Pulau Madura tak lagi dipandang sebelah mata. Entah beberapa puluh tahun ke depan pulau garam ini berpeluang menjadi salah satu penopang perekonomian di Provinsi Jatim. Keyakinan ini cukup beralasan mengingat kandungan minyak dan gas bumi (migas) dalam perut bumi Madura terus ditemukan dan diduga masih berlimpah. Tinggal menunggu waktu, Madura menjelma menjadi salah satu ‘texasnya’ Jatim.
‘Harta karun’ migas di perut bumi Madura sebenarnya sudah berpuluh-puluh tahun digali. Bahkan, semasa penjajahan Belanda sudah dilakukan eksplorasi. Bukti sejarah ini masih bisa dilihat hingga sekarang di Dusun Ruberuh Desa Kertagena Tengah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan. Sejumlah warga di desa ini masih memanfaatkan gas yang dieksplorasi Belanda pada tahun 1932.
Konon desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Pamekasan ini merupakan salah satu lokasi sumber migas. Namun lantaran kandungan dinilai tak ekonomis lagi akhirnya ditinggalkan begitu saja. Tabung pipa gas yang berdiri di dekat persawahan lahan milik warga tetap berdiri kokoh. Dari sisi bentuk, tabung yang terbuat dari baja ini memang terlihat sudah kuno. Di bagian atas tabung itu terdapat banyak lubang kecil seukuran pipa paralon yang dijadikan alat untuk mengalirkan gas alam tersebut ke rumah-rumah warga yang ada di dusun itu.
Dusun Ruberuh hanyalah salah satu bukti nyata kalau pencarian migas di Pulau Madura ini sudah sejak lama terjadi. Bahkan diyakini kandungan migasnya masih cukup besar, terutama cadangan di lepas pantai (offshore).
Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Jawa Bali dan Nusa Tenggara (SKK Migas Jabanusa) Anggono Mahendrawan membenarkan, kalau potensi migas di Pulau Madura masih cukup besar. Hal ini ditandai dengan terus berlangsungnya eksplorasi migas di Blok Madura.
“Karena itu, SKK Migas bersama para KKKS yang beroperasi di wilayah Madura terus melakukan kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan migas, baik di wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun di area yang masih dalam tahap pencarian cadangan baru,” kata Anggono kepada Global Energi, Senin (3/11/2025).
Dari hasil kegiatan tersebut, lanjut dia, memang ditemukan beberapa struktur prospektif yang menunjukkan indikasi kandungan minyak dan gas bumi yang cukup menjanjikan. Namun demikian, besaran potensi maupun cadangan yang dapat diproduksikan (recoverable reserves) hanya dapat ditetapkan setelah melalui rangkaian proses evaluasi teknis dan persetujuan rencana pengembangan lapangan atau Plan of Development (POD) oleh SKK Migas dan Kementerian ESDM.
“Saat ini, fokus utama kami memastikan setiap potensi yang telah ditemukan dapat segera ditindaklanjuti menuju tahap produksi secara efisien, aman, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi negara dan masyarakat, khususnya di wilayah Madura dan sekitarnya,” katanya.
Mengutip data Ditjen Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 31 Desember 2018 menyebutkan, perkiraan cadangan di Blok Madura berdasarkan reserves (1P) atau jumlah hidrokarbon yang diperkirakan bisa diambil dari suatu struktur yang sudah ditemukan (discovered) dan sudah mendapatkan persetujuan plan of development (POD) dan sejenisnya untuk cadangan minyak sebesar 47,09 million stock tank barels (MMSTB) dan gas sebesar 1.547,48 billion standard cubic feet (BSCF).
Jika berdasarkan contingent resources (1C) atau jumlah hidrokarbon yang diperkirakan bisa diambil dari suatu struktur yang sudah ditemukan (discovered) tapi belum mendapatkan persetujuan POD dan sejenisnya untuk cadangan minyak sebesar 12,44 MMSTB dan gas sebesar 137,67 BSCF. Kemudian berdasarkan prospective resources (1U) atau jumlah hidrokarbon yang diperkirakan bisa diambil namun struktur belum ditemukan (belum discovery) untuk minyak potensinya hingga 504,71 MMSTB dan gas sebesar 2.232,95 BSCF.
