JAKARTA I GlobalEnergi.co – Setelah mengembangkan di Uni Pembangkit Muara Karang dan Rembang, PLN Nusantara Power (PLN NP) melanjutkan pengembangan Hydrogen Refueling Station (HRS) Merah Putih 3.0 di Unit Pembangkitan (UP) Muara Tawar, Bekasi, Jawa Barat. HRS ini terintegrasi dengan Green Hydrogen Plant yang memanfaatkan dukungan PLTS dan energi terbarukan tersertifikasi.
“Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 7,9 ton hidrogen per tahun, dengan sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan internal pembangkit dan surplusnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi di luar pembangkit,” kata Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah dalam siaran pers, Jumat (14/8/2026).
Seperti diketahui, HRS Merah Putih Muara Tawar merupakan kelanjutan dari pengembangan HRS Merah Putih 1.0 di Muara Karang pada 2024 dan HRS Merah Putih 2.0 di Rembang pada 2025. Selain itu, PLN NP mengembangkan Mobile HRS yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan untuk mendukung fleksibilitas pemanfaatan hidrogen.
Rully mengatakan, fasilitas pengisian hidrogen generasi ketiga yang dikembangkan secara internal oleh PLN NP. Fasilitas ini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 70 persen, yang mencakup sejumlah equipment, instalasi, hingga jasa. Tingginya kandungan dalam negeri tersebut menjadi bagian dari upaya PLN NP memperkuat penguasaan teknologi sekaligus kompetensi nasional di bidang hidrogen.
Dikatakan, perjalanan pengembangan HRS Merah Putih merupakan bagian dari langkah PLN NP membangun ekosistem hidrogen secara bertahap, mulai dari pengembangan teknologi hingga pemanfaatannya.
“Melalui ekosistem ini, kita ingin membuktikan bahwa hidrogen bukan sekadar komoditas energi masa depan. Hidrogen dapat menjadi penghubung antara pembangkitan energi bersih, penyimpanan energi, penyediaan listrik, dan mobilitas rendah emisi,” ujar Ruly.
Pengembangan tersebut memungkinkan rantai pemanfaatan hidrogen berlangsung secara terintegrasi, mulai dari produksi menggunakan energi bersih, penyimpanan dan kompresi, hingga pengisian kendaraan. Hidrogen yang dihasilkan juga dapat dikonversi kembali menjadi listrik melalui teknologi fuel cell.
Sementara Direktur Energi Baru Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Ir. Senda Hurmuzan Kanam, M.Sc. mengatakan, pengembangan fasilitas hidrogen seperti HRS Muara Tawar menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan ekosistem hidrogen Indonesia sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Kegiatan hari ini diharapkan dapat mendukung target NZE yang diharapkan pada 2060. Salah satunya melalui pembangunan Green Hydrogen Corridor Jakarta–Karawang–Patimban sepanjang 194 kilometer. HRS Muara Tawar ini akan menjadi salah satu bagian dari koridor tersebut dan diharapkan dapat mendukung pengembangan ekosistem hidrogen, khususnya untuk transportasi,” ujar Senda.
Menurut Senda, pengembangan hidrogen membutuhkan sinergi antara kesiapan teknologi, industri, infrastruktur, pemanfaatan, hingga pasar. Karena itu, kehadiran HRS Muara Tawar menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkuat pengalaman dan kapasitas nasional dalam pengembangan energi hidrogen. agk






