Meracik Cementing, Mendongkrak Lifting

oleh -5 views
Engineer PT Elnusa Tbk tengah meracik proses cementing di Laboratorium Cementing & Stimulasi di Mundu, Indramayu.GE/Agung Kusdyanto

Mau tak mau kunci utama untuk mengejar produksi migas nasional dengan menggenjot penemuan atau pemboran sumur baru maupun sumur pengembangan. Dan kerapkali dalam kegiatan pemboran di hulu migas itu kegiatan utamanya hanya terpaku pada dua sub bidang utama, yakni aktivitas drilling dan workover (kerja ulang) sumur. Padahal terdapat setidaknya 21 sub bidang pekerjaan lainnya yang tak bisa diremehkan perannya dalam mendongkrak kembali produksi sebuah sumur. Dan salah satu sub bidang terpenting itu adalah cementing.

Betapa tidak, jasa cementing tah boleh dianggap sepele dalam rangkaian kegiatan pemboran dan penyelesaian sumur migas. Cementing bukan hanya pekerjaan pendukung setelah proses drilling, tetapi merupakan bagian fundamental dari well integrity dan keberhasilan suatu sumur dalam jangka panjang.

Lalu apa itu cementing?Cementing sumur migas merupakan proses pemompaan bubur semen khusus ke dalam lubang sumur yang telah dibor untuk mengisi ruang antara casing (pipa baja) dan dinding lubang bor, serta untuk merekatkan casing ke formasi batuan. Tujuannya untuk mengisolasi berbagai lapisan geologi, mencegah kebocoran fluida (air, gas, minyak) antar lapisan, melindungi casing dari korosi dan menjaga stabilitas serta integritas sumur secara keseluruhan. Dengan demikian kesuksesan aktivitas pemboran salah satunya ditentukan oleh pemasukan cementing yang tepat.

Dengan kata lain, jasa cementing sumur migas merupakan salah satu bagian penentu dari keberhasilan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi hulu migas. Dalam proses pemboran sumur baru diperlukan struktur semen yang kuat agar minyak dapat diambil tanpa terhalangi unsur lain, seperti gas maupun air.

Dari sisi produksi, kualitas cementing juga sangat berpengaruh. Cementing yang tidak baik dapat menyebabkan channeling, gas migration, sustained casing pressure, loss of zonal isolation. Bahkan harus dilakukan remedial cementing yang membutuhkan biaya dan waktu tambahan.

Jadi, walaupun cementing tidak secara langsung menghasilkan minyak atau gas, tapi cementing merupakan enabler utama agar sumur dapat dibor, diselesaikan, diproduksikan dan dipertahankan integritasnya dengan aman.

“Cementing bukan sekadar pelengkap, tapi pekerjaan fundamental dan wajib dilakukan dalam kegiatannpemboran di sektor hulu migas,” tandas Direktur Operasional PT Elnusa Tbk Andri Haribowo dalam paparannya di Mundu, Indramayu, Jumat (31/10/2025).

Sebab saat membuat lubang sumur minyak akan ada komunikasi, ada yang isinya air, isinya gas dan isinya minyak.

“Kalau tidak kita semen lewat teknologi cementing ini semua fluida keluar. Air dan gas tadi akan ngeblok minyak, sehingga tidak keluar,” jelas Andri.

Tentu saja, jenis semen yang dimasukkan berbeda dengan jenis semen untuk membangun rumah yang mungkin hanya menerima tekanan di permukaan 14,7 Pound per Square Inch (PSI) dan temperatur 29 – 30 derajat celcius. Namun, untuk sumur di bawah kedalaman 3.000 meter itu tekanan bisa sampai 10.000 PSI, temperatur bisa sampai 300 – 400 derajat celcius.

“Makanya di laboratorium kami punya suatu unit yang secara fisik bisa mengkondisikan membuat situasi dan kondisi bawah tanah itu, sehingga lab kami ini benar-benar teruji bukan hanya pada temperatur ruang ini tapi juga seolah menghadapi temperatur sesungguhnya yang menjadi sebuah keunggulan,” paparnya.

Lalu ada lagi uji kekuatan semen. Setelah semen mengalami keras sempurna, maka akan dilakukan dengan teknologi nondestructive test. Jadi dengan teknologi ultrasonik yang mampu mengidentifikasi setara berapa compressive strenghtnya.

Bahkan, tambah Senior Manager Corporate Communications & Relation PT Elnusa Tbk Jayanty Oktavia Maulina, cementing memegang peran krusial dalam konstruksi dan penjagaan integritas sumur (well integrity) untuk memastikan keselamatan serta keberlanjutan operasi hulu migas. Dalam mendukung target peningkatan produksi minyak nasional hingga 1 juta barel per hari pada 2030, layanan cementing dibutuhkan di seluruh rangkaian aktivitas hulu, mulai dari pemboran sumur baru (drilling), workover, well intervention, hingga optimalisasi sumur eksklusif (existing wells).

“Posisi strategis cementing terlihat dari perannya sebagai multiplier effect serta entry point untuk memperkuat posisi Elnusa sebagai perusahaan penyedia jasa energi terintegrasi,” kata Anty –panggilan karib Jayanty Oktavia Maulina– kepada Global Energi, Selasa (18/8/2026).

Pemerintah sendiri saat ini memang mendorong peningkatan aktivitas eksplorasi, pengembangan dan optimalisasi sumur untuk mendukung target produksi nasional. Ini mengingat produksi minyak bumi nasional saat ini masih berada di kisaran 600.000 barel per hari (BOPD). Realisasi itu masih jauh dari target produksi sedikitnya 1 juta BOPD minyak dan 12.000 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) gas untuk mencapai swasembada energi.

Terlebih sebagian besar aset migas yang ada saat ini merupakan lapangan tua atau mature fields dengan tingkat penurunan produksi alamiah yang tinggi. Kajian ReforMiner menyebutkan, selama periode 2020-2025, rata-rata penurunan produksi minyak alamiah nasional tercatat sekitar 22,3 persen per tahun. Sementara penurunan produksi gas berada pada level 12 persen per tahun.

Lantaran itu, untuk mengejar peningkatan produksi migas membutuhkan sumber pertumbuhan baru. Salah satunya melalui percepatan kegiatan eksplorasi untuk menahan laju penurunan produksi sekaligus menemukan sumber daya baru yang dapat dikonversi menjadi cadangan dan produksi. Tanpa percepatan eksplorasi secara masif, produksi minyak nasional pada 2030 berpotensi berada pada level terendah atau low case, yakni sekitar 580.000-590.000 BOPD atau bahkan lebih rendah.

SKK Migas bersama KKKS menargetkan pemboran awal mengacu WP&B 2026 sebanyak 832 sumur pengembangan dan 39 sumur eksplorasi, yang kemudian diperkuat melalui strategi tambahan target melalui program “Triple 100”. Program ini merupakan strategi ambisius dari SKK Migas untuk menggenjot produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Fokus utamanya mencakup target 100 sumur eksplorasi, penerapan teknologi multi-stage fracturing (MSF) pada 100 titik, serta optimalisasi sumur pengembangan guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Hingga Mei 2026, SKK Migas mencatat sudah ada 63 sumur eksplorasi yang teridentifikasi, sehingga sisa 37 sumur tambahan yang harus dikejar. Kemudian, 52 sumur pengembangan yang sudah teridentifikasi sehingga sisanya 48 sumur, serta 51 kegiatan multi-stage fracturing yang sudah dilakukan sehingga sisanya tinggal 49 kegiatan.

Sementara Elnusa sendiri sepanjang 2025, telah menyelesaikan layanan cementing pada 453 sumur di berbagai wilayah kerja sebagai wujud dukungan terhadap keandalan operasi hulu migas nasional.

Sedangkan hingga semester I 2026 Elnusa melayani jasa cementing sebanyak 121 sumur yang tersebar di berbagai wilayah kerja. Jasa tersebut mencakup jenis pekerjaan primary cementing, remedial/squeeze cementing, cement plug, abandonment, serta dukungan terhadap program workover dan well intervention.