Melihat potensi masih cukup besar itulah, menurut Anggono, kegiatan hulu migas di wilayah Madura memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. Beberapa KKKS yang beroperasi di wilayah ini, seperti Husky-CNOOC Madura Limited, Kangean Energy Indonesia, PHE WMO, Medco Energy dan Petronas secara konsisten berkontribusi terhadap pasokan gas bumi dan kondensat untuk kebutuhan domestik.
Gas yang dihasilkan dari lapangan-lapangan di sekitar Madura sebagian besar disalurkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan pembangkit listrik di Jawa Timur dan sekitarnya.
“Dengan demikian, produksi gas dari Madura tidak hanya menopang pasokan energi bagi sektor industri, tetapi juga mendukung keandalan sistem kelistrikan di Pulau Jawa,” ujarnya.
Dalam RUPTL 2025-2034 memang menyebutkan, PLN akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) baru berkapasitas 30 MW di Sumenep yang memanfaatkan gas dari sejumlah KKKS beroperasi yang ada di wilayah Madura. Kabarnya proyek yang akan dikerjakan PLN Nusantara Power ini memanfaatkan ketersediaan gas pipa di Madura tahun 2025 sebesar 7 BBTUD. Selanjutnya dengan meningkatnya potensi gas pipa di Madura tahun 2028-2029 sebesar 30 BBTUD.
”Proyek PLTMG tersebut masih dibahas di PLN Pusat,” kata Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura Fahmi Fahresi kepada Global Energi.
Hidayah Jadi Prioritas
Saat ini setidaknya ada tujuh KKKS yang beroperasi dan sudah berproduksi di wilayah Madura, yakni Husky-CNOOC Madura Limited, Kangean Energy Indonesia, Medco Energi (MDO) Pty. Ltd, Medco Energi (Sampang) Pty. Ltd., PHE West Madura Offshore, Petronas Carigali Ketapang II Ltd. dan PT Prima Energi Bawean. Dimana total produksi minyak mentah/kondesat tujuh KKKS itu mencapai 11.912,06 Barrel of Oil Per Day (Barel Minyak Per Hari) dan gas sebesar 318,8 Million Standard Cubic Feet per Day atau Juta Standar Kaki Kubik per Hari.
Adapun kontribusi produksi rata-rata minyak dari Blok Madura sendiri sekitar 2,46% dari total produksi rata-rata minyak nasional. Kontribusi produksi rata-rata gas sebesar 7,2% dari total produksi rata-rata gas nasional. Sementara produksi harian KKKS di wilayah Jabanusa, untuk minyak mentah dan kondensat sebesar 178,969 BOPD atau memberi kontribusi kurang lebih 24% dari produksi minyak nasional. Sementara untuk gas sebesar 676 MMscfd atau berkontribusi 10% dari rata-rata produksi gas nasional.
Salah satu harapan terbesar sumbangan minyak dari Kawasan Madura bertumpu pada Petronas Carigali WK North Madura II yang tengah mengembangkan Lapangan Hidayah. Saat ini sudah memasuki Final Investment Decision (FID) dicapai Januari lalu dan pengembangannya memasuki fase eksekusi. FID ini dilakukan setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan surat persetujuan rencana pengembangan lapangan pertama atau POD I pada 27 Desember 2022 yang merupakan jawaban atas rekomendasi yang disampaikan SKK Migas.
Lapangan Hidayah sendiri merupakan bagian dari Wilayah Kerja North Madura II. Petronas baru menemukan cadangan setelah melakukan pengeboran tiga sumur eksplorasi di wilayah ini. Sumur terakhir yang dibor, yakni Hidayah-1 yang menghasilkan penemuan dengan estimasi cadangan minyak sekitar 88,55 Million Stock Tank Barrel (MMSTB).
Lapangan ini berlokasi sekitar 6 kilometer di utara Pulau Madura ini ada beberapa lapangan migas sudah terlebih dahulu beroperasi.
“Hal tersebut menunjukkan bahwa jika dilakukan eksplorasi, lapangan-lapangan baru akan tetap mungkin ditemukan. Bahkan di wilayah yang kegiatan hulu migas nya sudah cukup padat,” kata Anggono.
SKK Migas sendiri berharap lapangan ini akan mulai berproduksi (onstream) pada awal tahun 2027 dengan tingkat produksi saat itu pada kisaran 8.973 BOPD dan mencapai puncak produksi diperkirakan pada tahun 2033 dengan kisaran produksi 25.276 BOPD.
Lapangan Hidayah akan aktif berproduksi selama 15 tahun (2027-2041). Dalam kurun waktu tersebut, diperkirakan memberikan kontribusi penerimaan negara sebesar 2,1 miliar dollar AS atau setara dengan sekitar Rp 31 triliun.
Namun belakangan, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto meminta, Petronas mempercepat pelaksanaan proyek pengembangan Lapangan Hidayah agar dapat memulai produksi (onstream) pada akhir 2026. Proyek ini menelan investasi kurang lebih 3,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 56,78 triliun (asumsi kurs Rp 16.225 per dollar AS) dan ditargetkan produksi awal sebesar 10.000 BOPD serta diproyeksikan mencapai puncak produksi hingga 25.276 BOPD. Cadangan minyak yang akan dikembangkan mencapai 88,55 juta barel hingga tahun 2041.
“POD I Lapangan Hidayah disetujui pada 30 Desember 2022, dengan target produksi awal di kuartal I 2027. Tapi kita berupaya supaya 31 Desember tahun depan sudah on-stream,” kata Djoko dalam FID Engagement for the Hidayah Development Project di Jakarta, Kamis (9/1/2025).
Menurut Djoko, percepatan proyek ini selaras dengan arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk meningkatkan lifting minyak menjadi 630.000 barel per hari (BOPD) sesuai target APBN.
“Jika Lapangan Hidayah bisa onstream akhir tahun depan, akan menjadi kontribusi signifikan untuk mendukung target tersebut,” ungkap Djoko.
Apalagi di tengah dominasi temuan gas, maka Lapangan Hidayah membawa angin segar dengan potensi minyak yang signifikan. “Ini adalah prioritas mengingat kebutuhan minyak nasional semakin tinggi,” kata Djoko.
Proyek pengembangan ini direncanakan dalam dua fase. Fase pertama meliputi pembangunan empat sumur produksi, Central Processing Platform (CPP) dengan konsep normally unmanned, fasilitas penyimpanan terapung atau Floating Storage Offloading (FSO), dan pipa penyalur sepanjang 1 kilometer. Fase kedua akan mencakup pembangunan tiga sumur produksi tambahan, empat sumur injeksi, serta Wellhead Platform (WHP). Keputusan fase kedua akan bergantung pada hasil produksi fase pertama.
Djoko juga menyoroti, risiko utama yang perlu diantisipasi, termasuk potensi keterlambatan tender untuk pekerjaan FSO, ketersediaan kapal berbendera Indonesia, dan proses pembelian material dengan waktu pengiriman panjang.
Sementara itu, Petronas Vice President of International Assets of Ustream Hazli Sham Kassim menjanjikan, Petronas menjalankan proyek ini sesuai jadwal. Proyek Lapangan Hidayah sebagai salah satu prioritas utama perusahaan dan bukti komitmen jangka panjang Petronas di Indonesia.
“Proyek ini menjadi tonggak penting bagi kerja sama Malaysia dan Indonesia. Kami optimistis dapat mencapai target produksi, dengan dukungan dari SKK Migas dan mitra lokal,” kata Hazli.
Selain Lapangan Hidayah, perusahaan migas asal Malaysia ini melalui Petronas Carigali Ketapang II Ltd juga terus mengembangan lapangan Bukit Tua. Bahkan Bukit Tua sudah melalui beberapa fase pengembangan Fase pengembangan (termasuk Phase-3) sejak 2020 sebagai bagian rencana jangka menengah operator.
Proyek ini didesain awal bisa menambah kapasitas produksi gas sebesar 31,5 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) dan minyak sebesar 3.182 barel minyak per hari (BOPD).
“Proyek pengembangan Bukit Tua Phase-3 merupakan proyek yang sangat penting mengingat tambahan produksi migas yang dihasilkan cukup besar yang akan sangat bermanfaat bagi konsumen khususnya di Jawa Timur,” ujarnya.

Operator migas lain cukup serius menggali potensi migas di kawasan Madura, yakni Medco Energy Sampang Pty Ltd. Kelompok usaha milik keluarga Arifin Panigoro ini menjanjikan bakal mengucurkan investasi hingga 80 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,18 triliun untuk pengembangan Lapangan Paus Biru, Blok Sampang. Hal ini menyusul keputusan SKK Migas menyetujui POD lapangan migas tersebut tahun 2022.
Medco memakai investasi itu untuk kegiatan pengeboran satu sumur pengembangan, pembangunan wellhead platform (WHP), subsea pipeline, dan memodifikasi fasilitas eksisting WHP Oyong dan offshore production facilities (OPF) Grati. Pembangunan fasilitas-fasilitas tersebut diperlukan karena fluida dari sumur WHP Lapangan Paus Biru akan dialirkan ke WHP eksisting di Lapangan Oyong melalui pipa bawah laut.
SKK Migas juga menargetkan volume produksi gas lapangan tersebut mencapai 31 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Berdasarkan analisa keteknikan, produksi tersebut dapat dipertahankan hingga batas akhir kontrak kerja sama pada 2027. Adapun, gas yang diproduksikan akan digunakan untuk sumber energi pembangkit Grati.
Bagaimana dengan Husky – CNOOC Madura Limited (HCML)? Operator yang tercatat sebagai penghasil gas terbesar di Jatim ini juga masih terus mematangkan rencana pengajuan perpanjangan kontrak migas Selat Madura atau lebih dikenal Madura Straits PSC. HCML mengoperasikan 2.516 kilometer persegi PSC Selat Madura yang mencakup beberapa wilayah di Jawa Timur, termasuk Sumenep, Sampang, dan Pasuruan.
HCML sebenarnya memiliki enam lapangan yang POD-nya telah disetujui pemerintah. Dari jumlah tersebut, sebanyak empat lapangan telah berproduksi. Pertama, Lapangan BD dengan produksi sekitar 100 MMscfd dan 6.000 barel per hari (bph) kondensat yang telah berproduksi sejak 2017. Kemudian, Lapangan 2M (MDA-MBH) dengan produksi 120 MMscfd sejak Oktober 2022. Terakhir, Lapangan MAC dengan produksi sekitar 50 MMscfd. Adapun, dua lapangan lain yang kini tengah dalam tahapan pengembangan yakni Lapangan MDK dan Lapangan MBF.
VP Operations HCML, Perkasa Sinagabariang mengatakan, permohonan perpanjangan kontrak yang diajukan itu bakal berisi rencana eksplorasi lanjutan untuk menambah cadangan HCML selepas konsesi berakhir 2032 mendatang. Saat kontrak berakhir nantinya, potensi sumber daya gas Madura Strais PSC hanya tinggal seperempat dari hitung-hitungan saat ini yang berada di level 2 triliun kaki kubik (TCF).

“Tentunya kalau kami tidak melakukan apa-apa itu di 2032 pada saat expired mungkin produksinya tinggal seperempat dari sekarang,” kata Perkasa kepada awak media, beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, HCML bakal berkomitmen untuk mengerjakan eksplorasi lanjutan apabila otoritas hulu migas memberi izin perpanjangan kontrak yang diajukan nantinya. Sebagai informasi, produksi puncak sales gas HCML saat ini sebesar 250 MMscfd. Sekaligus merupakan yang terbesar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Dari tiga lapangan HCML, yakni lapangan BD, 2M (MDA-MBH), dan MAC, KKKS HCML menjadi produsen gas terbesar, secara persentase produksinya mencapai 30% dari total produksi gas di wilayah Jawa Timur,” katanya.
Produksi Lapangan BD didukung tiga fasilitas utama, yakni Anjungan Sumur Lepas Pantai atau offshore Wellhead Platform (WHP), Gas Metering Station (GMS) di kota Pasuruan dan fasilitas Produksi Terapung, Penyimpanan, dan Pembongkaran atau Floating Production, Storage, and Offloading (FPSO). Lewat rencana pengembangan jangka panjang HCML, Madura Straits diproyeksikan dapat menyentuh produksi gas puncak pada 2027 mendatang hampir mendekati 600 MMscfd nantiya.
