Terik panas menyengat. Butiran-butiran debu banyak beterbangan. Terhempas lalu-lalang kendaraan. Namun kondisi cuaca tersebut tak meluluhkan semangat kerja Atro Hidayat (41), teknisi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Pulau Saibus Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur.
Pria yang dipercaya mengelola PLTS off grid bersama dua rekannya di salah satu pulau terpencil wilayah Madura itu tetap bersemangat membersihkan panel-panel fotovoltaik berjumlah 288 unit. Mereka juga tetap bekerja secara rutin memotong rumput yang mulai meninggi dan memotong ranting-ranting pohon di sekitar areal PLTS seluas kurang lebih satu hektare ini. Dan tentu pekerjaan rutin yang tidak bisa ditinggalkan yakni selalu mengontrol kondisi baterai penyimpanan.
”Minimal seminggu tiga kali kami membersihkan panel surya ini agar kualitas penyerapan sinar matahari bisa maksimal. Di sini daerahnya memang berdebu apalagi kalau musim kemaru tiba,” tutur Atro yang ikut merintis proyek PLTS di desanya kepada Global Energi, Rabu (15/10/2025).
Sebagai salah satu pulau terpencil di wilayah kepulauan Sumenep Madura untuk menuju Pulau Saibus memang membutuhkan ‘perjuangan’ tersendiri. Jika berangkat dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep di daratan Madura sampai ke Pulau Saibus setidaknya memerlukan waktu hampir 25 jam. Pasalnya penumpang akan meunju terlebih dulu ke Pelabuhan Batu Guluk, Pulau Kangean. Pelabuhan itu merupakan akses pertama menjangkau berbagai pulau di Kepulauan Kangean, Sumenep. Dari Kangean dilanjutkan menuju Pulau Sapeken. Dari Sapeken baru ganti perahu kecil menuju ke Pulau Saibus.
“Butuh waktu kurang lebih 25 menit dari Sapeken ke Saibus,” tutur Atro.
PLTS off grid di Pulau Saibus sendiri dibangun PLN sejak April 2023 dengan kapasitas 100 kilowatt peak (kWp). Sebelum ada PLTS, warga Pulau Saibus memanfaatkan pembangkit listrik diesel dari usaha penyedia jasa perorangan. Dimana tarif listrik diesel untuk lampu dipatok di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per bulan.
“Tapi kalau punya televisi, pompa air, dan kulkas, bayar beda lagi bisa sampai Rp 180 ribu per bulan,” katanya.
Begitu PLTS masuk, warga Saibus mulai beralih ke energi surya ini. Sebab beban biaya mereka rasakan jauh lebih murah. Ini seperti diakui M. Saleh (55), salah satu warga Pulau Saibus.
“Setelah pakai PLTS isi token senilai Rp 30 ribu bisa untuk tiga bulan. Asalkan kita bisa mengatur penggunaan listriknya dan kita pakai langganan jenis 450 VA khan ada subsidinya, “ tutur Saleh.
Hanya memang saat pemasangan awal para pelanggan dikenai biaya pasang meteran Rp 1,4 juta untuk pelanggan 450 VA dan Rp 1,7 juta untuk pelanggan 900 VA. Untuk diketahui, berdasarkan ketentuan PLN yang berlaku di tahun 2023 ini, batas maksimal pemakaian listrik (limit kWh) untuk daya 450 VA setiap bulannya sebesar 324 kWh atau setara dengan Rp 134.460. Batasan tersebut berlaku di semua jenis pelanggan listrik, baik pascabayar maupun prabayar (listrik token).
Atro mengakui, lantaran kapasitas PLTS masih terbatas dengan jumlah baterai penyimpan baru ada 168 unit, maka listrik belum bisa menyala sampai 24 jam. Jika terik matahari bersinar terang, maka warga bisa memanfaatkan listrik di siang hari dari pukul 09.00 WIB sampai 14.00 WIB dan di kala sore hari mulai pukul 17.00 WIB sampai 05.00 WIB. Cuma dalam pengoperasian memakai sistem kWh limiter, dimana setiap pelanggan dibatasi satu kWh dalam 24 jam.
