JAKARTA I GlobalEnergi.co – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara beroperasi pada Desember 2026.
Pembangkit tersebut diupayakan untuk menyambut lonjakan kebutuhan pasokan listrik Sumatra bagian utara menjelang libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 atau Nataru. Adapun saat ini waduk PLTA Batang Toru mulai digenangi.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, kehadiran PLTA Batang Toru mendesak.Kebutuhan listrik biasanya melonjak saat Nataru, sementara cadangan operasional sistem kelistrikan Sumateramasih tipis.
“Cadangan operasional hanya 4%. Idealnya kan sekitar 15 sampai 20%,” ungkap Yuliot melalui keterangan resmi dikutip Minggu (11/10/2026).
Berdasarkan data PT PLN (Persero) sistem Sumatera bagian utara saat ini masih ditopang pasokan dari Sumatra bagian selatan melalui jaringan transmisi. Dengan pertumbuhan beban Sumatra Utara sekitar 100-120 MW per tahun, tambahan 510 MW dari Batang Toru dapat menopang kebutuhan provinsi itu hingga empat sampai lima tahun ke depan.
Yuliot menjelaskan, penggenangan menjadi syarat untuk menguji seluruh fasilitas pembangkit, mulai dari powerhouse, ketinggian genangan sesuai target, hingga penyaluran daya ke jaringan transmisi.
“Jadi, tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini,” ujar Yuliot.
Dia mengatakan, seluruh kegiatan penggenangan pada waduk PLTA Batang Toru dilakukan percepatan pada kuartal IV/2026, disertai uji coba seluruh instrumen selama dua pekan. Setelah itu, pembangkit akan diuji untuk masuk ke jaringan PLN sebelum resmi beroperasi.
“Dari Kementerian ESDM tinggal memastikan bisa berjalan baik. Kalau sudah berjalan dengan baik, kita akan menerbitkan sertifikat laik operasi,” kata Yuliot.
Penggenangan dapat dilaksanakan setelah seluruh persoalan administrasi diselesaikan, termasuk kewajiban kepada Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH dan Kementerian Kehutanan. Penyelesaian tersebut dikawal bersama oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, Kementerian Kehutanan, dan Kejaksaan Agung, sebagai wujud dukungan lintas kementerian/lembaga terhadap ketahanan energi dalam Asta Cita Presiden.
PLTA Batang Toru juga diandalkan karena pasokan airnya stabil. Hulu sungainya terhubung dengan Danau Toba, sehingga di tengah kondisi El Nino, sumber airnya dinilai lebih dari cukup dibandingkan PLTA lain Proyek strategis nasional (PSN) senilai Rp21,6 triliun ini terdiri atas empat unit pembangkit masing-masing 127,5 MW.
Pengembangnya, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), telah menyiapkan kajian pengembangan tahap kedua berkapasitas 160 MW. Yuliot memastikan sebagian besar pekerja proyek merupakan tenaga lokal, dan peralatan dalam negeri dimanfaatkan sejauh memungkinkan.jef