Selanjutnya pada saat kontrak berakhir di 2032, produksi diperkirakan menyentuh di level 500 MMscfd. Sementara, produksi dari lapangan gas dari selat ini diprediksikan bakal berada di level 100 MMscfd pada 2042 mendatang.
Untuk Lapangan MDK dan MBF ditargetkan dapat mendorong penambahan produksi pada kurun waktu 2026-2028 mendatang. “Di luar (target) 300 MMscfd tambahan produksinya itu masing-masing 24 MMscfd. Jadi dari dua lapangan menjadi 48 MMSCFD,” kata Perkasa.
Lifting Perdana
Ada perkembangan yang menarik pula pada kegiatan hulu migas di Madura. Setelah vakum hampir tiga tahun, SKK Migas bersama KKKS Prima Energi Bawean (PEB) berhasil melaksanakan lifting pertama produksi minyak mentah di Lapangan Camar Wilayah Kerja Bawean. Dimana dengan produksi awal sekitar 400 BOPD dan total minyak mentah yang dilifting mencapai 95.000 barel.
“Minyak ini disimpan sementara di Temporary Storage Tanker Fastron sebelum diangkut menggunakan tanker Maersk Cayman,” kata CEO PEB Pieters Utomo dalam siaran pers diterima Global Energi, beberpa waktu lalu.
Seperti diketahui, sebagai operator 100% di Lapangan Camar, PEB yang mendapatkan kontrak PSC Cost Recovery melalui Direct Offer Tender Migas efektif sejak 15 Desember 2022. Dalam kurun waktu satu tahun, PEB berhasil memenuhi komitmen untuk memulai produksi di lapangan tersebut. Prosesi lifting pertama ini menjadi tonggak penting bagi PEB. Minyak mentah yang dihasilkan berasal dari dua sumur, yaitu CM-1 dan CS-2, di Central Processing Platform (CPP) Lapangan Camar.
“Pelaksanaan lifting berjalan lancar, dengan mematuhi standar operasional yang tinggi serta mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan,” katanya.

Saat ini, lanjut Pieters, PEB tengah melaksanakan berbagai kegiatan pengembangan, termasuk pengeboran sumur CW-1 dan CW-2 di Monopod Platform A (MPA), penggelaran pipa sepanjang 8 km yang menghubungkan MPA dengan CPP, serta rencana reaktivasi sumur lama seperti CM-6.
“Dengan kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan, produksi di Lapangan Camar diproyeksikan mencapai 2.200 BOPD pada 2025, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan energi Indonesia,” jelasnya.
Yang menarik lagi wilayah kerja (WK) South East Madura dengan operator PT Energi Mineral Langgeng (EML). WK ini tercatat sebagai proyek onshore pertama di Pulau Madura. Selama ini, potensi migas di Madura memang masih mengandalkan di laut lepas atau offshore. Potensi onshore masih belum digali secara maksimal. Padahal blok Madura juga menyediakan potensi migas di onshore yang tidak kalah besar.
“WK South East Madura sudah memperoleh persetujuan POD pertama. SKK Migas terus mendampingi agar pelaksanaan pengembangan berjalan sesuai jadwal, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Madura sebagai proyek migas onshore pertama di pulau tersebut,” jelas Anggono.
Dan yang pasti, kata Anggono, SKK Migas memiliki komitmen kuat dalam mempercepat pengembangan potensi hulu migas di wilayah Madura. Penguatan koordinasi lintas sektor baik dengan pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama agar keseluruhan tahapan proyek dapat terlaksana sesuai rencana.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pendekatan masyarakat, diharapkan pengembangan potensi hulu migas di Madura dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan memberikan nilai tambah yang besar bagi daerah serta ketahanan energi nasional.
“Pemanfaatan infrastruktur eksisting di wilayah Madura dan sekitarnya, sehingga proyek-proyek baru dapat terkoneksi lebih cepat tanpa harus membangun seluruh fasilitas dari awal,” jelasnya.