“Jika pelanggan memakai lebih dari 1 kWh, maka kita matikan,” jelas Atro yang mengaku, sebelum jadi teknisi PLTS berprofesi sebagai guru.
Akibat keterbatasan kapasitas itu juga membuat belum semua warga menikmati PLTS off grid. Ini mengingat jumlah warga di Pulau Saibus sekitar 1.000 jiwa.
“Ya, perkiraan saya baru separo yang terlayani sebagai pelanggan. Sisanya masih mengandalkan pembangkit diesel dan ada sebagian pakai PLTS atap sendiri,” kata bapak satu anak ini.
Selain warga Pulau Saibus, warga kepulauan terpencil di wilayah Sumenep Madura yang terlebih dulu menikmati PLTS adalah di Pulau Saobi. Instalasi PLTS di pulau ini mulai dibangun sejak 2019 dengan kapasitas 150 kWp dan baru beroperasi pada Oktober 2019. Selanjutnya terdistribusi kepada pelanggan mulai April 2020. Praktis dengan kapasitas lebih besar jumlah panel surya pun lebih banyak ketimbang di Saibus, yakni 456 unit.
Ahmad Shalehuddin (33), teknisi PLTS di Pulau Saobi menceritakan, saat-saat awal PLTS akan dibangun sempat ada rasa sangsi sebagian warga atas keberlangsungan pembangkit ini. Masalahnya, mereka mendengar ada proyek PLTS serupa yang mangkrak di kepulauan tetangga. Buntutnya, mereka masih bertahan pakai jasa diesel “Setelah kita jelaskan dan yakinkan kalau ini merupakan proyek PLTS dari pemerintah dalam hal ini PLN maka berlahan-lahan bisa menerima,” kata Hud panggilan karib Ahmad Shalehuddin.
Bahkan, cerita Hud, pada awal pengoperasian sekitar tahun 2020, PLTS ini sempat disambar petir walaupun sudah dilengkapi penangkal petir. Akibat listrik sempat padam hingga satu bulan. Setelah dengan susah payah Hud dan satu rekannya memperbaiki jaringan akhirnya PLTS bisa beroperasi lagi.
“Alhamdulillah bisa kami tangani sendiri berkat pengalaman dan hasil pelatihan dari PLN,” katanya.
Saat ini jumlah pelanggan mencapai 438 orang. Seperti halnya di Pulau Saibus, dalam pengoperasiannya memakai sistem meter kWh limiter, dimana setiap pelanggan dibatasi satu kWh dalam 24 jam. Di awal-awal, tutur Hud, perilaku warga juga masih jadi masalah. Pengoperasian warga cenderung semena-mena menggunakan listrik. “Jika udah nyampek 1 kWh, maka ulang lagi dari nol,” jelasnya.
Apabila melebihi batas yang ditentukan, listrik yang bersangkutan akan mati. Ada mati satu kali dalam satu malam, ada sampai dua kali. Kejadian seperti itu kerap berulang. Dia bilang, ada juga pelanggan tak jujur soal pemakaian, mereka gunakan alat-alat elektorik berkapasitas besar hingga listrik mati.
“Pokoknya jika besok lagi seperti ini, kWh-nya saya buka. Sampean sudah putus dari penyambungan.” begitu cerita Hud sempat memberi peringatan. Perlahan, warga mulai bijaksana memakai listrik.
Jam operasi PLTS sendiri tidak bisa 24 jam. Saat ini hanya bisa beroperasi mulai pukul 17.00-22.00 WIB. Berdasarkan pantauan Hud, konsumsi tertinggi terjadi dari pukul 18.00-22.00, yaitu sebesar 69-70 kWh.
“Keterbatasan ini karena jumlah pelanggan yang terus bertambah, sementara kapasitas PLTS tetap. Karena itu sudah saatnya perlu ada penambahan kapasitas PLTS hingga 300 kWp di Saobi,” usulnya.
Apalagi jika sudah memasuki musim hujan dimana pancaran sinar matahari tidak begitu kuat akan mengurangi penyimpanan baterai. Praktis waktu nyala listrik juga semakin pendek.
“Pengalaman kami paling cuma bisa empat jam,” kata Hud.
