JAKARTA I GlobalEnergi.co – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan industri pertambangan mengalami koreksi signifikan pada kuartal III-2025 secara tahunan (year-on-year/yoy). Padahal, seluruh lapangan usaha tumbuh positif pada kuartal III tahun ini, dengan pertumbuhan tinggi berasal dari jasa pendidikan, jasa perusahaan dan jasa lainnya.
“Sebagian besar tumbuh positif, lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) yaitu industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud saat rilis pertumbuhan ekonomi secara daring, Rabu (5/11/2025).
Menurut data BPS, pertumbuhan sektor pertambangan mengalami koreksi 1,98% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Adapun, sektor pertambangan mencatat distribusi 8,51% terhadap PDB.
Di sisi lain, sektor utama lainnya seperti industri pengolahan, pertanian, perdagangan dan konstruksi mencatat pertumbuhan positif masing-masing sebesar 5,54%, 4,93%, 5,49% dan 4,21%.
Kendati pertumbuhan sektor pertambangan minus, BPS membeberkan, industri logam dasar yang masuk dalam industri pengolahan tumbuh signifikan secara tahunan.
Menurut BPS, industri pengolahan logam dasar tumbuh 18,62% sejalan dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja.
“Sejalan dengan peningkatan permintaan luar negeri untuk produk logam dasar, khususnya besi dan baja,” kata Edy.
Pertumbuhan Melambat
Sementara itu, BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Pencapaian ini tidak jauh dari ekspektasi. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 sebesar 5% yoy.
Meski demikian, capaian pertumbuhan ekonomi sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II-2025, PDB Indonesia tumbuh 5,12% yoy, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 1,43%.
Edy menyampaikan, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik proyeksi perutmbuhan ekonomi global menjadi 3,2%. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang diperkirakan mencapai 4,2%.
“Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Singapura pada kuartal III-2025 tumbuh melambat. Korea Selatan dan Vietnam diperkirakan tumbuh lebih kuat. Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia tetap tumbuh,” kata Edy.
Harga komoditas andalan ekspor bervariasi. CPO dan bijih besi naik. Batu bara dan minyak mentah naik secara kuartalan tetapi turun secara tahunan. Harga gas alam turun secara kuartalan tetap naik secara tahunan. Sementara nikel mencatat penurunan.
“Sepanjang kuartal III-2025, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan. Ekspor mencapai US$ 74,39 miliar atau tumbuh 8,96% yoy, impor US$ 60,39 miliar atau turun 2,09% yoy,” jelas Edy.
Kinerja perekonomian pada kuartal III-2025 ditopang konsumsi yang terjaga. Terlihat dari konsumsi per kapita jasa makanan-minuman-akomodasi serta barang dan jasa lainnya yang tumbuh 5,76% yoy dan 7,49% yoy.
Realisasi investasi dalam negeri dan asing tumbuh 13,89% yoy. Mobilitas masyarakat juga meningkat.
“Kebijakan ekonomi juga menopang seperti pengendalian inflasi, penetapan BI Rate, serta kebijakan fiskal dalam mendoorng efektivitas belanja,” tuturnya.jef






