Kegalauan Investor Energi (Edisi 115 Juni 2021)

oleh -551 views
Proyek hulu migas sangat menggiurkan di tahun 2021. (liputan6.com)


Beberapa tahun terakhir ini, promosi dan sosialisasi Energi Baru Terbarukan (EBT) terus gencar dilakukan. Baik oleh pemerintah dan asosiasi hingga korporasi. Praktis tiap hari ada saja kegiatan pemaparan dan diskusi tentang EBT. Seakan akan besok EBT itu sudah tersedia dengan cukup, diperoleh dengan mudah, di tingkat harga wajar dan terjangkau pula. Padahal , EBT sendiri bukan hal yang baru dinegeri ini. Lihatlah Pembangkit Listrik Tenaga Air Jatiluhur dan Pembangkit Listrik Panas Bumi Kamojang misalnya, Pembangkit EBT itu sudah cukup lama dibangun di Indonesia.

Hanya saja sekarang menjadi marak, karena di negara maju seperti dibanyak negara Eropa, sedang sangat gencar mengembangkan EBT dengan target “zero emission” di beberapa kota tertentu dalam jangka menengah mendatang ini. Indonesia sendiri juga menetapkan target, tapi lebih moderat, yaitu sebesar 23 % dalam bauran energi nasional di tahun 2025 dan 31 % di tahun 2050.

Karena pencapaian sampai tahun 2020 baru mencapai 11,20 %, maka terkesan seperti jadi kalang kabutlah untuk mengejar target yang hanya tinggal 4 tahun lagi itu. Maka dimana mana orang bicara EBT, ramai ramai mulai pakai solar cell , beroperasinya beberapa pembangkit tenaga angin, ada mobil listrik, ada bioenergy. Tapi kalau dihitung semuanya, jumlah energi yang dipasok berapa? Peran EBT itu masihlah sangat kecil, dan peran energi fosil masih sangatlah besar.

Lalu apa persoalannya? Ternyata hingar bingarnya EBT itu, telah berdampak pada iklim investasi energi fosil. Investor jadi berfikir fikir untuk bangun kilang minyak, begitu juga pada investasi di midstream dan downstream seperti membangun fasilitas transportasi, penimbunan dan penyalur seperti SPBU. Ketakutan pada tidak kembali nya nilai investasi, karena EBT yang akan segera datang itu, menyebabkan investor galau, ragu dan tidak tertarik ber investasi lagi di energi fosil. Kondisi ini sangat berbahaya dalam penyediaan energi nasional. Bayangkan sampai saat ini masih setengah dari jumlah kecamatan yang ada belum lagi ada fasilitas layanan bbm. Masih banyak lagi infrastruktur migas yang harus dibangun didaerah.

Padahal jelas sekali , Indonesia menganut konsep bauran energi. Artinya semua sumber daya energi yang ada di bumi Indonesia, harus dikembangkan dan diperuntukkan untuk membangun kemandirian energi dan ketahanan energi nasional. Itu sebabnya, bauran energi nasional pada tahun 2025, di targetkan EBT sebesar 23%, gas bumi sebesar 22%, minyak bumi sebesar 25%, dan batubara sebesar 30%. Sedangkan pada tahun 2050 target tersebut menjadi 31% dari EBT, batubara 25%, gas bumi 24% dan minyak bumi 20%. Terlihat disini, ternyata kebutuhan energi fosil masih sangat besar, kalaupun hendak digantikan dengan EBT, sudah barang tentu tidak bisa seketika ,tetap saja akan memakan waktu yang panjang.

Apalagi pada tahun 2020 saja, bauran EBT baru mencapai sebesar 11,20%, sehingga kekurangannya diisi oleh gas bumi sebesar 19,16%, minyak bumi sebesar 31,60%, dan batubara sebesar 38,04%. Informasi seperti ini haruslah dibuka lebar-lebar, agar masyarakat investor bisa membayangkan betapa besar upaya yang masih diperlukan untuk menyediakan dan mendistribusikan energi fosil itu ke seluruh pelosok negeri.

Dengan realisasi EBT hingga tahun 2020 masih 11,20%, sulitlah rasanya mencapai target 23% pada tahun 2025, yang tinggal 4 tahun lagi itu. Kalau itu tidak tercapai, sudah pasti minyak, gas dan batubara yang akan mendapat tugas memikulnya lebih berat lagi, harus lebih besar dari target semula. Kejelasan informasi seperti ini sangatlah diperlukanh Investor energi fosil, agar tidak galau dan selanjutnya secara baik bisa mengatur perubahan portfolio investasinya di sektor energi@.*

natarianto

Tentang Penulis: Agung Kusdyanto

Gambar Gravatar
Menulis berita energi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *