PLN Pacu Sebaran ‘Electrifying Agriculture’ di Jatim

oleh -90 views

SURABAYA I GlobalEnergi.co – Sektor agrikultur kini tengah menjadi salah satu penyokong bangkitnya perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Terkait hal tersebut, PLN turut berkontribusi dalam penguatan sektor agrikultur khususnya di Jawa Timur.

Hingga Mei lalu, PLN telah melistriki sebanyak 11.558 pelanggan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, hingga sektor pengolahan produk hasil pertanian dengan total daya tersambung adalah 49,39 MVA.

Sementara, total proyeksi penambahan sektor agrikultur hingga Desember 2021 sebanyak 2.153 pelanggan dengan daya sebesar 24,78 MVA.

Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madiun menjadi unit dengan jumlah pelanggan sektor agrikultur terbanyak yakni 38.363 pelanggan hingga Mei 2021. Pelanggan tersebut menggeluti bidang perikanan, perkebunan, pertanian dan peternakan.

Posisi kedua, UP3 Ponorogo dengan jumlah pelanggan 2.343 yang notabene berasal dari pertanian, pembibitan dan budidaya perikanan, budidaya ternak, perkebunan hingga hortikultura sayur ataupun buah.

Guna mendukung pengembangan sektor pertanian, PLN UID Jawa Timur memiliki program KUR Electrifying Agriculture, yakni Kredit Usaha Rakyat bekerjasama dengan Bank Mandiri. Program ini ditujukan untuk pelanggan PLN dalam rangka mendukung program layanan penyambungan tenaga listrik untuk sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan serta tidak terbatas pada jenis usaha pengelolaan irigasi, penggilingan padi, budidaya buah naga, budidaya hewan ternak dan perikanan.

Produk dan layanan sambungan tegangan rendah memberikan penyediaan listrik untuk lahan pertanian dan smart system untuk agriculture, smart agriculture hingga Mei 2021 diikuti sebanyak 8.463 pelanggan dengan daya 33.421.700 VA.

Wisata Petik
Kemudahan-kemudahan layanan diberikan PLN melalui program “LISTRIK UNTUK SANG NAGA”. Sebagai bentuk Electrifying Agriculture, elektrifikasi buah naga telah mendorong peningkatan perekonomian petani karena panen dapat dilakukan sepanjang tahun, dimana untuk 1 hektar lahan dengan penyinaran dapat menghasilkan buah naga sebanyak 77 ton tiap tahunnya dengan harga per kilo berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 30.000. Tercatat sekitar 1.362 hektare lahan buah naga yang tersebar di daerah Pesanggaran, Siliragung, Tegaldlimo, Bangunrejo dan Purwoharjo sudah teraliri listrik.

Dengan elektrifikasi PLN ini, wisata petik pertama kali di Banyuwangi tercetuskan. Agro Wisata Petik Jeruk dan Naga Listrik yang menyuguhkan pertanian buah naga disinari lampu-lampu LED yang terletak di Pesanggaran, selatan Banyuwangi menjadi daya tarik tersendiri.

Pengunjung dapat menikmati sensasi berkunjung ke ladang buah naga sambil memetik sendiri buah naga maupun jeruk yang ada di area wisata yang dikelola oleh Paguyuban Sekar Arum Naga ini. Menariknya, pada malam hari pengunjung dapat merasakan pengalaman untuk mengawinkan buah naga secara langsung.

Dihiasi lampu-lampu yang cantik, wisatawan juga bisa berfoto di ladang cahaya dari atas ketinggian spot foto yang disediakan di tempat ini. Letaknya yang strategis, dekat dengan icon wisata Banyuwangi yang sudah mendunia yakni Pulau Merah dan Green Bay, membuat tempat ini sayang untuk dilewatkan.

Terhitung sudah lebih dari 30 tenaga kerja tetap yang diserap hingga pertengahan tahun 2021. Sementara jumlah pengunjung sekitar 4000 wisatawan baik lokal maupun domestik dari khalayak umum, public figure, maupun tokoh penting masyarakat.

“Sejak PLN Peduli hadir membersamai petani buah naga, wisata petik buah naga dan jeruk ini menjadi lebih dikenal masyarakat luas. Tak jarang pengunjung yang sebelumnya hanya sekedar lewat untuk berwisata ke Pulau Merah, justru mampir ke agro wisata ini,” terang Nanang, penggerak wisata petik buah naga dalam rilisnya, Rabu (30/6/2021).agk

natarianto

Tentang Penulis: Agung Kusdyanto

Gambar Gravatar
Menulis berita energi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *