JAKARTA I GlobalEnergi.co – Indonesia telah membeli minyak mentah sebanyak 770.000 barel dari Rusia. Pembelian itu merupakan yang pertama sejak kesepakatan yang dicapai oleh kedua negara pada April 2026. Indonesia semula disebut akan mengimpor sekitar 150 juta barel minyak mentah dari Negeri Beruang Merah itu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, menuturkan, impor sebanyak 770.000 barel minyak mentah dari Rusia tersebut baru tahap pertama. Proses impor dilakukan melalui badan layanan umum (BLU) Lemigas.
“Sudah kita lakukan [impor] tahap pertama, dilakukan oleh pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas,” ucap Bahlil di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7/2027).
Ia menjelaskan, langkah impor dilakukan lantaran Indonesia tengah membutuhkan pasokan minyak mentah. Hal ini tak lepas dari ketegangan geopolitik global. Bahlil pun mengatakan, Indonesia tidak berpihak kepada negara mana pun. Sebab, Indonesia memiliki azas politik bebas aktif.
“Karena kedaulatan bangsa enggak boleh diintervensi oleh negara lain, kita lagi butuh Indonesia, pemerintah, dalam hal ini menteri ESDM berkepentingan untuk menjaga stok cadangan daripada BBM kita,” imbuh Bahlil.
Ia menegaskan, pemerintah tidak ambil pusing. Artinya, impor bisa dilakukan dari negara mana saja selama tidak melanggar aturan.
“Saya enggak mau pusing mau ambil dari mana, yang penting tidak melanggar aturan, titik,” ujar Bahlil.
Namun, dia belum mau mengungkap lebih detail terkait harga minyak mentah yang dibeli dari Rusia tersebut. Bahlil hanya membocorkan bahwa harga minyak Rusia lebih baik. “Jangan tanya harga lah, yang jelas lebih baik,” kata Bahlil.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 26/2026 yang mengatur pengadaan bahan bakar minyak (BBM). Beleid itu memberikan kewenangan kepada badan usaha dan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) untuk melakukan impor.
Dalam kesempatan terpisah, Bahlil menyebut bahwa pemerintah menargetkan bakal mengimpor minyak mentah sebanyak 150 juta barel minyak mentah dari Negeri Beruang Merah. Dia menuturkan, volume impor masih berpotensi bertambah seiring perkembangan kerja sama kedua negara.
“Volumenya dia itu bisa berkembang lebih banyak lagi ke depan, tapi kontraknya sudah,” katanya ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Dia menjelaskan, kerja sama impor minyak dari Rusia merupakan bagian dari kesepakatan government to government (G2G) yang telah dibangun antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia juga mengaku telah melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Energi Rusia guna memastikan kelanjutan implementasi kerja sama tersebut.
“Kita kan sudah ada deal antara G2G dengan Presiden Putin dan Presiden Prabowo. Dan saya kan sudah juga melakukan komunikasi dengan menteri ESDM Rusia,” ucapnya. jef,bc