Laboratorium Terintergasi
Untuk menjawab kebutuhan jasa permintaan cementing yang begitu strategis inilah pada Juli 2025 Elnusa meresmikan Laboratorium Cementing & Stimulasi di Mundu, Indramayu. Global Energi, pada 30 Oktober tahun lalu berkesempatan mengunjungi langsung ke fasilitas tergolong modern dan lengkap untuk memberikan layanan terbaik dari primary cementing hingga formulasi slurry yang presisi Integrated tersebut.

Fungsi laboratorium Cementing & Stimulasi di Mundu ini tidak hanya untuk mendukung pengujian teknis, tetapi juga sebagai pusat riset dan pengembangan formula slurry cementing dan stimulasi. Seluruh kegiatan dirancang untuk menjawab kebutuhan operasional di berbagai karakteristik lapangan migas, khususnya di wilayah barat Indonesia. Inovasi yang dihasilkan diyakini akan memperkuat daya saing Elnusa dan mendukung keberhasilan operasi para mitra strategis seperti Pertamina.

Tak hanya di Mundu, Elnusa memiliki Fasilitas Integrated Supporting Base (ISB) lain yang tersebar di wilayah strategis seperti Balikpapan, Cakung, Kalitidu, Duri, dan BSD. Seluruh fasilitas ini terhubung dalam sistem logistik terpusat untuk menjamin efisiensi distribusi material ke seluruh area operasi.

Selain itu, modernisasi dilakukan secara berkelanjutan melalui penambahan armada Cementing Unit generasi baru yang mengintegrasikan keandalan peralatan, otomatisasi, akurasi pengukuran, serta pemantauan data secara real-time.

“Pembaruan aset ini dirancang untuk meningkatkan fleksibilitas kapasitas pompa, efisiensi material dan bahan bakar, standar HSSE, serta mendukung pekerjaan pada beragam tingkat tekanan dan laju alir,” jelas Anty.

Semen Slurry Merah Putih sebagai inovasi produk semen khusus untuk pengeboran sumur migas yang dikembangkan PT Elnusa Tbk

Dikuasai Asing
Tak berhenti sampai di situ, anak perusahaan Pertamina Hulu Energi ini akan terus mengembangkan kemampuan para pekerja Elnusa untuk menggarap bisnis cementing. Salah satunya lewat Program Cementing School dikembangkan secara terintegrasi dengan Laboratorium Cementing & Stimulasi Modern di ISB Mundu dan Balikpapan. Harapan lewat program ini bisa mencetak tenaga ahli yang kompeten secara end-to-end.

“Dimana Elnusa merekrut sumber daya manusia dari berbagai perguruan tinggi terbaik untuk dididik dan siap menjadi cementing engineer,” kata Anty.

Dengan langkah tersebut, Elnusa optimistis mampu memperkuat perannya sebagai penyedia jasa cementing nasional yang kompetitif, sekaligus mendukung upaya Pertamina meningkatkan produksi migas dalam negeri.
Ini mengingat sampai saat ini bisnis cementing sumur di Indonesia masih dikuasai perusahaan jasa energi global, seperti Schlumberger dan Baker Hughes. Dominasi perusahaan jasa energi global ini lantaran didukung oleh keunggulan sejarah operasional, ekosistem teknologi, armada peralatan, serta portofolio riset jangka panjang.

Meski demikian, klaim Anty, perusahaan nasional memiliki keunggulan kompetitif. Di antaranya berupa pemahaman mendalam terhadap karakteristik lapangan di Indonesia, fleksibilitas operasional, dukungan lokal, serta pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Prospek Pasar
Dari sisi bisnis, Andri sempat berujar, Elnusa mencatat penguasaan pasar (market share) cementing nasional sekitar 13%, dengan potensi peningkatan hingga 20% pada 2026. Target kenaikan ini didorong oleh penambahan dua unit cementing baru dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

“Di akhir tahun 2025 akan datang dua unit cementing baru yang bisa digunakan untuk operasi darat dan lepas pantai,” ungkapnya.

Untuk itu, strategi yang akan dijalan Elnusa dalam merebut pasar di antaranya, penguatan bisnis cementing dijalankan melalui tiga fondasi utama, yakni pengembangan sumber daya manusia (people), keandalan peralatan (equipment), dan penguasaan teknologi .

Sedangkan strategi pasar berfokus pada penguatan posisi di lingkungan Pertamina Group sekaligus memperluas penetrasi ke sektor eksternal, dengan prinsip dasar memperkuat kapabilitas domestik terlebih dahulu sebelum menjajaki peluang regional di Asia Tenggara.

Pilihan pasar Elnusa tak salah. Ini mengingat PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding hulu PT Pertamina (Persero) mengelola sekitar 27% wilayah kerja minyak dan gas bumi (WK migas) di Indonesia. Guna memperkuat strategi peningkatan produksi migas nasional pada 2026, PHE merencanakan berbagai program startegis. Di antaranya melakukan pemboran 16 sumur eksplorasi dan sekitar 800 sumur eksploitasi. Selain itu, kegiatan pemeliharaan sumur melalui workover ditargetkan mencapai 1.284 pekerjaan sepanjang tahun.

PHE juga merencanakan survei seismik dua dimensi sepanjang 904 kilometer serta survei seismik tiga dimensi seluas sekitar 1.660 kilometer persegi untuk mendukung identifikasi potensi sumber daya baru. PHE juga menargetkan kegiatan well intervention well service atau WIWS hingga sekitar 33.000 pekerjaan. Kegiatan ini bertujuan menjaga produktivitas sumur yang telah beroperasi serta meningkatkan efisiensi produksi migas.

Direktur Pengembangan Usaha Elnusa, Arief Prasetyo Handoyo menambahkan, dalam segmen jasa hulu migas terintegrasi, Elnusa juga terus memperkuat perannya dalam mendukung eksplorasi dan produksi migas nasional. Hingga Semester I 2026, Elnusa menyelesaikan akuisisi data seismik 3D seluas 1.757 SqKm dan survei 2D sepanjang 193 km, didukung layanan wireline logging pada 662 sumur, well testing pada 3.855 sumur, Coiled Tubing Services (CTS) pada 289 sumur, cementing 121 sumur, Hydraulic Workover Unit (HWU) pada 112 sumur, serta dukungan Modular Rig untuk pengeboran di Pertamina Hulu Sanga-Sanga.

Perkembangan Teknologi
Secara terpisah, Ketua Bidang Jasa Pekerjaan Cementing Simulasi Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas dan Panas Bumi Indonesia (APMI) Ridwan Syarif melihat, teknologi cementing yang diterapkan perusahaan jasa cementing sudah berkembang cukup signifikan. Perkembangannya tidak hanya pada peralatan, tetapi juga pada desain slurry, aditif, software, monitoring dan metode eksekusi.

“Saat ini cementing sudah bergerak dari sekadar memompakan semen ke annulus tapi menjadi sebuah pekerjaan yang membutuhkan engineering dan analisis data,” kata Ridwan kepada Global Energi, Kamis (14/8/2026).

Beberapa perkembangan teknologinya antara lain, penggunaan berbagai aditif untuk menghadapi kondisi sumur yang semakin kompleks, seperti temperatur tinggi, tingginya tekanan, hilang sirkulasi, gas migrasi, CO₂/H₂S environment, jendela tekanan sempit, sumur dalam dan sumur dengan tekanan tinggi dan suhu tinggi. Dengan demikian keputusan tidak hanya berdasarkan pengalaman lapangan tetapi juga berdasarkan engineering calculation.

Perkembangan equipment memungkinkan parameter pumping dimonitor secara lebih detail selama pekerjaan, seperti kecepatan, tekanan, volume, density serta parameter pencampuran. Data tersebut dapat digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap keberhasilan pekerjaan.

Perkembangan teknologi juga terjadi pada remedial cementing. Hal ini penting karena semakin banyak sumur mature/aging, maka kebutuhan untuk restoring zonal isolation atau memulihkan atau mengembalikan kemampuan penyekatan antar-lapisan (zona) batuan di dalam sumur bor dan improving bonding atau usaha untuk memperbaiki atau memperkuat ikatan (bonding) antara semen, pipa selubung (casing), dan formasi batuan di dalam sumur juga semakin besar.

