Tak percuma Indonesia disebut ‘serpihan sorga’ yang jatuh ke planet bumi. Kita dikaruniai berlimpah sumber daya alam yang tak akan habis sepanjang usia bumi; sinar matahari, tiupan angin, arus bawah laut, air terjun, bahkan tumpukan sampah. Seluruh keragaman karunia alam itu sangat bisa dikonversi menjadi penggerak mesin peradaban modern. Adakah Negara lain yang sebanding itu?
Kali ini kita sedang berjuang mewujudkannya, memanen sinar matahari melalui ribuan panel surya untuk diubah jadi sumber listrik. Sasaran akhirnya, mengurangi kebergantungan kita terhadap pembangkit listrik penggerak batu bara atau minyak. Yang baru saja diresmikan adalah ladang panel surya terbesar di Purwakarta, Jawa Barat. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ini melengkapi fasilitas sejenis yang sudah beroperasi di PLTS Terapung Cirata juga di Jawa Barat kerjasama dengan Uni Emirat Arab. Kedua PLTS itu ditargetkan memroduksi daya 100 gigawatt (GW). Kita pun sudah memiliki PLTS yang lebih dulu aktif di Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, terhampar di lahan seluas 29 hektare berdaya 21 MWp. Ada lagi PLTS Sei Mangkei di Sumatera Utara kapasitas 2 MWp, dan PLTS Batam di Kepulauan Riau.
Kita punya banyak bentangan luas yang subur sebagai lokasi ladang panel surya, danau-danau, bendungan, lembah, bahkan atol yang terlindung teluk. Selain cahaya matahari, berkah tiupan angin dan arus laut juga bisa ditangkap sebagai sumber energi baru. Potensi energi surya itu setidaknya mencapai 3.295 GW yang hingga saat ini baru termanfaatkan 270 MW. Jangka pendek puluhan gigawatt PLTS terus dibangun. Setiap desa juga didorong memiliki PLTS mandiri berkapasitas sekitar 1 MW.
Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui anak usahanya, PLN Batam bersama PT Aruna Cahaya Pratama (Aruna PV) resmi mengoperasikan PLTS ground-mounted terbesar di Indonesia itu dengan daya keluaran 100 Megawatt peak (MWp). Hamparan panel surya itu berada di Kawasan Industri Kota Bukit Indah (KBI), Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Boleh dikatakan proyek ini tonggak sejarah baru dalam upaya transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Sebagai tulang punggung transisi energi di Tanah Air, PLN berkomitmen mendukung pengembangan sektor industri dalam negeri menggunakan listrik hijau. Setidaknya suplai listrik bersih dari PLTS itu sudah bisa memenuhi kebutuhan listrik di kawasan Industri Kota Bukit Indah. Sudah ada 244 pelanggan dengan beban puncak pada hari kerja berkisar 126 Megawatt (MW). Pada hari libur dan sabtu-minggu turun menjadi 70 MW. Ditambah PLTS yang eksis di Waduk Cirata, provinsi Jawa Barat kini yang terbanyak memanfaatkan tenaga surya.
Namun capaian ini masih ‘secuwil’ bila dibandingkan potensi nasionalnya. Jangan pula buru-buru dibandingkan dengan ladang panel surya terbesar dunia ‘‘Bhadla Solar Park’’ di Rajasthan, India yang berkapasitas 2.245 MW. Panelnya terbentang di atas lahan 14.000 hektar. Terbesar kedua ‘’Huanghe Hydropower Hainan Solar Park’’ berada di Qinghai, Tiongkok berkapasitas 2.200 MW, disusul ‘’Pavagada Solar Park’’ di Karnataka, India berkapasitas 2.050 MW dan ‘’Benban Solar Park’’ di Mesir kapasitas 1.650 MW.
India dan Tiongkok kini memimpin pemanfaatan energi matahari. Tiongkok sudah memanfaatkan hamparan luas Taman Surya Gurun Tengger, yang menghasilkan 1.547 MW. Ladang suryanya seluas 1.200 km² dari total luas Gurun Tengger yang mencapai 36.700 km² . Proyek ini dimiliki China National Grid dan Zhongwei Power Supply Company mulai beroperasi 2017 mampu memasok energi surya untuk lebih dari 600.000 rumah. Tongkok masih menyimpan ladang terbarunya di Datong Top Runner Base yang kelak akan menjadi salah satu terbesar di dunia dalam hal kapasitas mencapai 1,07 GW hingga total 3 GW .
Tak bisa dibantah, sumber listrik sinar surya sangat murah dan efisien. Tidak diperlukan perawatan pembangkit yang jelimet dan boros. Tidak ada risiko meledak atau gagal berfungsi. Pun tidak butuh banyak orang untuk mengawasi dan mengoperasikannya. Yang paling dibutuhkan, komitmen pemerintah mewujudkannya.*





