Tekan Kasus Korsleting Listrik, Schneider Electric Pelopori Gerakan Listrik Aman

oleh -42 views
Kegiatan pelatihan instalasi listrik hunian digelar Schneider Electric Dalam rangkaian Innovation Day for Electrician 2025 . (Dok Schneider Electric )

Korsleting listrik mungkin terdengar seperti masalah kecil, tapi kenyataannya bisa jadi sangat berbahaya.Ketika arus listrik mengalir tidak terkendali, bisa menyebabkan panas berlebih. Bahkan menyebabkan kebakaran, merusak rumah, peralatan, dan yang paling penting keselamatan kita. Banyak faktor yang bisa memicu korsleting listrik, seperti kabel usang, instalasi yang salah, atau perangkat listrik yang tidak terawat.

Bahkan kasus-kasus kebakaran rumah khususnya di kota- kota besar ternyata kebanyakan akibat korsleting listrik. Seperti Kota Surabaya mengutip data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) pada periode Januari hingga Oktober 2024 telah terjadi 321 kasus kebakaran. Dari kasus kebakaran tersebut terbanyak akibat korsleting listrik. Kasus sama juga di Jakarta. Berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Provinsi DKI Jakarta menunjukkan lebih dari 60% kebakaran bangunan di Jakarta disebabkan masalah kelistrikan.

Melihat fenomena kasus kebakaran rumah di perkotaan di atas, Schneider Electric sebagai pemain global dalam transformasi digital untuk pengelolaan energi dan otomasi mengambil inisiatif dengan menggelar Innovation Day for Electrician 2025 di Jakarta, beberapa waktu lalu. Acara ini bertujuan meningkatkan kompetensi teknis instalatur listrik sekaligus mendorong adopsi standar keamanan dan keselamatan kelistrikan di sektor hunian Indonesia. Inisiatif ini menjadi bagian integral dari kampanye nasional Gerakan Listrik Aman yang diinisiasi Schneider Electric.

Fokus gerakan ini juga edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan kelistrikan sejak dari instalasi. Kegiatan ini juga selaras dengan agenda strategis pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hunian layak melalui percepatan pembangunan tiga juta unit rumah. Namun, upaya ini tidak dapat dipisahkan begitu saja dari pentingnya memastikan aspek keselamatan bangunan, khususnya terkait instalasi kelistrikan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman P. Hutajulu juga mengakui, listrik menjadi faktor utama penyebab kebakaran di area perumahan. Lantaran itu, harus menjadi perhatian bersama untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam penerapan keselamatan ketenagalistrikan pada level rumah tangga.

“Salah satu perangkat pengamanan yang sangat penting adalah Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS) atau anti setrum, yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap bahaya arus sisa dan dapat mencegah kecelakaan maupun kerusakan peralatan elektronik,” kata Jisman.

Lantaran itu, lanjut Jisman, sebagai langkah awal pemerintah bakal terus melakukan sosialisasi secara masif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemilik instalasi akan pentingnya penerapan GPAS, dengan fokus utama pada pasar, gedung pemerintahan, dan pengembang perumahan.

“Kami berharap upaya ini dapat mengurangi angka kecelakaan serta kerugian materiil akibat risiko kelistrikan,” tandas Jisman.

President Director Schneider Electric Indonesia & TimorLeste, Martin Setiawan saat memberikan paparan Gerakan Listrik Aman (dok.Schneider Electric)

Hal senada dikatakan President Director Schneider Electric Indonesia & TimorLeste, Martin Setiawan. Ia menegaskan, keselamatan kelistrikan dimulai dari instalasi yang benar dan sesuai standar. Lantaran itu, melalui pelatihan ini ingin memastikan para instalatur listrik memahami secara mendalam pentingnya penggunaan perangkat proteksi kelistrikan seperti GPAS yang dapat mencegah sengatan listrik dan kebakaran.

“GPAS bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi menyangkut perlindungan nyawa dan aset masyarakat. Karena itu, membekali para instalatur dengan pengetahuan teknis yang tepat menjadi prioritas kami agar mereka bisa menjadi agen perubahan dalam menciptakan sistem kelistrikan hunian yang aman dan andal,” jelas Martin dalam siaran pers yang diterima Global Energi..

Ini mengingat instalatur listrik menjadi garda depan yang krusial untuk memastikan instalasi rumah baru mengikuti praktik terbaik dalam keselamatan kelistrikan. Salah satunya dengan penerapan GPAS sebagaimana direkomendasikan dalam Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2020 yang merupakan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang menetapkan standar untuk pemasangan instalasi listrik tegangan rendah, meliputi desain, pemasangan, dan verifikasi. Serta Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2021 tentang Standardisasi di Bidang Ketenagalistrikan dan Pembubuhan Tanda Standar Nasional Indonesia dan/atau Tanda Keselamatan

Ia juga berharap, masyarakat sendiri juga harus memahami penggunaan perangkat proteksi kelistrikan yang tepat dan aman, seperti GPAS yang juga dikenal sebagai Residual Current Circuit Breaker (RCCB) atau Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB). Pasalanya, alat ini mampu mendeteksi dan memutus arus bocor secara otomatis guna mencegah sengatan listrik dan kebakaran.

Schneider Electric sendiroi telah menghadirkan GPAS atau RCCB Domae sebagai solusi proteksi kelistrikan yang ideal untuk sektor hunian seperti rumah dan apartemen. Dimana Domae tersedia dalam dua varian sensitivitas, yaitu 30 mA untuk membantu melindungi manusia dari risiko sengatan listrik, serta 300 mA yang dirancang untuk membantu mencegah potensi bahaya kebakaran akibat arus sisa. Produk-produk proteksi kelistrikan yang ditawarkan Schneider Electric telah memenuhi standar keamanan dan memiliki kualitas tinggi guna mendukung terciptanya Rumah Nyaman, Listrik Aman.

Rekor MURI

Dalam rangkaian Innovation Day for Electrician 2025 ini, Schneider Electric juga menggelar pelatihan instalasi listrik hunian secara serentak di 10 kota besar/provinsi: Jakarta, Bandung, Surabaya, DI Yogyakarta, Medan, Semarang, Makassar, Bali, Pekanbaru, dan Kalimantan Timur secara daring dan luring. Pelatihan ini diikuti lebih dari 7.800 peserta dari 15 asosiasi dan komunitas instalatur listrik. Pelatihan bersertifikat ini tercatat yang terbesar di bidang instalasi listrik hunian di Indonesia, sehingga berhasil mencetak rekor MURI dengan predikat “Pelatihan Instalatur Listrik Dengan Peserta Terbanyak”.

Senior Customer Relations Manager MURI Andre Purwandono, S.S. mengatakan, pemecahan rekor ini bukan sekadar pencapaian kuantitatif, tetapi simbol kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui edukasi teknis dan pemanfaatan teknologi proteksi listrik.

“Ini adalah upaya kolektif tentang pentingnya keselamatan sebagai pilar pembangunan. Rekor yang diraih oleh Schneider Electric Indonesia ini juga merupakan yang pertama kali tercatat dalam sejarah MURI untuk kategori pelatihan instalatur listrik dengan peserta terbanyak secara serentak di berbagai kota,” katanya.agk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.