Proses melelahkan 28 tahun akhirnya berbuah. Proyek gas abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu akan mulai berproduksi pada 2029–2030. Digagas sejak 1998 proyek ini sudah melewati enam Presiden. Pelaksanaannya tertunda akibat debat panjang berkait dengan pilihan membangun fasilitas pengolahan di laut (offshore) atau di darat saja (onshore). Di balik investasi jumbo 21 miliar dollar AS yang menghasilkan 1.200 MMSCFD gas serta 35.000 barel minyak per hari, Blok Masela adalah sumber penerimaan besar bagi negara.
Inilah momentum strategis bagi penguatan ketahanan energi nasional sekaligus salah satu pengembangan gas terbesar di Indonesia. Proyek Liquefied Natural Gas (LNG) dengan nilai investasi mencapai Rp300 triliun ini terletak di perairan Laut Arafura. Tak jauh dari Pulau Masela, sekitar 150 kilometer selatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dengan estimasi potensi 3,06 triliun kaki kubik gas dan 119 juta barel kondensat, gas akan diproses menjadi LNG atau gas alam cair. Sebagian dijual ke luar negeri.
Blok Masela berstatus aset negara yang pengelolaannya didasarkan skema kontrak kerja sama migas. IINPEX Masela Ltd. dari Jepang memegang kendali dengan porsi kepemilikan (participating interest) terbesar 65 persen. Sisanya dibagi antara Pertamina Hulu Energi dengan 20 persen saham, dan Petronas Malaysia 15 persen. Komposisi saham ini berubah setelah raksasa energi Shell memutuskan hengkang dari proyek. Pengawasan teknis dan operasionalnya sendiri berada di tangan SKK Migas selaku regulator hulu migas nasional.
INPEX Corporation adalah perusahaan eksplorasi, investasi, serta pengembangan minyak bumi dan gas asal Jepang. Di Indonesia selain berperan di Blok Masela, INPEX juga terlibat di Blok Mahakam dan kelak di Serpang lepas pantai Jawa Timur. Proyek Masela bernilai setara Rp300 triliun hingga Rp330 triliun ini memilih Floating LNG (FLNG), yakni fasilitas pengolahan gas terapung di lepas pantai tanpa perlu membangun kilang darat. Kapasitas produksinya diperkirakan tembus 10,5 juta ton LNG per tahun, ditambah pasokan gas domestik sebesar 1,5 miliar kaki kubik per hari.
Ada tiga masalah utama penyebab lambatnya eksekusi, yakni perdebatan skema kilang gas antara di darat atau di laut; pergantian kepemilikan saham oleh investor (divestasi); serta lamanya proses perizinan dan pembebasan lahan. Apakah kilang dibangun di laut (offshore) menggunakan kapal terapung (FLNG) atau di darat (onshore) di wilayah Kepulauan Tanimbar, Maluku. Akhirnya diputuskan pembangunan di darat agar memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah.
Kendala berikutnya adalah divestasi perusahaan energi Shell yang berencana menarik diri dan menjual hak partisipasinya (participating interest). Akibatnya pemerintah mencari pengganti mitra bagi Inpex (operator utama). Masalah Lahan dan Kawasan Hutan yakni pengalihan fungsi lahan juga butuh waktu tak sebentar agar pembangunan dapat berjalan secara legal. Kendala berikutnya, proses administrasi yang kompleks dan lambatnya pengambilan keputusan di tingkat pemerintah.
Kita lebih dulu punya Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro dan Blora yang sudah lama berproduksi. Namun Blok Masela jauh lebih besar jika dilihat dari nilai investasi, volume cadangan gas, dan nilai proyek keseluruhan. Blok Masela adalah salah satu proyek gas alam cair (LNG) terbesar di Indonesia, sedangkan Blok Cepu adalah ladang penghasil minyak bumi terbesar.
Blok Masela fokus pada produksi gas alam (LNG). Kapasitasnya 9,5 juta ton LNG per tahun dan 150 juta kaki kubik gas per hari untuk industri lokal serta kondensat. Sedangkan Blok Cepu di Jawa Timur dan Jawa Tengah fokus utama menghasilkan minyak bumi dan gas. Kapasitas produksinya lebih dari 200.000 barel minyak per hari, salah satu tambang minyak bumi tertua serta tulang punggung produksi migas utama Indonesia.
Sesungguhnya Indonesia masih kaya cadangan gas dan minyak, semuanya masih menunggu ditemukan dan dieksplorasi. Memang dibutuhkan investasinya selangit yang akan melibatkan perusahaan asing, tetapi penting untuk membuktikan bahwa kita bisa mandiri di bidang migas. Dari Masela inilah kita melangkah menuju swadaya.*






