JAKARTA I GlobalEnergi.co – PT Pertamina (Persero) menuntaskan restrukturisasi bisnis hilir tahap kedua melalui penggabungan PT Pertamina Energy Terminal (PET) ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN) yang ditujukan untuk memperkuat integrasi bisnis sekaligus mengoptimalkan rantai nilai dan efisiensi operasional. Penggabungan tersebut berlaku efektif pada 1 September 2026. PPN menjadi perusahaan penerima penggabungan atau surviving entity sekaligus tetap menjalankan fungsi sebagai Subholding Downstream Pertamina.
Penandatanganan akta penggabungan dilakukan oleh Direktur Utama PPN Mars Ega Legowo Putra dan Direktur Utama PET Bayu Prostiyono. Pada kesempatan yang sama, PPN juga menandatangani Akta Perubahan Anggaran Dasar.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi Pertamina Group yang diarahkan untuk membangun bisnis hilir yang lebih terintegrasi dan kompetitif.
“Apa yang kita tandatangani adalah komitmen bersama untuk membangun bisnis hilir yang tidak hanya terintegrasi secara struktural, tetapi juga andal, kompetitif, dan berkeadilan,” ujar Simon dikutip dari keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).
Menurut Simon, proses transformasi tidak boleh mengganggu operasional bisnis hilir karena pelayanan energi kepada masyarakat tetap menjadi tugas utama Pertamina.
Simon mengatakan, setelah penggabungan berlaku efektif, Pertamina akan memfokuskan langkah pada penataan proses dan organisasi di Subholding Hilir. Optimalisasi rantai nilai, efisiensi biaya operasi, serta sinergi operasional juga akan dilanjutkan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi bisnis hilir tahap kedua setelah Pertamina menyelesaikan restrukturisasi tahap pertama yang berlaku efektif pada 1 Februari 2026.
Pada tahap pertama, restrukturisasi mencakup penggabungan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan 10 SPV anak perusahaan PT Pertamina International Shipping (PIS) ke PPN.
Selain itu, armada kapal captive PIS dialihkan ke PPN. Simon menekankan integrasi pada tahap lanjutan harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing Pertamina.
Dalam kerangka amanat Danantara, Simon mengatakan, transformasi Pertamina diarahkan untuk membentuk BUMN yang lebih adaptif, lincah, dan kompetitif. Karena itu, jajaran Pertamina diminta menjaga konsistensi arah transformasi serta memperjelas peran di lingkungan Subholding Hilir.
“Teruslah mengoptimalkan rantai nilai, efisiensi biaya, dan sinergi operasional sehingga Pertamina benar-benar menjadi perusahaan energi yang fokus, kuat, dan bermartabat,” tegasnya.
Simon menambahkan, selama proses integrasi berlangsung operasional bisnis hilir tetap berjalan penuh untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Pascatanggal efektif, Pertamina memfokuskan langkah pada penataan proses dan organisasi di Subholding Hilir serta melanjutkan optimalisasi rantai nilai (value chain), efisiensi biaya operasi (opex optimization), dan sinergi operasional.agk







