Siapkan 100 Sumur Eksplorasi, SKK Migas Bidik Investasi Hulu Rp 266 Triliun pada 2026

oleh -40 views

BOGOR I GlobalEnergi.co – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membidik investasi hulu migas tahun 2026 mencapai 16 miliar dollar AS atau sekitar Rp 266,04 triliun. Salah satu fokus utama lembaga tersebut dengan menggencarkan eksplorasi dengan target pengeboran sedikitnya 100 sumur baru tahun depan.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, target tersebut sudah dikunci dalam work program and budget (WP&B) 2026. Selain itu, SKK Migas juga menyiapkan implementasi 100 kegiatan multi-stage fracturing (MSF) dan pengeboran 100 sumur di struktur-struktur baru.

“Dalam work program and budget 2026, paling tidak minimum 100 sumur eksplorasi, kemudian 100 MSF, dan 100 sumur di struktur atau lapangan-lapangan baru,” kata Djoko dalam acara Rapat Koordinasi Dukungan Bisnis (Rakor Dukbis) SKK Migas 2025 di Sentul, Kabupaten Bogor, Rabu (3/12/2025).

Djoko menyebutkan, saat ini tim sedang bekerja untuk mencari titik-titik untuk melakukan pengeboran di 300 struktur. Selain melakukan eksplorasi, pihaknya juga bakal mengejar target lifting minyak sebesar 110.000 barel per hari (bph) pada tahun depan. Target itu lebih tinggi dibanding 2025 yang sebesar 605.000 bph.

Djoko optimistis target itu bisa tercapai lantaran pihaknya bakal menerapkan sejumlah teknologi untuk menggenjot produksi. Teknologi itu seperti enhanced oil recovery (EOR).

Di samping itu, SKK Migas bakal menggalakkan pengelolaan sumur tua, idle, dan masyarakat. Oleh karena itu, dia meminta dukungan dari para pemangku kepentingan, termasuk kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

“Strategi dan inisiatif tersebut, tanpa dukungan dari pada insan-insan yang bergerak di pengadaan barang dan jasa, baik di KKKS maupun di SKK, maka ini akan tidak terjadi,” kata Djoko.

Ia menuturkan, masih terdapat tantangan untuk meningkatkan produksi migas di Tanah Air. Tantangan itu juga datang dari sisi dukungan bisnis. Adapun, tantangan yang dimaksud seperti proses perizinan, rantai pasok pengadaan yang belum sepenuhnya terprediksi, kesiapan vendor nasional dan pencapaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Lalu, dinamika sosial masyarakat dan aspek keamanan operasi serta koordinasi lintas lembaga yang belum terintegrasi.

Djoko mencontohkan, beberapa waktu lalu masih terjadi hambatan dan gangguan operasi, terutama di Selat Madura. Tak hanya, hambatan juga terjadi dari sisi monetisasi penemuan gas untuk bisa segera diproduksikan atau dimanfaatkan.

“Alhamdulillah, tim bekerja saat ini untuk negosiasi harga gas yang sebelumnya sangat lama, sekarang dalam waktu kurang dari 1 jam, bahkan 5 menit, 10 menit sudah selesai,” ungkap Djoko. jef

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.