Hambatan Sosial
Memang untuk mengembangkan potensi migas di Madura terutama di onshore tidaklah mudah. Banyak kendala yang harus dihadapi KKKS. Kondisi sosial masyarakat menjadi hambatan utama. Hal ini diakui sendiri Anggono. Lantaran itu, SKK Migas dan KKKS terus melakukan kajian dan survei eksplorasi untuk mengidentifikasi prospek baru.
“Meski fokus selama ini banyak di offshore, wilayah onshore tetap menjadi perhatian, dengan prinsip keselamatan, transparansi, dan pelibatan masyarakat sejak dini,” tandasnya.

Dimintai tanggapan, pengamat energi Komaidi Notonegoro mengatakan, hambatan utamanya terletak di hak atas tanahnya. Jika lokasi berada pada lahan produktif atau lahan yang dimiliki masyarakat tentu tidak sederhana perizinannya. Untuk mengembangkan onshore di Madura diperlukan social cost yang tinggi. Ini yang terkadang membuat KKKS enggan untuk melakukan eksplorasi.
Belum lagi, masyarakat yang merasa perlu terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan. “Padahal proyek seperti ini dibutuhkan keahlian yang di atas rata-rata dan teknologi tinggi. Kalau masyarakat Madura masih seperti itu, jelas tidak akan bisa dilibatkan dalam proyek,” jelasnya.
Karena itu, kata Komaidi, diperlukan dukungan baik dari pemda maupun masyarakat setempat .”Jika ada dukungan saya kira KKKS akan masuk ke onshore, “ katanya.
Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kegiatan hulu migas di wilayah Madura umumnya berkaitan dengan bagaimana membangun kesamaan persepsi dan dukungan masyarakat terhadap kegiatan migas yang sedang berlangsung. Sebagai wilayah dengan karakter sosial dan budaya yang kuat, setiap kegiatan industri—termasuk migas—memerlukan pendekatan komunikasi yang baik, transparan, dan berkelanjutan agar masyarakat memahami manfaat serta dampak dari kegiatan tersebut.
Terkait kontribusi industri hulu migas terhadap perekonomian daerah, Anggono menjelaskan, perlu dipahami jika dampaknya sering kali tidak langsung terlihat, sehingga seringkali masyarakat merasa kegiatan ini kurang berdampak bagi kehidupan mereka.
“Manfaat migas sifatnya jangka menengah hingga panjang,” ujarnya.
Industri hulu migas ini berbeda dengan sektor lainnya. Kegiatannya padat modal, berisiko tinggi, dan fokus pada pengelolaan sumber daya alam milik negara. Manfaat utamanya baru terasa melalui penerimaan negara, seperti dana bagi hasil (DBH) Migas, pembangunan nasional, maupun Program Pemberdayaan dan Pelibatan Masyarakat yang dijalankan oleh para kontraktor migas.
Meski begitu, lanjut dia, keberadaan industri migas juga telah memberi dampak nyata bagi wilayah Madura. Misalnya melalui peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar wilayah operasi, tumbuhnya usaha kecil penunjang seperti penyediaan logistik, transportasi, perhotelan, hingga jasa katering.
“Berbagai program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat juga telah membuka peluang kerja baru bagi tenaga lokal,” katanya.
Agar dampaknya bisa lebih nyata di tingkat kabupaten, memang dibutuhkan ekosistem yang mendukung — mulai dari kesiapan SDM lokal, ketersediaan infrastruktur, hingga peran aktif dunia usaha daerah dalam rantai pasok industri migas.
“Hal-hal inilah yang terus kami dorong bersama pemerintah daerah, supaya manfaat keberadaan industri migas di Madura bisa semakin dirasakan masyarakat,” tandasnya.
Dan yang pasti, dengan karakter produksi migas di Madura yang didominasi gas tentu sejalan dengan arah transisi energi nasional menuju sumber energi yang lebih bersih. Dengan cadangan yang masih potensial, pengembangan lapangan baru dan optimasi lapangan eksisting di wilayah Madura diharapkan dapat menjadi salah satu tulang punggung ketahanan energi di wilayah timur Jawa, sekaligus menjaga keberlanjutan suplai energi nasional dalam jangka panjang. agung kusdyanto