“Bahkan secara global, remedial cementing dipandang sebagai salah satu segmen yang memiliki peluang pertumbuhan karena meningkatnya kebutuhan repair dan enhancement pada sumur yang sudah berumur,” tandas Ridwan.

Ia juga melihat, pasar cementing di Indonesia cukup besar. Ini seiring pemerintah yang tengah mendorong peningkatan produksi nasional, eksplorasi wilayah baru,. pengembangan lapangan, reaktivasi sumur idle, workover dan well intervention, peningkatan recovery dari lapangan existing.

Bahkan di tahun 2026 Kementerian ESDM menyebutkan adanya 110 area potensial wilayah kerja (WK) migas baru dan mendorong eksplorasi serta reaktivasi sumur tua. Selain itu, pemerintah juga telah menawarkan 118 potensi wilayah kerja migas baru, dengan sebagian sudah diminati atau masuk tahap studi bersama. Dari sisi investasi, realisasi investasi subsektor migas Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 18,02 miliar dollar AS.

“Ini menunjukkan subsektor ini masih mempunyai nilai ekonomi yang besar,” ujarnya.

Bagi Ridwan, prospek cementing di masa depan bukan hanya pada primary cementing untuk drilling, tetapi juga remedial cementing; squeeze cementing; P&A, well integrity; re-entry; workover; mature field; gas well, offshore cementing hingga specialty cementing.

“Jadi, pasar cementing tidak hanya bergantung pada jumlah sumur baru, tetapi juga pada lifecycle sumur,” tandasnya.

Kalapun bisnis cementing sumur di Indonesia masih dikuasai perusahaan jasa energi asing, itu semata-mata karena perusahaan nasional tidak mampu, tetapi karena perusahaan seperti SLB, Halliburton dan Baker Hughes mempunyai technical experience, technology, global reference dan integrated service capability yang sudah dibangun selama puluhan tahun.

Keungulan pertama, perusahaan global memiliki database dari berbagai jenis sumur dan kondisi formasi di berbagai negara. Hal ini menjadi keunggulan ketika menghadapi pekerjaan yang kompleks.

Kedua, perusahan global memiliki engineering capability. Cementing modern membutuhkan kapasitas kemampuan dari mulai lab testing, slurry design, simulation, eksekusi hingga post-job evaluation.

“Perusahaan yang memiliki seluruh capability tersebut akan lebih mudah dipercaya untuk pekerjaan dengan risiko tinggi,” katanya.

Ketiga, cementing membutuhkan investasi equipment yang cukup besar, seperti cementing unit; bulk cement system; mixing system; high-pressure pumping system; laboratory equipment; data acquisition system; supporting equipment.

Keempat, terkait track record dan kualifikasi. Operator migas biasanya sangat memperhatikan HSE performance, technical qualification, equipment reliability, personnel competency, previous experience, quality assurance.

Kelima, terkait servis yang terintegrasi. Perusahaan global juga dapat menawarkan beberapa layanan sekaligus, sehingga mempunyaiposisi yang kuat dalam tender dan integrated project.

Namun, kondisi ini bukan berarti perusahaan nasional tidak memiliki peluang. Justru pemerintah saat ini mendorong kemandirian industri hulu migas, peningkatan TKDN dan penguatan kemampuan nasional.
Bahkan Ditjen Migas pada 2026 sedang mendorong standardisasi teknis peralatan pengeboran nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Lantaran itu, strategi perusahaan nasional harus bergeser dari sekadar menjadi penyedia jasa local (local service provider) menjadi perusahaan penyedia jasa yang berbasis teknologi (technology-based service company).

Dengan kata lain tantangan perusahaan nasional bukan hanya bagaimana menyediakan perangkat cementing, tetapi bagaimana membangun teknologi, kapasitas rekayasa (engineering capability), sumber daya manusia yang kompeten dan track record, sehingga mampu bersaing dengan perusahaan global.

“Kompetisinya ke depan seharusnya bukan hanya price competition, tetapi kemampuan teknologi, reliabilitas, HSE serta ability to deliver,” tutup Ridwan. agung kusdyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.