Kehadiran listrik berbasis energi terbarukan di Saibus dan Saobi hanyalah salah satu wujud komitmen PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur untuk melistriki di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3 T) khususnya di wilayah Madura. Dan tak berhenti sampai di situ, PLN terus merambah pengoperasian PLTS off grid di sejumlah ujung pulau terpencil. Proyek yang dirintis sejak 2017 sampai kini setidaknya sudah ada 26 daerah 3 T yang sudah terlistriki. Hampir semuanya memang berada di wilayah Kabupaten Sumenep.
Selama tahun 2025 PLN memasang lagi di tujuh wilayah pulau terpencil, yakni Bulumanuk dengan kapasitas 50 kWp, Talango Tengah (50 kWp), Kalosot (25 kWp), Saseel (150 kWp), Talango Air (50 kWp), Saredeng Besar (25 kWp) dan Karamian (175 kWp) yang seluruhnya berpotensi melistriki 1.373 pelanggan di wilayah tersebut. Pengoperasian ini bersamaan dengan dilakukan serentak untuk 55 pembangkit EBT di 15 provinsi yang diresmikan oleh Presiden, Prabowo Subianto, beberapa waktu lalu. Dengan beroperasinya listrik di sejumlah wilayah kepulauan Madura tersebut turut mendongkrak rasio elektrifikasi (RE) dan rasio desa berlistrik (RDB) di Jawa Timur.
“Saat ini, rasio elektrifikasi Provinsi Jawa Timur 99,68% dan rasio elektrifikasi Kabupaten Sumenep menjadi 92,57%,” kata General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, Selasa (1/7/2025).
Ke depan PLN masih berencana melistriki lagi lima pulau, yakni Saredeng kecil, Bunginnyarat, Gili Labak, Masalembu dan Pagerungan Besar sekaligus melakukan penambahan kapasitas PLTS yang sudah ada.
“Adapun semuanya masih dalam proses untuk penyelesaian,” kata Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura Fahmi Fahresi kepada Global Energi, Sabtu (18/10/2025).
Ini mengingat, lanjut Fahmi, biaya yang diperlukan membangun PLTS off grid cukup besar di kisaran Rp 3,6 miliar per Lokasi. Ia juga tak membantah pulau yang telah dilistriki PLTS, belum sepenuhnya bisa menerangi hingga 24 jam akibat keterbatasan kapasitas PLTS. “Masih ada rencana penambahan kapasitas PLTS eksisting,” kata Fahmi singkat.

PLN UID Jatim juga terus mengakselerasi melalui program Listrik Desa (Lisdes) dengan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Program ini menjadi bagian penting dari komitmen PLN dalam menghadirkan listrik hingga ke wilayah 3T, khususnya di Jawa Timur. Hingga Agustus 2025, rasio elektrifikasi (RE) di Jawa Timur telah mencapai 99,68%, sementara rasio desa berlistrik (RDB) mencapai 99,96% yakni sebanyak 8.494 desa di Jawa Timur. Dimana elektrifikasi difokuskan pada lima kabupaten dengan rasio di bawah 99,99%, yaitu Jember, Probolinggo, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Ahmad mengatakan, melalui program elektrifikasi ini, PLN akan melistriki 128 lokasi di wilayah Jatim dengan target tahap 1 pengoperasian pada Desember 2025 sebanyak 28 lokasi dan tahap 2 pada Maret 2026 sebanyak 100 lokasi.
Sebagai bagian dari roadmap jangka panjang, program Lisdes Jawa Timur 2025–2027 menargetkan elektrifikasi di 494 cluster dengan potensi sebanyak 36.879 pelanggan. Infrastruktur yang akan dibangun mencakup 369,93 kilometer jaringan tegangan menengah (JTM), 633,97 kilometer jaringan tegangan rendah (JTR), serta trafo distribusi berkapasitas 36,1 MVA.
Program ini juga memanfaatkan pembangkit tenaga surya sebesar 11,9 MWp yang menunjukkan komitmen PLN terhadap transisi energi bersih di daerah 3T.
“Roadmap lisdes ini untuk menjangkau daerah-daerah belum berlistrik termasuk wilayah 3T di kepulauan. Dalam pelaksanaanya, PLN akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, aparat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mepercepat proses elektrifikasi di wilayah 3T,” papar Ahmad.
Secara nasional PLN juga berkomitmen melistriki 1.285 desa di tahun ini. Selain itu, akan membangun infrastruktur jaringan tegangan menengah sepanjang 4.770 kilometer sirkuit (kms), 3.265 kms jaringan tegangan rendah, dan 94.040 kilovolt ampere (kVA) gardu distribusi. Melalui upaya tersebut, diharapkan lebih dari 77.000 keluarga bisa menikmati listrik.
“Ini bukan sekadar angka, tapi kehidupan yang berubah. Anak-anak bisa belajar malam hari, usaha kecil bisa tumbuh, dan desa jadi lebih sejahtera,” tutur Dirut PLN Darmawan Prasodjo.
Mengapresiasi upaya PLN ini, Dewi Khalifah saat menjabat Plt. Bupati Sumenep memberi respon positif atas kerja keras PLN dalam mewujudkan mimpi masyarakat kepulauan untuk dapat menikmati akses listrik secara merata.
Bagi dia, listrik punya peran penting, infrastruktur utama dalam penunjang kehidupan tak terkecuali bagi masyarakat di kepulauan.
“Dengan beroperasinya PLTS ini, produktivitas masyarakat meningkat, nelayan bisa pakai cold storage dan lainnya,” kata Dewi.
Ia melihat, elektrifikasi di wilayah Sumenep menunjukkan grafik positif berkat sinergi yang baik antara PLN dan Pemerintah Kabupaten Sumenep. Hal ini pula yang mengikis tantangan berat dan berbagai risiko dalam menghadirkan listrik ke pulau-pulau terluar.
Operasikan Tower Kangean-Mamburit
Tak hanya lewat pemasangan PLTS, kerja keras untuk meratakan sekaligus memperkuat akses kelistrikan di pulau terluar Madura juga berhasil diukir tim PLN di ujung November 2024 lalu. Proyek jaringan tower 20 KV Kangean-Mamburit di wilayah Kabupaten Sumenep Madura sepanjang 1,295 kms ini berhasil dituntaskan. Tentu pekerjaan ini bukan upaya yang mudah untuk melistriki pulau-pulau terluar, seperti di Pulau Mamburit.
“Membutuhkan usaha ekstra sebab jarak yang harus ditempuh melalui jalur laut dan hanya bisa menggunakan perahu nelayan,” cerita Hanif Ardiansyah, kepada Global Energi, saat memimpin langsung pengeporesian proyek itu bersama Team Leader Jaringan Rizki Armanda dan Team Leader K3L Rizki Ramadhan. Hanif sendiri saat itu masih menjabat MULP PLN Kangean.

Pembangunan jaringan listrik di Pulau Mamburit sendiri dimulai sejak tahun 2022. Saat ini aliran listrik sudah menyala 24 jam disambungkan langsung dari Pulau Kangean. Pulau Mamburit merupakan salah satu pulau yang berada dalam kawasan Kepulauan Kangean. Secara administratif, pulau ini berada di wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Indonesia.
Dengan terhubungnya jaringan listrik ini, masyarakat Mamburit dapat menikmati akses listrik yang stabil, mendukung kebutuhan rumah tangga, pendidikan, hingga kegiatan ekonomi. Sekaligus membawa harapan baru bagi sekitar 300 calon pelanggan di pulau tersebut.
“Tower ini menjadi solusi atas tantangan geografis yang selama ini menghambat distribusi listrik. Dengan terhubungnya jaringan listrik ini, masyarakat Mamburit dapat menikmati akses listrik yang stabil, mendukung,” tambah Fahmi.
Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warga, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam pengembangan infrastruktur energi di kawasan terpencil. Pulau Mamburit kini bersiap menapaki masa depan yang lebih cerah, berkat hadirnya listrik dari PLN.
“Kami menambah kapasitas pembangkit sebesar 4,5 MW dengan total kapasitas yang mampu mencapai 9,5 MW,” kata Fahmi.
Ditanya apakah proyek pemasangan tower semacam ini ke depannya juga akan dilakukan PLN untuk pulau terpencil lainnya?”Kami akan melakukan review atau kajian jika diperlukan untuk rencana pengembangan jaringan serupa dengan tower Kangean-Mamburit di wilayah PLN UP3 Madura,” jawab Fahmi.
Proyek Strategis
Bahkan guna mendukung kebutuhan energi di kawasan Madura, PLN akan menggelar berbagai proyek strategis kelistrikan sebagaimana yang telah tersusun dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Sejumlah proyek infrastruktur kelistrikan tersebut di antaranya, pembangunan Gardu Induk Tanjung Bumi dan Batumarmar yang ditarget mulai operasi atau Commercial Operation Date (COD) pada 2029. Selanjutnya pembangunan Pembangunan listrik tenaga surya (PLTS) Guluk-Guluk sebesar 50 MWp dan target COD pada 2027, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumenep sebesar 30 MW dan target COD pada 2026 dan proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) tersebar 100 MW dan target COD di 2027.
Hal itu terungkap dalam Forum Multistakeholder Madura yang khusus digelar PLN Grup Jawa Timur, Jumat (25/7/2025) lalu. Forum yang mengusung tema “Sinergi Satu Energi, Menuju Madura Lebih Terang dan Sejahtera” itu sebagai upaya memperkuat sinergi antara PLN dan berbagai pemangku kepentingan di wilayah Pulau Madura. Sekaligus sebagai momentum penting dalam mempercepat pemerataan energi dan pembangunan berkelanjutan di Pulau Garam ini.
Ahmad menjelaskan, Madura merupakan bagian integral dari sistem kelistrikan Jawa Timur-Bali. Saat ini kondisi sistem kelistrikan Jatim-Bali memiliki daya mampu pembangkit sebesar 10.277 MW dan beban puncak sebesar 6.875 MW. Dengan demikian masih memiliki cadangan daya hingga 2.261 MW.
“Hal ini menunjukkan kesiapan PLN dalam memenuhi kebutuhan listrik yang tumbuh seiring perkembangan ekonomi dan industri,” kata Ahmad.
Sistem kelistrikan Madura, saat ini disuplai 6 Gardu Induk dengan total kapasitas trafo mencapai 600 MVA, dan cadangan daya sebesar 259 MVA atau sekitar 45%. Sedangkan jaringan distribusi yang tersebar di seluruh Madura meliputi 4.330 kilometer jaringan tegangan menengah dan 8.522 kilometer jaringan tegangan rendah, serta lebih dari 5.000 unit trafo distribusi.
“Dengan daya mampu sistem kelistrikan sebesar 10.277 MW dan cadangan daya 2.261 MW, PLN siap mendukung kebutuhan listrik yang terus berkembang di Madura seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan sektor industri,” katanya.
Dikatakan, dukungan PLN terhadap kawasan industri di Madura juga semakin menguat dengan proyeksi kebutuhan daya yang mencapai 130 MVA pada 2026, seiring dengan berkembangnya industri perkapalan, industri garam, serta sektor pertanian.
“PLN menawarkan berbagai solusi kelistrikan, termasuk temporary electricity supply, power substation solution, dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik, seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di delapan lokasi di Madura,” paparnya.
Dalam rangka mengemban amanat negara untuk menjaga distribusi dan stabilitas energi listrik, PLN perlu membangun dan memelihara infrastruktur jaringan listrik mulai dari pembangkit sampai dengan saluran masuk ke pelanggan termasuk Pulau dan Kepulauan Madura.
“Madura sendiri mempunyai kontribusi cukup signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, terutama di perkebunan tembakau dan pengolahannya,” kata Ahmad.
Sementara Fahmi memperkirakan, demand listrik pulau Madura pada tahun 2026 mencapai 260 MW. Dengan proyeksi pertumbuhan per tahun mencapai 5,6%. Pendorong utama pertumbuhan listrik di Madura ada di industri tembakau, baik di perkebunan maupun pengolahannya.
“Untuk perkembangan industri lain, akan terus kita kembangkan bersama pemerintah dan stakeholder terkait,” katanya.

