memperbesar kapasitas EBT di wilayah Jawa Timur,” tandas Ahmad menjawab Global Energi.

Ke depannya, lanjut Ahmad, pengembangan pembangkit EBT di Jatim akan difokuskan pengembangan PLTS off grid, khususnya di wilayah Madura dan kepulauan 3 T. Ahmad menilai, potensi tenaga surya di wilayah tersebut sangat besar dan relatif lebih mudah dikembangkan dibandingkan pembangkit tenaga air yang bergantung pada ketersediaan debit dan ekosistem.

Proyek yang dirintis sejak 2017 sampai kini setidaknya sudah ada 26 daerah 3 T yang sudah terlistriki. Hampir semuanya memang berada di wilayah Kabupaten Sumenep. Selama tahun 2025, PLN memasang di tujuh wilayah pulau terpencil di Madura, yakni Bulumanuk dengan kapasitas 50 kWp, Talango Tengah (50 kWp), Kalosot (25 kWp), Saseel (150 kWp), Talango Air (50 kWp), Saredeng Besar (25 kWp) dan Karamian (175 kWp) yang seluruhnya berpotensi melistriki 1.373 pelanggan di wilayah tersebut.

Dengan beroperasinya listrik di sejumlah wilayah kepulauan Madura tersebut turut mendongkrak rasio elektrifikasi (RE) dan rasio desa berlistrik (RDB) di Jawa Timur.

“Saat ini, rasio elektrifikasi Provinsi Jawa Timur 99,68% dan rasio elektrifikasi Kabupaten Sumenep menjadi 92,57%,” kata Ahmad.

PLN masih akan melanjutkan proyek PLTS off grid lagi lima pulau, yakni Saredeng kecil, Bunginnyarat, Gili Labak, Masalembu dan Pagerungan Besar sekaligus melakukan penambahan kapasitas PLTS yang sudah ada.

“Seluruh pulau berpenghuni di Madura saat ini sudah dialiri listrik. Memang masih ada yang belum beroperasi 24 jam, tetapi target kami pada 2027 seluruhnya sudah berlistrik penuh selama 24 jam,” jelasnya.

Selain itu, PLN UID Jatim juga terus mengakselerasi melalui program Listrik Desa (Lisdes) dengan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Program ini menjadi bagian penting dari komitmen PLN dalam menghadirkan listrik hingga ke wilayah 3T, khususnya di Jawa Timur. Hingga Agustus 2025, rasio elektrifikasi (RE) di Jawa Timur telah mencapai 99,68%, sementara rasio desa berlistrik (RDB) mencapai 99,96% yakni sebanyak 8.494 desa di Jawa Timur.

Dimana elektrifikasi difokuskan pada lima kabupaten dengan rasio di bawah 99,99%, yaitu Jember, Probolinggo, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Ahmad mengatakan, melalui program elektrifikasi ini, PLN akan melistriki 128 lokasi di wilayah Jatim dengan target tahap 1 pengoperasian pada Desember 2025 sebanyak 28 lokasi dan tahap 2 pada Maret 2026 sebanyak 100 lokasi.

Sebagai bagian dari roadmap jangka panjang, program Lisdes Jawa Timur 2025–2027 menargetkan elektrifikasi di 494 cluster dengan potensi sebanyak 36.879 pelanggan. Infrastruktur yang akan dibangun mencakup 369,93 kilometer jaringan tegangan menengah (JTM), 633,97 kilometer jaringan tegangan rendah (JTR), serta trafo distribusi berkapasitas 36,1 MVA. Program ini juga memanfaatkan pembangkit tenaga surya sebesar 11,9 MWp yang menunjukkan komitmen PLN terhadap transisi energi bersih di daerah 3T.

“Roadmap lisdes ini untuk menjangkau daerah-daerah belum berlistrik termasuk wilayah 3T di kepulauan. Dalam pelaksanaanya, PLN akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mepercepat proses elektrifikasi di wilayah 3T,” papar Ahmad.

Secara nasional PLN juga berkomitmen melistriki 1.285 desa di tahun ini. Selain itu, akan membangun infrastruktur jaringan tegangan menengah sepanjang 4.770 kilometer sirkuit (kms), 3.265 kms jaringan tegangan rendah, dan 94.040 kilovolt ampere (kVA) gardu distribusi. Melalui upaya tersebut, diharapkan lebih dari 77.000 keluarga bisa menikmati listrik.“Ini bukan sekadar angka, tapi kehidupan yang berubah. Anak-anak bisa belajar malam hari, usaha kecil bisa tumbuh, dan desa jadi lebih sejahtera,” tutur Dirut PLN Darmawan Prasodjo.agung kusdyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.