Adapun penjualan listrik semester 1 2025 tercatat sebesar 905,85 GWh dan ditargetkan mencapai 1.782,92 GWH pada akhir tahun 2025. Jika dihitung hanya rasio elektrifikasi pelanggan PLN sebesar 97,83% , namun jika ditambahkan dengan pelanggan di luar PLN baik swasta maupun swadaya, maka rasio elektrifikasi total mencapai 98,21%.
“Kami terus berkoordinasi dengan PLN Pusat dan stakeholder untuk menyelesaikan rasio elektrifikasi terutama untuk ketersediaan pembangkit di pulau terpencil,” katanya.
Memang di dalam RUPTL 2025-2034, PLN akan membangun GI beserta transmisi di sisi utara Pulau Madura, yaitu GI Tanjung Bumi dan GI Batu Marmar. Selain itu rencananya ada penambahan kapasitas pembangkit di kepulauan berbasis energi terbarukan yang tersebar di beberapa pulau di Sumenep. Salah satu yang terungkap di Madura akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) baru yang memanfaatkan gas dari sejumlah KKKS penghasil migas yang ada di wilayah Madura.
”Proyek tersebut masih dibahas di PLN Pusat,” kata Fahmi.
Di Madura juga tengah dijajaki proyek pembangkit listrik tenaga angin/bayu. Hingga kini untuk pembangkit tenaga angin masih belum ditentukan tempat yang pasti.
“Masih akan dilakukan observasi dan pengecekan untuk menentukan lokasi optimalnya,” ujarnya.
Kerawanan Sosial
Di sisi lain, memang banyak tantangan dan hambatan utama dalam pengembangan proyek kelistrikan di wilayah Madura. Selain faktor geografis, kata Fahmi, resistensi dari pemilik lahan pembangunan jaringan listrik di beberapa titik, sehingga secara overall menyebabkan pekerjaan keseluruhan tertunda.
“Untuk itu kami perlu sinergi dengan stakeholder setempat untuk menyelesaikannya,” ujarnya.

Lantaran itu, terkait aspek pengamanan aset-aset kelistrikan, Agustus 2025 PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) berkolaborasi dengan kepolisian Sektor (Polsek) Kamal dengan menggelar kegiatan Security Awareness dan Refreshment Pengamanan dengan tema Meningkatkan Kesadaran Keamanan di Lingkungan Gardu Induk. Kegiatan ini dikhususkan untuk meningkatkan keterampilan (upskilling) para personel Satuan Pengamanan (Satpam) yang bertugas di wilayah Objek Vital Nasional (Obvitnas) berupa Gardu Induk di Pulau Madura.
PLN UIT JBM memang memberi perhatian lebih terhadap kontinuitas penyaluran tenaga listrik bagi Pulau Madura, terutama pasca diselenggarakannya Forum Multistakeholder Madura yang khusus digelar PLN Grup Jawa Timur, Jumat (25/7/2025). Aset-aset kelistrikan milik PLN di wilayah Madura memang kerap kali berhadapan dengan kondisi kerawanan sosial.
Saat ini, terdapat enam Gardu Induk yang tersebar di Pulau Madura yang notabene membutuhkan penjagaan oleh Satpam selama 24 jam penuh. Untuk itu, dibutuhkan keterampilan ekstra bagi personel garda terdepan seperti Satpam untuk mampu menghadapi situasi tertentu yang tidak diinginkan.
General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja menegaskan, pentingnya pengamanan pada peralatan operasional PLN dalam menyalurkan tenaga listrik.
“Penjagaan dan pengamanan optimal di Gardu Induk akan mencegah potensi gangguan pada sistem kelistrikan, memastikan pasokan listrik tetap terjaga dan tidak terputus, yang sangat penting untuk berbagai aktivitas masyarakat dan sektor industri,” kata Ika.
Yang pasti melalui sinergi dan komitmen bersama, PLN terus berupaya meghadirkan energi berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia tak terkecuali warga di wilayah Madura. Hal ini sekaligus sebagai bentuk dukunagn transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan dengan meratakan kehadiran nyala listrik di pulau-pulau terpencil tersebut. Semoga. agung kusdyanto





